Menuju Kepemimpinan Efektif

Management is to get things done through and with other people.

Kepemimpinan efektif adalah keterampilan manajerial dalam pelaksanaan pekerjaan bersama atau melalui orang lain.

Seorang pemimpin diharapkan memiliki kecakapan teknis maupun manajerial yang profesional. Kecakapan teknis sesuai dengan bidangnya sedang kecakapan manajerial menuntut perannya dalam memimpin orang lain. Keterampilan tersebut terpancar dalam tindakannya seperti menyeleksi, mendidik, memotivasi, mengembangkan sampai memutuskan hubungan kerja.

GAYA KEPEMIMPINAN SEGALA SITUASI

Peranan seorang pemimpin dalam hubungan antar manusia dalam bekerja sangat terkait dengan gaya kepemimpinan yang ditampilkannya.

Seorang pemimpin diharapkan dapat menampilkan gaya kepemimpinan segala situasi tergantung kondisi dan situasi serta kepada bawahan yang mana. Seorang pemimpin yang hanya menampilkan satu macam gaya saja akan kurang efektif. Selain itu diharapkan seorang pemimpin tampil sebagai pemberi ilham dalam masa-masa sulit, sehingga terpancar rasa keyakinan akan atasannya dalam diri para bawahannya.

Kepemimpinan dan penyesuaian terhadap perubahan merupakan tantangan terbesar masa kini bagi para eksekutif. Menjadi seorang pemimpin yang sukses dan yang dapat memotivasi bawahannya merupakan sasaran kursus ini. Kuliah dikombinasikan dengan film, kuesioner, studi kasus, dan latihan-latihan.

Dengan mengikuti semua kegiatan ini Anda dapat mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan diri Anda, serta bagaimana menyusun penyempurnaan penampilan Anda sendiri.

TUJUAN
*Memperjelas sasaran kerja seorang manajer
*Mengenali lingkup wewenang dan kekuatan serta kelemahan diri sebagai pemimpin untuk pengembangan lebih lanjut
*Melatih peserta dengan keterampilan kepemimpinan untuk memperoleh anak buah yang tepat atau menjadikan anak buah tepat pada jabatannya, serta memberikan motivasi kepada anak buah
*Melatih peserta dalam melaksanakan pembinaan bawahan sesuai perkembangan yang bersangkutan dan kebutuhan organisasi
*Melatih peserta dalam memelihara bawahan agar tetap bertahan pada perusahaan untuk jangka waktu yang panjang
*Memberi dorongan dalam menerapkan prinsip-prinsip dan konsep-konsep modern dari Kepemimpinan Segala Situasi serta mengetahui kemampuan diri sehubungan dengan konsep tersebut

PESERTA
*Para manajer madya
*Mereka yang harus atau akan melakukan fungsi pimpinan
*Mereka yang memiliki jumlah anak buah melebihi 30 orang

CAKUPAN PENDIDIKAN
* Kaitan manajemen dengan kepemimpinan
* Penggunaan wewenang dan pengaruh yang harus dimiliki
* Teknik komunikasi efektif ke atas, ke bawah dan ke samping
* Teknik seleksi, wawancara, memberi latihan dan menempatkan dalam bidang yang sesuai
* Bagaimana mengarahkan, memotivasi, mengontrol, mengoreksi dan membantu serta mengembangkan bawahan
* Bagaimana memelihara bawahan agar berdedikasi tinggi dengan menampilkan diri sebagai pimpinan terutama dalam pengambilan keputusan dan pemberi ilham di masa sulit
* Bagaimana bersikap terhadap pengunduran diri anak buah yang berprestasi
* Bagaimana mempertimbangkan serta melakukan pemutusan hubungan kerja

http://www.pmbs.ac.id/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=120&mode=thread&order=0&thold=0

Advertisements

ISYARAT KEPEMIMPINAN ISLAM DALAM ISRA’ MI’RAJ

Oleh KH. M. Shiddiq Al-Jawi

(Pengasuh Ma’had Taqiyuddin an-Nabhani, Yogyakarta)

Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan salah satu mu’jizat Rasulullah SAW yang selalu diperingati umat Islam. Pelajaran (‘ibrah) yang diambil dari peringatan itu umumnya hanya satu, yaitu diwajibkannya shalat lima waktu. Tentu itu benar. Tapi apakah hanya itu? Kalau kita kaji lebih dalam, sebenarnya Isra’ Mi’raj mengandung pelajaran-pelajaran lain yang tak kalah penting. Apa itu? Salah satunya adalah isyarat kepemimpinan umat Islam atas seluruh agama, bangsa, dan umat lain di seluruh dunia.

Prof. Rawwas Qal’ahjie telah menerangkan isyarat kepemimpinan itu dalam kitabnya, Sirah Nabawiyah : Qira`ah Siyasiyah. Menurut Qal’ahjie, dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, terkandung isyarat peralihan kepemimpinan dunia. Dunia yang semula di bawah kekuasaan Bani Israil, kemudian beralih di bawah kekuasaan umat Muhammad SAW. Seperti diketahui, kepemimpinan dunia hingga terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj, ada di bawah kepemimpinan Bani Israil, sebab agama-agama samawi yang masih ada –yaitu Yahudi dan Nasrani— adalah agama-agama bangsa Israil. Namun tak dapat disangkal, kepemimpinan Bani Israil ini telah cacat dan rusak. Karena agama Yahudi dan Nasrani telah mengalami penyimpangan dan tidak murni lagi. Kitab Taurat dan Injil telah mengalami pencemaran dan perubahan (tahrif) akibat ulah pengikut-pengikutnya yang hanya memperturutkan hawa nafsu. Dengan demikian, para pengemban agama Yahudi dan Nasrani pun sesungguhnya sudah tak layak lagi memimpin dunia. Karena itu, tongkat kepemimpinan dunia harus segera dipindahtangankan kepada umat lain yang lebih berhak dan lebih mampu memimpin dunia. Siapakah umat ini? Tiada lain adalah umat Muhammad SAW.

Qal’ahjie kemudian menunjukkan isyarat-isyarat yang menunjukkan perpindahan estafet kepemimpinan dunia itu dalam Isra’ Mi’raj. Dalam peristiwa Isra’, Rasulullah SAW diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Nah, di Masjidil Aqsha inilah, Rasulullah SAW shalat bersama para nabi dan Rasulullah SAW tampil sebagai imam. Berarti di belakang Rasululah SAW adalah para makmum yang terdiri dari nabi-nabi, di antaranya Nabi Musa dan Nabi Isa, alaihima as-salaam.

Dari peristiwa itulah, ada isyarat kepemimpinan umat Islam. Kata Qal’ahjie, dalam peristiwa shalat jamaah tersebut telah terjadi pencabutan kepemimpinan Bani Israil yang selanjutnya diberikan kepada umat Muhammad SAW. Dengan demikian, sejak peristiwa itu, manusia menjadi tidak sah beramal dengan agama-agama Bani Israil (Yahudi dan Nasrani) yang telah mengalami banyak sekali distorsi dan perubahan. Agar amal manusia sah dan diterima Allah, haruslah beralih kepada agama baru yang masih murni, yaitu Islam.

Peralihan kepemimpinan ini, kata Qa’ahjie selanjutnya, bukanlah peralihan yang sembarangan. Melainkan peralihan yang absah alias konstitusional. Mengapa? Sebab yang mengubah kiblat kepemimpinan adalah benar-benar para wakil dari seluruh umat. Dan mereka pun cendekiawan yang tidak mungkin berbuat salah, karena mereka adalah para nabi. Dengan demikian, siapa pun yang menentang peralihan kepemimpinan yang konstitusional ini, berarti melakukan perlawanan yang liar atau inkonstitusional. Dan tindakan yang paling tepat untuk menyikapi perlawanan inkonstitusional tiada lain adalah tindakan represif yang tegas.

Hal menarik lain yang dikemukakan Qal’ahjie, bahwa dengan peristiwa itu, berarti Masjidil Aqsha akan menjadi milik umat Islam. Mengapa? Karena dalam shalat jamaah yang dilakukan di suatu tempat, yang paling berhak menjadi imam adalah pemilik tempat itu. Jadi, karena yang menjadi imam adalah Rasululah SAW, berarti beliaulah yang menjadi pemilik Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha).

Itulah isyarat kepemimpinan umat Islam dalam Isra’ Mi’raj yang dijelaskan oleh Prof. Rawwas Qal’ahjie dalam kitabnya, Sirah Nabawiyah : Qira`ah Siyasiyah. Bagaimana realisasi dari isyarat agung ini dalam kenyataan? Dalam sejarah kepemimpinan umat ini benar-benar terbukti. Setelah Rasulullah berhijrah ke Madinah (622 M) dan kemudian menegakkan negara dan masyarakat Islam, kepemimpinan Islam mulai terwujud. Sebab di negara baru tersebut, umat Islam memimpin umat-umat lain. Dalam masyarakat Islam ada warga negara kaum Yahudi sebagaimana disebut dalam Piagam Madinah (Watsiqah Al-Madinah). Trcatat, kaum Yahudi itu adalah Yahudi Bani Auf, Yahudi Bani Najjar, Yahudi Bani Harits, Yahudi Bani Saidah, Yahudi Bani Jusyam, Yahudi Bani Aus, dan Yahudi Bani Tsa’labah. Dalam perkembangan berikutnya, kaum Yahudi Bani Quraizhah, Yahudi Bani Nadhir, dan Bani Qainuqa’ juga menandatangani Piagam Madinah itu (Taqiyuddin an-Nabhani, Ad-Daulah Al-Islamiyah, hal. 54). Kepemimpinan umat Islam di masa Nabi atas kaum Nasrani juga mulai terwujud. Untuk pertama kalinya, kaum muslimin berperang dengan kaum Nasrani di wilayah Syam dalam Perang Mu`tah. Memang dalam perang kali ini kaum muslimin tidak menang dan juga tidak kalah. Namun Perang Mu`tah ini menjadi jalan awal untuk penaklukan Syam (Fathu Syam) di masa Khalifah Umar bin Khaththab.

Pada masa Khalifah Umar bin Khaththab inilah, penaklukan Syam terjadi pada tahun 15 H. Dalam penaklukan Syam ini, Khalifah Umar dan para sahabat Rasulullah serta pasukan kaum muslimin memasuki kota Al-Quds dengan penuh kehormatan. Khalifah Umar menerima kunci kota Al-Quds dari kepala pemerintahaan Nasrani, yaitu Sefrounius. Setelah memasuki kota Al-Quds ini, Khalifah Umar dan kaum muslimin melakukan shalat di Masjidil Aqsha. Inilah shalat yang kedua di bawah kepemimpinan umat Islam, setelah shalat pertama yang dilakukan oleh Rasulullah SAW pada malam Isra`. (As’ad Bayudh At-Tamimi, Impian Yahudi dan Kehancurannya Menurut Al-Qur`an, hal. 21). Subhanallah, isyarat kepemimpinan umat Islam terwujud sempurna.

Lalu, bagaimanakah kondisi kepemimpinan umat Islam saat ini? Masihkah umat Islam menjadi imam dunia, ataukah justru sekarang hanya menjadi makmum, mengikuti kaum lainnya? Pada saat kita memperingati Isra’ Mi’raj, tentu sangat baik kita merenungkan persoalan kepemimpinan umat Islam ini. Fakta yang ada sungguh tak dapat disangkal, bahwa kepemimpinan dunia saat ini tengah dipegang oleh kaum kafir, yaitu kaum Yahudi dan Nasrani. Amerika Serikat dan negara-negara kapitalis lainnya adalah pemimpin dunia saat ini. Mereka adalah kaum kafir beragama Nasrani. Selain itu dunia Islam juga dicengkeram masalah yang tak selesai-selesai, yaitu masalah Palestina. Kaum kafir Yahudi dengan negara Israelnya menjadi pihak yang dominan atas umat Islam Timur Tengah, dengan perlindungan dan dukungan Amerika Serikat yang Nasrani. Jadi, kepemimpinan dunia sekarang berada di tangan Yahudi dan Nasrani, bukan lagi di tangan umat Islam.

Para pemimpin negeri-negeri Islam pun pada umumnya adalah para pengkhianat. Mereka tidak berani melawan atau menentang kaum Yahudi dan Nasrani, tapi malah menjadi antek-antek mereka. Kondisi umat yang hanya mengekor kaum Yahudi dan Nasrani ini sudah diisyaratkan juga oleh Rasulullah SAW. Sabda Rasulullah SAW,”Sungguh kamu akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal sehasta demi sehasta, hingga kalau mereka masuk lubang biawak, kamu akan mengikuti mereka.” Sahabat bertanya,”Apakah mereka Yahudi dan Nasrani?” Jawab Rasul,”Lalu siapa lagi?” (HR Bukhari & Muslim).

Kondisi itu jelas tidak diridhoi Allah. Seharusnya, yang menjadi pemimpin dunia adalah umat Islam, bukan umat Yahudi dan Nasrani. Allah SWT tidak membenarkan umat Islam menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin. Firman Allah (artinya) : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, mereka satu sama lain adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu tergolong ke dalam kelompok mereka…” (QS Al-Maidah : 51).

Maka dari itu, jelaslah bahwa umat Islam berkewajiban merebut kembali kepemimpinan dunia yang kini dipegang kaum kafir Yahudi dan Nasrani. Mereka tidak boleh lagi menjadi pemimpin dunia, sebab yang seharusnya memimpin adalah umat Islam, bukan umat kafir.

Namun kepemimpinan umat ini membutuhkan dua syarat yang penting, seperti dijelaskan oleh Prof. Rawwas Qal’ahjie dalam kitabnya, Sirah Nabawiyah : Qira`ah Siyasiyah. Pertama, adanya sistem kehidupan yang baik, yang terwujud dalam pelaksanaan syariah dalam negara Khilafah, bukan dalam negara sekuler saat ini. Kedua, adanya para pemimpin yang amanah, bukan pemimpin yang khianat seperti saat ini. Dengan dua syarat ini, insya Allah kepemimpinan umat Islam atas seluruh manusia dunia akan dapat terwujud kembali di masa depan. Inilah salah satu pelajaran terpenting dari peristiwa Isra’ Mi’raj. Wallahu a’lam [ ]

http://khilafah1924.org/index.php?option=com_content&task=view&id=500&Itemid=47

Kepemimpinan Yang Efektif

Kepemimpinan Yang Efektif

Dearest Super Members yang baik.

Mudah – mudahan di akhir pekan ini sahabat semua berada ditengah kasih sayang keluarga yang membahagiakan, dengannya perasaan damai yang indah menyertai Anda sekeluarga menuju cita-cita bersama.

Beberapa waktu belakangan ini, perhatian saya terbagi dengan peran-peran kepemimpinan di negara tercinta ini. Isu ini sangat menarik untuk diikuti dan ditelaah karena melibatkan banyak orang dan biaya didalamnya.

Dari apa yang telah saya pelajari, paling tidak ada dua hal yang mendorong kepemimpinan seseorang berjalan dengan efektif, yang pertama adalah memastikan orang untuk bertanggung jawab terhadap hidupnya, dan yang kedua menciptakan visi dan/atau program-program yang orang mau mencapai bersama dengannya.

Untuk itu, ijinkan saya dibawah ini menuliskan kembali nasihat-nasihat dari Pak Mario mengenai kepemimpinan dalam hidup ini.

Kepemimpinan adalah sebuah proses mempengaruhi individu atau organisasi untuk mencapai urutan hasil dalam urutan tindakan yang setia pada sebuah misi.

Seorang pemimpin adalah seorang penjual harapan, melalui kejelasan visi dan kekuatan misi.

Maka pastikanlah bahwa tindakan kita tidak berorientasi kepada kepentingan yang bukan bagi kebaikan yang kita pimpin.

Mohon Anda sadari bahwa, bagi seorang pemimpin – menjadi yang dipercaya adalah hadiah yang lebih baik dari apapun. Kepercayaan yang diberikan oleh anggota organisasi kepada seorang pemimpin datang dari perasaan terpastikan dalam mempercayakan proses memimpin pencapaian tujuan bersama kepadanya.

Untuk itu, siapapun akan mencapai kepantasan sebagai seorang pemimpin, bila ia membiasakan dirinya untuk meninggikan orang lain, tanpa merendahkan dirinya sendiri.

Dengannya, bila Anda berada dalam kendali yang baik, maka mereka akan merasa tenang dalam kepemimpinan Anda, lalu kemudian bila mereka merasa lebih percaya diri dalam kepemimpinan Anda, maka Anda adalah seorang pemimpin yang berwibawa.

Mohon Anda perhatikan bahwa, kewibawaan kepemimpinan seseorang dapat didefinisikan sebagai pesona pribadi yang memenangkan persetujuan orang lain, untuk bersikap dan berlaku sebagaimana yang dipimpinnya.

Dengannya, semua pemimpin yang berhasil membangun kebesaran organisasinya, selalu adalah pemimpin yang dekat dengan mereka yang dipimpinnya.

Sadarilah bahwa dia yang tidak melakukan hal-hal yang mendatangkan kebaikan bagi mereka yang dipimpinnya, telah menunda tercapainya kebaikan yang menjadikan hak mereka.

Maka kembangkanlah praktik-praktik kepemimpinan dan proses operasi yang membangun keceriaan dan keleluasaan untuk mencapai hasil lebih.

Marilah kita menjadi pribadi-pribadi yang perbedaannya adalah kemampuan untuk mengubah yang biasa, menjadi luar biasa.

Perhatikanlah, sebuah organisasi tidak mungkin bisa bergerak mendekati bentuk kreatifitas apapun, bila sang pemimpin menjadikan dirinya sendiri sebagai contoh utama dalam penolakan cara-cara yang lebih baik.

Dari mana memulainya?

Seperti dalam hal apapun,

mulailah dari diri Anda sendiri.

Anda adalah seorang khalifah.

Super member terkasih, demikian beberapa nasihat yang pernah Pak Mario sampaikan, saya mengajak Anda untuk berbagi disini mengenai kepemimpinan yang anda amati dilingkungan anda, mudah-mudahan dengannya kebaikan yang kita sampaikan lebih menyentuh lebih banyak orang.

Terimakasih dan Salam Super,

http://www.mtsuperclub.com/content/index.php?option=com_content&task=view&id=788&Itemid=163

Jenis dan Macam Gaya Kepemimpinan / Pemimpin Klasik Otoriter, Demokratis dan Bebas – Manajemen Sumber Daya Manusia

Jenis dan Macam Gaya Kepemimpinan / Pemimpin Klasik Otoriter, Demokratis dan Bebas – Manajemen Sumber Daya Manusia
Sun, 11/06/2006 – 7:38pm — godam64

1. Gaya Kepemimpinan Otoriter / Authoritarian
Adalah gaya pemimpin yang memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang diambil dari dirinya sendiri secara penuh. Segala pembagian tugas dan tanggung jawab dipegang oleh si pemimpin yang otoriter tersebut, sedangkan para bawahan hanya melaksanakan tugas yang telah diberikan.

2. Gaya Kepemimpinan Demokratis / Democratic
Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya.

3. Gaya Kepemimpinan Bebas / Laissez Faire
Pemimpin jenis ini hanya terlibat delam kuantitas yang kecil di mana para bawahannya yang secara aktif menentukan tujuan dan penyelesaian masalah yang dihadapi.

http://organisasi.org/jenis_dan_macam_gaya_kepemimpinan_pemimpin_klasik_otoriter_demokratis_dan_bebas_manajemen_sumber_daya_manusia

Kepemimpinan Sejati

Kepemimpinan Sejati

Kepemimpinan sesungguhnya tidak ditentukan oleh pangkat atau pun jabatan seseorang. Kepemimpinan adalah sesuatu yang muncul dari dalam dan merupakan buah dari keputusan seseorang untuk mau menjadi pemimpin, baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, bagi lingkungan pekerjaannya, maupun bagi lingkungan sosial dan bahkan bagi negerinya.

Oleh ARIBOWO PRIJOSAKSONO

Hal ini dikatakan dengan lugas oleh seorang jenderal dari Angkatan Udara Amerika Serikat:

”I don’t think you have to be
wearing stars on your shoulders or a title to be a leader. Anybody who wants to raise his hand can be a leader any time.”
—General Ronal Fogleman, US Air Force—

Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri seseorang. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri (inner peace) dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati. Jadi pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out).
Ketika pada suatu hari filsuf besar Cina, Lao Tsu, ditanya oleh muridnya tentang siapakah pemimpin yang sejati, maka dia menjawab:
As for the best leaders, the people do not notice their existence.
The next best, the people honour
And praise.
The next, the people fear, And the next the people hate.
When the best leader’s work is done, The people say, ‘we did it ourselves’.

Justru seringkali seorang pemimpin sejati tidak diketahui keberadaannya oleh mereka yang dipimpinnya. Bahkan ketika misi atau tugas terselesaikan, maka seluruh anggota tim akan mengatakan bahwa merekalah yang melakukannya sendiri. Pemimpin sejati adalah seorang pemberi semangat (encourager), motivator, inspirator, dan maximizer.
Konsep pemikiran seperti ini adalah sesuatu yang baru dan mungkin tidak bisa diterima oleh para pemimpin konvensional yang justru mengharapkan penghormatan dan pujian (honor and praise) dari mereka yang dipimpinnya. Semakin dipuji bahkan dikultuskan, semakin tinggi hati dan lupa dirilah seorang pemimpin. Justru kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang didasarkan pada kerendahan hati (humble).
Pelajaran mengenai kerendahan hati dan kepemimpinan sejati dapat kita peroleh dari kisah hidup Nelson Mandela. Seorang pemimpin besar Afrika Selatan, yang membawa bangsanya dari negara yang rasialis, menjadi negara yang demokratis dan merdeka.
Saya menyaksikan sendiri dalam sebuah acara talk show TV yang dipandu oleh presenter terkenal Oprah Winfrey, bagaimana Nelson Mandela menceritakan bahwa selama penderitaan 27 tahun dalam penjara pemerintah Apartheid, justru melahirkan perubahan dalam dirinya. Dia mengalami perubahan karakter dan memperoleh kedamaian dalam dirinya. Sehingga dia menjadi manusia yang rendah hati dan mau memaafkan mereka yang telah membuatnya menderita selama bertahun-tahun.
Seperti yang dikatakan oleh penulis buku terkenal, Kenneth Blanchard, bahwa kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Perubahan karakter adalah segala-galanya bagi seorang pemimpin sejati. Tanpa perubahan dari dalam, tanpa kedamaian diri, tanpa kerendahan hati, tanpa adanya integritas yang kokoh, daya tahan menghadapi kesulitan dan tantangan, dan visi serta misi yang jelas, seseorang tidak akan pernah menjadi pemimpin sejati.

Karakter Seorang Pemimpin Sejati
Setiap kita memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin. Dalam tulisan ini saya memperkenalkan sebuah jenis kepemimpinan yang saya sebut dengan Q Leader. Kepemimpinan Q dalam hal ini memiliki empat makna. Pertama, Q berarti kecerdasan atau intelligence (seperti dalam IQ – Kecerdasan Intelektual, EQ – Kecerdasan Emosional, dan SQ – Kecerdasan Spiritual). Q Leader berarti seorang pemimpin yang memiliki kecerdasan IQ—EQ—SQ yang cukup tinggi. Kedua, Q Leader berarti kepemimpinan yang memiliki quality, baik dari aspek visioner maupun aspek manajerial.
Ketiga, Q Leader berarti seorang pemimpin yang memiliki qi (dibaca ‘chi’ – bahasa Mandarin yang berarti energi kehidupan). Makna Q keempat adalah seperti yang dipopulerkan oleh KH Abdullah Gymnastiar sebagai qolbu atau inner self. Seorang pemimpin sejati adalah seseorang yang sungguh-sungguh mengenali dirinya (qolbu-nya) dan dapat mengelola dan mengendalikannya (self management atau qolbu management).
Menjadi seorang pemimpin Q berarti menjadi seorang pemimpin yang selalu belajar dan bertumbuh senantiasa untuk mencapai tingkat atau kadar Q (intelligence – quality – qi — qolbu) yang lebih tinggi dalam upaya pencapaian misi dan tujuan organisasi maupun pencapaian makna kehidupan setiap pribadi seorang pemimpin.
Untuk menutup tulisan ini, saya merangkum kepemimpinan Q dalam tiga aspek penting dan saya singkat menjadi 3C , yaitu:
1. Perubahan karakter dari dalam diri (character change)
2. Visi yang jelas (clear vision)
3. Kemampuan atau kompetensi yang tinggi (competence)
Ketiga hal tersebut dilandasi oleh suatu sikap disiplin yang tinggi untuk senantiasa bertumbuh, belajar dan berkembang baik secara internal (pengembangan kemampuan intrapersonal, kemampuan teknis, pengetahuan, dll) maupun dalam hubungannya dengan orang lain (pengembangan kemampuan interpersonal dan metoda kepemimpinan).
Seperti yang dikatakan oleh John Maxwell: ”The only way that I can keep leading is to keep growing. The day I stop growing, somebody else takes the leadership baton. That is the way it always it.” Satu-satunya cara agar saya tetap menjadi pemimpin adalah saya harus senantiasa bertumbuh. Ketika saya berhenti bertumbuh, orang lain akan mengambil alih kepemimpinan tersebut.n

Copyright © Sinar Harapan 2002

LEADERSHIF DALAM ORGANISASI PERUSAHAAN

Istilah leadershif berasal dari kata leader artinya pemimpin atau to lead artinya memimpin. Leadershif sudah menjadi kajian tersendiri dalam ilmu manajemen, oleh karena sifatnya yang universal dan menjadikan bahan diklat dalam perusahaan maupun dalam organisasi. Saya katakan setiap orang punya bakat jadi pemimpin dan kepemimpinan adalah ilmunya dan bisa diaplikasikan setelah anda menjadi pemimpin.

Definisi kepemimpinan

Sehubungan dengan kepemimpinan Bennis (1959:259) menyimpulkan : “selalu tanpaknya, konsep tentang kepemimpinan menjauh dari kita atau muncul dalam bentuk lain yang lagi-lagi mengejek kita dengan kelicinan dan kompleksitasnya. dengn demikian kita mendptkan sutu proliferasi dari istlah-istilah yang tak habis-habisnya harus dihadapi… dan konsep tersebut tetap tidak didefinisikan dengan memuaskan”.

Garry Yukl (1994:2) menyimpulkan definisi yang mewakili tentang kepemimpinan antara lain sebagai berikut :

  • Kepemimpinan adalah prilaku dari seorang individu yang memimpin aktifitas-aktifitas suatu kelompok kesuatu tujuan yang ingin dicapai bersama (share goal) (Hemhill& Coons, 1957:7)
  • Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi yang dijalankan dalam suatu situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi, kearah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu (Tannenbaum, Weschler & Massarik, 1961:24)
  • kepemimpinan adalah pembentukan awal serta pemeliharaan struktur dalam harapan dan interaksi (Stogdill, 1974:411)
  • kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit pada dan berada diatas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan rutin organisasi (Katz & Kahn, 1978:528)
  • kepeimpinan adalah proses mempengaruhi aktifitas sebuah kelompok yang diorganisasi kearah pencapaian tujuan (Rauch & Behling, 1984:46)
  • kepemimpinan adalah sebuah proses memberi arti (pengarahan yang berarti) terhadap usaha kolektif dan yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang dinginkan untuk mencapai sasaran (Jacob & Jacques, 1990:281)
  • para pemimpin adalah mereka yang secara konsisten memberi kontribusi yang efektif terhadap orde sosial dan yang diharapkan dan dipersepsikan melakukannya (Hosking, 1988:153)
  • Kepemimpinan sebagai sebuah proses pengaruh sosial yang dalam hal ini pengaruh yang sengaja dijalankan oleh seseorang terhadap orang lain untuk menstruktur aktifitas-aktifitas serta hubungan-hubungan didalam sebuah kelompok atau organisasi (Yukl, 1994:2)

http://teknikkepemimpinan.blogspot.com/

Kepemimpinan karismatik

Kepemimpinan karismatik

Kepemimpinan Karismatik selama ini selalu identik dengan pengamatan pemimpin di politik dan keagamaan bukan kepemimpinan organisasi dan perusahaan. Karisma berasal dari bahasa yunani diartikan karunia diispirasi ilahi (divenely inspired gift) seperti kemampuan meramal dimasa yang akan datang.

Para ahli sepakat mengartikan karisma sebagai “suatu hasil persepsi para pengikut dan atribut-atribut yang dipengaruhi oleh kemampuan-kemampuan aktual dan prilaku dari para pemimpin dalam konteks situasi kepemimpinan dan dalam kebutuhan-kebutuhn individual maupun kolektif para pengikut ” (Yukl, 1994:269)

Beberapa teori karismatik

Ada teori atribusi yang menyatakan bahwa kepemimpinan karismatik didasarkan atas asumsi bahwa karisma adalah sebuah fenomena atribusi (Conger & Kanungo, 1987) dan ada juga teori konsep sendiri yang menyangku karismatik seorang pemimpin dapat dilihat pada sejauh mana apeksi seorang pengikut, keterlibatan emosi dan motivasi yang tinggi didasari pengorbanan jiwa yang luar biasa (Shamir, house, Arthur, 1993) selain konsep teori tinjauan psiko-analisa karisma seorang pemimpin diberlakukan sangat tidak realistis dan tingkat identifikasi ekstrim oleh para pengikut baik melalui pemindahan karisma masa lalu seperti karisma trah Ir. Sukarno yang melegendaris ada pada mantan presiden Megawati yang mengarah pada kultus dengan berbagai konsekuensi negatif. konsekuensi karismatik negatif (Conger, 1990) dapat dilihat dari pola hubungan antara lain :

  • Hubungan antar pribadi yang jelek tidak sesuai dengan pendahulunya
  • Konsekuensi negatif dari prilaku impulsif dan tidak konvensional
  • Konsekuensi negatif dari manajemen kesan bahwa dirnya sangat dibutuhkan pengikut atau karena sekedar mendompleng nama pendahulunya
  • Praktik administrasi lemah, karismatik dalam memimpin tapi sangat lemah dalam penataan aktiftas yang membutuhkan dukungan administratif
  • Konsekuensi negatif dari dari rasa percaya diri yang lemah karena berbeda kapasitas dan kredibilitas dan dirinya memuja dirinya berlebihan (Narcisis).
  • Gagal untuk merencanakan suksesi kepemimpinan karena belum tentu ada yang selevel dengan dirinya sehingga mematikan pengkaderan dlam organisasi.

Referensi :

Kepemimpinan dalam organisasi, Garry Yukl, terj. Jusuf udaya, Prehalindo, Jakarta, 1994.

http://teknikkepemimpinan.blogspot.com/