Apakah Anda Seorang Transforming Leader?

Kita sudah terlalu sering mendengar ungkapan yang menyebutkan bahwa setiap orang adalah pemimpin. Seorang ayah misalnya, merupakan pemimpin sebuah keluarga. Oleh karenanya, kemampuan dalam hal kepemimpinan pada dasarnya harus dimiliki oleh setiap orang. Tidak hanya ketika Anda berada dalam sebuah kelompok atau berpasangan. Namun, Anda juga punya kewajiban untuk memimpin diri anda sendiri. Presiden dan CEO Consulting Resource Group (CRG) International, Inc Ken Keis adalah ahli di bidang Pengembangan Pribadi dan Organisasi yang telah berpengalaman selama lebih dari 17 tahun. Selama ini ia telah melakukan lebih dari 2000 presentasi dan menerbitkan 20 artikel serta lebih dari 40 desain managemen bisnis, kepemimpinan, atau sales proses. Dalam tulisannya yang berjudul “Are You a Transforming Leader?” ia mengangkat tema tentang kepemimpinan, tentang diri Anda dan kemampuan anda dalam kepemimpinan, bukan tentang teorinya.

Leadership/Kepemimpinan

Pemimpin tidak dilahirkan. Mereka diciptakan, dibentuk. Para pemimpin memupuk kemampuan mereka tidak dalam sekejap, melainkan selama bertahun tahun. Kecuali untuk kasus tertentu, pemimpin yang efektif biasanya berumur sekitar 30an tahun atau lebih. Hal ini disebabkan karena proses pendewasaan, pembelajaran, dan pengalaman memerlukan waktu.

Sebagian orang setuju, untuk menjadi pemimpin yang berhasil, seseorang harus memiliki beberapa kemampuan dasar kepemimpinan tertentu. Dalam penelitian yang dilakukan CRG, 57 kemampuan khusus yang termasuk dalam 5 kategori disebutkan merupakan kemampuan yang sangat penting untuk menjadi transforming leader. Kemampuan-kemampuan tersebut tidak berdiri sendiri-sendiri melainkan saling mendukung satu sama lain.

# Transforming Leader memiliki self-management skills tingkat satu. Jika Anda tidak dapat me-manage diri sendiri, bagaimana mungkin Anda akan memimpin orang lain? Semakin jelas siapa diri Anda, apa yang akan Anda lakukan, semakin kuat kredibilitas yang akan Anda miliki sebagai pemimpin, termasuk diantaranya nilai-nilai yang Anda miliki, kepercayaan dan tujuan Anda, rencana, kepercayaan diri, dan tingkah laku positif Anda.�

# Transforming Leaders memiliki kemampuan komunikasi interpersonal yang sangat baik. Mampu bicara saja tidak ada hubungannya dengan komunikasi efektif. Untuk menjadi pemimpin yang efektif, Anda harus menjadi komunikator yang efektif.

# Transforming Leaders dapat memberikan konsultasi pada yang lain, sekaligus dia seorang pemecah masalah. Anda harus dapat memimpin diri sendiri, dapat berkomunikasi secara efektif, menyelesaikan masalah, dan meyakinkan orang lain untuk mengakui masalah mereka sendiri. Kemampuan ini tidak saja berguna di lingkungan kerja tapi juga di rumah, ketika Anda berperan sebagai suami/istri dan orang tua.�

# Transforming Leaders memiliki kemampuan consulting yang luar biasa. Dinamika kepemimpinan meliputi kesadaran terhadap individu dan kelompok. Dengan kemampuan ini Anda dapat menilai keadaan sebuah kelompok, menentukan kebutuhan-kebutuhan, keinginan, permasalahan dan ketakutan kelompok tersebut, dapat memfasilitasi dan menghindari terjadinya resistansi terhadap perubahan. Anda juga dapat mengeksplorasi tingkat kesiapan dan kemauan individu dan kelompok, serta merancang dan menerapkan langkah-langkah dan penyelesaian. Dapatkah Anda bayangkan seorang pelatih tim olah raga yang sukses tanpa memiliki kemampuan-kemampuan tersebut? Tentu tidak.

# Transforming Leaders juga memiliki kemampuan pengembangan organisasi yang sangat baik. Meskipun Anda sedang bad mood, Anda tetap dapat berkomunikasi dengan baik kepada orang lain, memastikan mereka mampu menjalankan tugasnya, memfasilitasi kebutuhan mereka, keinginan mereka, dan performa mereka, serta memahami bahwa tugas tersebut sesuai bagi kemajuan organisasi dan langkah-langkah apa yang perlu diambil, kapan, dengan siapa, dan bagaimana. Anda harus memahami lima tingkatan pengembangan organisasi dan langkah-langkah yang dibutuhkan untuk mencapainya satu demi satu.

Mungkin Anda akan merasa tertekan dengan kompleksnya cara menjadi Transforming Leader. Kenyatannya, kebanyakan orang tidak terus melakukan prosesnya. Itu sebabnya tidak banyak ditemukan Transforming Leader.

http://www.portalhr.com/tips/2id12.html

Advertisements

Keteladanan Pemimpin

Di dalam Bulan suci Ramadhan ini patutlah menjadi sebuah refleksi betapa penting sebuah keteladanan seorang pemimpin berbasis akhlak. Akhlak dalam kacamata Imam Al-Ghazali adalah keadaan batin yang menjadi sumber lahirnya suatu perbuatan di mana perbuatan itu lahir secara spontan, mudah, tanpa menghitung untung rugi. Orang yang berakhlak baik, ketika menjumpai orang lain yang perlu ditolong maka ia secara spontan menolongnya tanpa sempat memikirkan resiko. Demikian juga orang yang berakhlak buruk secara spontan melakukan kejahatan begitu peluang terbuka. Akhlak seseorang, di samping bermodal pembawaan sejak lahir, juga dibentuk oleh lingkungan dan perjalanan hidupnya. Nilai-nilai akhlak Islam yang universal bersumber dari wahyu, disebut al-khair, sementara nilai akhlak regional bersumber dari budaya setempat, di sebut al-ma‘ruf, atau sesuatu yang secara umum diketahui masyarakat sebagai kebaikan dan kepatutan. Sedangkan akhlak yang bersifat lahir disebut adab, tatakrama, sopan santun atau etika. Akhlak universal berlaku untuk seluruh manusia sepanjang zaman. Demikian juga orang yang berakhlak buruk secara spontan melakukan kejahatan begitu peluang terbuka. Tetapi, sesuai dengan keragaman manusia, juga dikenal ada akhlak yang spesifik, misalnya akhlak anak kepada orang tua dan sebaliknya, akhlak murid kepada guru dan sebaliknya, akhlak pemimpin kepada yang dipimpin dan sebagainya. Seseorang dapat menjadi pemimpin (imam) dari orang banyak manakala ia memiliki (a) kelebihan dibanding yang lain, yang oleh karena itu ia bisa memberi (b) memiliki keberanian dalam memutuskan sesuatu, dan (c) memiliki kejelian dalam memandang masalah sehingga ia bisa bertindak arif bijaksana. Secara sosial seorang pemimpin (imam) adalah penguasa, karena ia memiliki otoritas dalam memutuskan sesuatu yang mengikat orang banyak yang dipimpinnya. Akan tetapi menurut etika keagamaan, seorang pemimpin pada hakekatnya adalah pelayan dari orang banyak yang dipimpinnya (sayyid al-qaumi khodimuhum). Pemimpin yang akhlaknya rendah pada umumnya lebih menekankan dirinya sebagai penguasa, sementara pemimpin yang berakhlak baik lebih menekankan dirinya sebagai pelayan masyarakatnya. Dampak dari keputusan seorang pemimpin akan sangat besar implikasinya pada rakyat yang dipimpin. Jika keputusannya tepat maka kebaikan akan merata kepada rakyatnya, tetapi jika keliru maka rakyat banyak akan menanggung derita karenanya. Oleh karena itu pemimpin yang baik disebut oleh Nabi dengan sebutan pemimpin yang adil (imamun ‘adilun) sementara pemimpin yang buruk digambarkan al-Qur’an, dan juga hadis, sebagai pemimpin yang zalim. Adil artinya menempatkan sesuatu pada tempatnya, sedangkan sebaliknya zalim artinya menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Hadis Riwayat Bukhari menempatkan seorang Pemimpin yang adil dalam urutan pertama dari tujuh kelompok manusia utama. Hadis Riwayat Muslim menyebutkan bahwa pemimpin yang terbaik adalah pemimpin yang dicintai rakyatnya dan iapun mencintai rakyatnya. Sementara pemimpin yang terburuk menurut Nabi, adalah pemimpin yang dibenci rakyatnya dan iapun membenci rakyatnya, mereka saling melaknat satu sama lain. Hadis lain menyebutkan bahwa dua dari lima golongan yang dimurkai Tuhan adalah (1) penguasa (amir) yang hidupnya ditopang oleh rakyat (sekarang-pajak) , tetapi ia tidak memberi manfaat kepada rakyatnya, dan bahkan tidak bisa melindungi keamanan rakyatnya. (2) Pemimpin kelompok (za‘im) yang dipatuhi pengikutnya tetapi ia melakukan diskriminasi terhadap kelompok kuat atas yang lemah, serta berbicara sekehendak hatinya (tidak mendengarkan aspirasi pengikutnya) . Hadis Riwayat Dailami bahkan menyebut pemimpin yang sewenang-wenang (imam jair) sebagai membahayakan agama. Kisah Al-Qur’an yang menyebut Nabi (Raja) Sulaiman yang memperhatikan suara semut mengandung pelajaran bahwa betapa pun seseorang menjadi pemimpin besar dari negeri besar, tetapi ia tidak boleh melupakan kepada rakyat kecil yang dimisalkan semut itu. (Q/27:16). Meneladani kepemimpinan Rasulullah, akhlak utama yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah keteladanan yang baik (uswah hasanah), terutama dalam kehidupan pribadinya, seperti; hidup bersih, sederhana dan mengutamakan orang lain. Tentang betapa tingginya nilai keadilan pemimpin, Hadis Riwayat Tabrani menyebutkan bahwa waktu satu hari efektif dari seorang imam yang adil setara dengan ibadah tujuhpuluh tahun.

Sumber, http://mubarok- institute. blogspot. com Wassalam, agussyafii

By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

KEPEMIMPINAN MENURUT ISLAM

1. PENDAHULUAN
Persoalan kepemimpinan tidak pernah selesai untuk dibahas selama manusia masih ada dan selama bumi masih utuh. Dunia ini akan kacau balau kalau seandinya tidak ada pemimpin yang akan diikuti oleh orang atau masyarakat baik itu dalam konteks masyarakat kecil sampai kepada masyarakat besar sapai kepada tataran Negara sampai pada tataran Internasional, sehingga dengan adanya pemimpin manusia akan bisa teratur, berjalan sesuai dengan kapasitasnya masing-masing dan dapat melaksanakan aktivitasnya dengan kata lain semua komponen yang ada dalam masyarakat bisa managemen. Setiap orang memiliki potensi untuk menjadi pemimpin baik itu pemimipin dalam rumah tangga, masyarakat atau Negara setiap manusia   minimal harus bisa menjadi pemimpin diri sendiri. Sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw : “setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya tentang apa yang dipimpinnya” Semakin banyak yang dipimpin, maka akan semakin besar pula tanggungjawabnya. Oleh karenanya, ada sebuah istilah umum yang tidak asing di telinga, “lebih baik menjadi pemimpin untuk diri sendiri”. Namun demikian bukan berarti dengan menjadi pemimpin bagi diri sendiri akan melepas tanggungjawab sebagai pemimpin. Karena setiap manusia dalam perjalanan hidupnya akan menemukan berbagai kemungkinan. Setiap manusia, normalnya, akan berkeluarga. Maka jadilah ia sebagai kepala keluarga. Islam sangat memperhatikan masalah kepemimpinan karena dalam sebuah perjuangan  sangat membutuhkan dan mengutamakan  mengutamakan jamaah.
Tetapi dalam kesempatan ini kita hanya terfokus pada pembahasan kepemimpinan dalam konteks masyarakat, daerah yang sesuai dengan karakter dan budaya yang dimiliki. Indonesia sebagai sebuah negara yang memiliki luas daerah dan batas daerah masing-masing yang terdiri dari banyak suku, karakter, cara berfikir, prilaku atau pun budaya yang berbeda-beda sesuai dengan daerahnya masing-masing. Tetapi dengan keberagaman itu masyarakat Indonesia bisa bersatu dan berdaulat karena memang bangsa kita disamping memiliki karakter, budaya, cara berfikir yang berbeda juga memiliki cara pandang yang sama terhadap kepentingan bangsa Indonesia itu sendiri yaitu Indonesia bersatu yang memiliki tujuan yang sama dan kepentingan yang sama untuk kemajuan bersama, sehingga terciptanya masyarakat madani dan masyarakat yang tnagguh dan bernmartabat. Walaupun demikian setiap daerah di Indonesia memiliki karakter tersendiri dan budaya tersendiri yang tidak bisa disamakan oleh siapapun dengan dengan daerah lainnya. Maka dengan mengikuti setiap karakter masing-masing daerah memerlukan sebuah strategi kepemimpinan yang sesuai dengan karakter dan budaya yang dimiliki. Dalam artian setiap pemimpin harus paham dan sedikit banyaknya harus tahu dengan kondisi, budaya, dan karakter masyarakat daerah yang dipimpin. Karena hal ini akan mepermudah langkah untuk menjalankan pemerintahan atau kepemiminan yang akan dijalankan. Sebagai contoh masyarakat jawa memiliki sifat sangat patuh terhadap sosok atau seorang yang dianggap memiliki keistimewaan atau ilmu yang lebih dari yang lain. Dengan karakter ini barangkali pemimpin bisa aja menerapkan kepemimpinan otoriter.
Dalam kesempatan ini penulis ingin memaparkan maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini yang jelas tidak akan pernah bermaksud untuk memaksakan pemikiran untuk diikiuti melainkan untuk dipahami dan memberikan pandangan menurut pandangan islam.
II. Definisi Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah proses mengarahkan perilaku orang lain kearah pencapaian suatu tujuan tertentu. Pengarahan dalam hal ini berarti menyebabkan orang lain bertindak dengan cara tertentu atau mengikuti arah tertentu. Wirausahawan yang berhasil merupakan pemimpin yang berhasil memimpin para karyawannya dengan baik. Seorang pemimpin dikatakan berhasil jika percaya pada pertumbuhan yang berkesinambungan, efisiensi yang meningkat dan keberhasilan yang berkesinambungan dari perusahaan.
III. Tugas Pemimpin
Seorang pemimpin cenderung menunjukkan pola-pola perilaku berikut :
1.    Merumuskan secara jelas peranan sendiri maupun stafnya
2.    Menetapkan tujuan yang sukar tapi dapat dicapai, dan memberitahukan orang-orang apa yang diharapkan dari mereka.
3.    Menentukan prosedur-prosedur untuk mengukur kemajuan menuju tujuan dan untuk mengukur pencapaian tujuan itu, yakin tujuan yang dirumusakan secara jelas dan khas.
4.    Melaksanakan peranan kepemimpinan secara aktif dalam merencanakan, mengarahkan membimbing dan mengendalikan kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada tujuan.
5.    Berminat mencapai peningkatan produktifitas.
IV.Konsep Pemimpin Menurut Pandangan Islam
Surah Al-Baqarah ayat 30 dengan jelas menceritakan kisah diciptakannya manusia adalah untuk sebagai kholifah (pemimpin) di muka bumi . Allah Swt berfirman : “Sesungguhnya Aku (Allah) akan menciptakan kholifah di muka bumi…”(Al-baqorah : 30). Memimpin berarti mengemudikan dan mengarahkan. Seperti halnya mengemudikan kendaraan ada pengemudi dan ada penumpangnya. Pemimpin adalah pengemudi sedangkan penumpang adalah yang dikemudikan atau yang dipimpin. Baik atau buruknya yang dipimpin tergantung dari bagaimana si pengemudi mengendalikan kendaraannya. Sejahtera atau tidaknya suatu negara, tergantung dari kebijakan yang dilakukan oleh pemimpinnya. Sakinah atau tidaknya suatu keluarga, tergantung sikap kepala keluarganya. Mahmudah atau madzmumahnya akhlak seseorang, tergantung kepribadian seseorang itu sendiri. Disinilah letak tanggung jawab seorang pemimpin. Setiap pemimpin bertanggunjawab atas yang dipimpinnya.
Ketika ingin memulai suatu pembahasan ada baiknya kita melakukan suatu pendefinisian atas pokok bahasan kita. Pendefinisian ini membantu kita untuk memahami dan mensistematiskan alur pembahasan. Kepemimpinan berasal dari kata pemimpin, yang artinya adalah orang yang berada di depan dan memiliki pengikut, baik orang tersebut menyesatkan atau tidak. Ketika berbicara kepemimpinan maka ia akan berbicara mengenai prihal pemimpin, orang yang memimpin baik itu cara dan konsep, mekanisme pemilihan pemimpin, dan lain sebagainya. Terdapat ragam istilah mengenai Kepemimpinan ini, adanya yang menyebutkan Imamah dan ada Khilafah. Masing–masing kelompok Islam memiliki pendefinisian berbeda satu sama lain, namun ada juga yang menyamakan arti Khilafah dan Imamah.
Menurut Ali Syari’ati, secara sosiologis masyarakat dan kepemimpinan merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Syari’ati berkeyakinan bahwa ketiadaan kepemimpinan menjadi sumber munculnya problem-problem masyarakat, bahkan masalah kemanusiaan secara umum. Menurut Syari’ati pemimpin adalah pahlawan, idola, dan insan kamil, tanpa pemimpin umat manusia akan mengalami disorientasi dan alienasi.
Ketika suatu masyarakat membutuhkan seorang pemimpin, maka seorang yang paham akan realitas masyarakatlah yang pantas mengemban amanah kepemimpinan tersebut. Pemimpin tersebut harus dapat membawa masyarakat menuju kesempurnaan yang sesungguhnya. Watak manusia yang bermasyarakat ini merupakan kelanjutan dari karakter individu yang menginginkan perkembangan dirinya menuju pada kesempurnaan yang lebih.
V. Syarat-Syarat Kepemimpinan Dalam Islam
Kepemimpinan setelah Rasulullah SAW wafat, merupakan pemimpin yang memiliki kualitas spiritual yang sama dengan Rasul, terbebas dari segala bentuk dosa, memiliki pengetahuan yang sesuai dengan realitas, tidak terjebak dan menjauhi kenikmatan dunia, serta harus memiliki sifat adil.
Pemimpin setelah Rasul harus memiliki kualitas spiritual yang sama dengan Rasul. Karena pemimpin merupakan patokan atau rujukan umat Islam dalam beribadah setelah Rasul. Oleh sebab itu ia haruslah mengetahui cita rasa spritual yang sesuai dengan realitasnya, agar ketika menyampaikan sesuatu pesan maka ia paham betul akan makna yang sesungguhnya dari realitas (cakupan) spiritual tersebut. Ketika pemimpin memiliki kualitas spiritual yang sama dengan Rasul maka pastilah ia terbebas dari segala bentuk dosa.
Menurut Murtadha Muthahhari, umat manusia berbeda dalam hal keimanan dan kesadaran mereka akan akibat dari perbuatan dosa. Semakin kuat iman dan kesadaran mereka akan akibat dosa, semakin kurang mereka untuk berbuat dosa. Jika derajat keimanan telah mencapai intuitif (pengetahuan yang didapat tanpa melalui proses penalaran) dan pandangan bathin, sehingga manusia mampu menghayati persamaan antara orang melakukan dosa dengan melemparkan diri dari puncak gunung atau meminum racun, maka kemungkinan melakukan dosa pada diri yang bersangkutan akan menjadi nol.  Saya memahami apa yang dikatakan Muthahhari derajat keimanan telah mencapai intuitif dan pandangan bathin ini adalah sebagai telah merasakan cita rasa realitas spiritual. Dengan adanya kondisi telah merasakan cita rasa realitas spiritual, maka pastilah Rasulullah SAW dan Imam Ali Bin Abi Thalib beserta keturunannya tadi terbebas dari segala bentuk dosa.
Kondisi ini juga akan berkonsekuensi pada pengetahuannya yang sesuai dengan realitas dari wujud atau pun suatu maujud. Ketika pemimpin tersebut mengetahui realitas dari seluruh alam, maka pastilah ia tahu akan kualitas dari dunia ini yang sering menjebak manusia.
Kemudian seorang pemimpin haruslah juga memiliki sifat adil. Rasulullah SAW pernah berkata bahwa, ”Karena keadilanlah, maka seluruh langit dan bumi ini ada.  Imam Ali Bin Abi Thalib mendefiniskan keadilan sebagai menempatkan sesuatu pada tempatnya yang layak. Keadilan bak hukum umum yang dapat diterapkan kepada manajemen dari semua urusan masyarakat. Keuntungannya bersifat universal dan serba mencakup. Ia suatu jalan raya yang melayani semua orang dan setiap orang.  Penerapan sifat keadilan oleh seorang pemimpin ini dapat dilihat dari cara ia membagi ruang-ruang ekonomi, politik, budaya, dsb pada rakyat yang dipimpinnya. Misalkan tidak ada diskriminasi dengan memberikan hak ekonomi (berdagang) pada yang beragama Islam, sementara yang beragama kristen tidak diberikan hak ekonomi, karena alasan agama. Terkecuali memang dalam berdagang orang tersebut melakukan kecurangan maka ia diberikan hukuman, ini berlaku bagi agama apapun.
Jalaluddin Rakhmat dalam buku Yamani yang berjudul, filsafat Politik Islam, menyebutkan bahwa secara terperinci seorang faqih (pemimpin) harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a.    Faqahah, mencapai derajat mujtahid mutlak yang sanggup melakukan  istinbath hukum      dari sumber-sumbernya.
b.    ’adalah : memperlihatkan ketinggian kepribadian, dan bersih dari watak buruk. Hal ini ditunjukkan dengan sifat istiqamah, al shalah, dan tadayyun.
c.    Kafa’ah : memiliki kemampuan untuk memimpin ummat, mengetahui ilmu yang berkaitan dengan pengaturan masyarakat, cerdas, matang secara kejiwaan dan ruhani.
Islam menghendaki setiap pemimpin menjadi suri tauladan bagi rakyatnya. Seperti halnya Nabi Muhammad Saw yang diatuladani oleh umatnya. Tanpa akhlaknya yang luhur, Nabi Muhammad tidak akan disebut sebagai suri tauladan yang baik, sebagaimana difirmankan Allah Swt dalam Al-Quran. Sebagaimana ayat Al-Quran yang tertulis diawal, ada empat hal pokok yang menjadi acuan untuk menjadi seorang pemimpin sejati. Jika ke-empatnya dijalankan, maka seorang pemimpin akan menjadi pemimpin sejati. Empat hal itu menunjukkan hubungan yang seimbang antara pemimpin sebagai hamba ALLAH SWT dan sebagai makhluk.
Pemimpin mendirikan Sholat. Sholat adalah salah satu bentuk ibadah yang mencerminkan hubungan antara hamba dengan sang Kholik-nya (Allah Swt). Sholat menjadi ibadah yang paling utama untuk membangun hubungan antara hamba dan Kholiknya. Dengan mendirikan Sholat, berarti seorang pemimpin telah melaksanakan tanggungjawabnya sebagai hamba Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala-galanya.
Pemimpin menunaikan Zakat. Selain Sholat, Zakat juga merupakan salah satu ibadah yang diwajibkan dan termasuk dalam rukun Islam. Namun demikian ada perbedaan antara zakat dan sholat. Zakat mencerminkan jiwa pemimpin yang sensitif dengan persoalan sosial. Jika Sholat merupakan ibadah yang mencerminkan hubungan hamba dengan Kholik-nya saja, maka Zakat mencerminkan hubungan seorang hamba dengan kholiknya dan dengan hamba ALLAH  yang lainnya baik itu yang seiman maupun yang tidak. Seorang pemimpin semestinya tanggap dengan kondisi dan persoalan yang dihadapai oleh masyarakat. Karena memang fungsi yang paling esensi dari seorang pemimpin itu terletak pada sifat sosial yang dimiliki. Karena sifat-sifat inilah yang memang telah dicerminkan oleh Rasulullah SAW terhadap semua makhluk ciptaan Tuhan tanpa pandang bulu melihat konteks dan status.
Pemimpin memerintahkan pada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar. Memerintahkan pada yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran merupakan sebuah perintah Allah Swt kepada setiap hamba. Pemimpin harus memiliki jiwa yang tegas dalam mengeluarkan kebijakan, dan tentunya kebijakan itu tidak merugikan orang lain. Menegakkan amar makruf mungkin akan lebih mudah karena memang konteks ini hanya menyuruh orang untuk melakukan kebaikan, beribadah kepada Allah terlepas orang menerima atau tidak. Tetapi mencegah kemungkaran tidak semudah amar makruf, karena memang dalam konteks ini membutuhkan sebuah kekuatan, bekal yang mantap untuk mencegah kemungkaran, karena itulah seorang pemimpin harus tegas dan berani dalam menegakkan kebenaran dan sanggup menyuarakan kebernaran walaupun ada tekanan dari berbagai pihak yang tidak suka dengan kebenaran dan keamanan ditegakkan di tengah-tengah masyarakat.
Pemimpin menyerahkan kepada Allah atas kesudahan segala urusan. Poin terakhir ini tidak kalah penting dengan tiga point sebelumnya. Point ini menunjukan bahwa seorang pemimpin harus bertawakkal kepada Allah Swt. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, sedangkan Allah Swt yang mengabulkan usaha dan permintaannya. Oleh karenanya, setiap manusia tidak boleh sombong. Sesuatu yang dikehendaki tidak akan terjadi tanpa izin Allah Swt. Dengan memperhatikan empat hal tersebut, maka seorang pemimpin, baik pemimpin bagi orang lain maupun pemimpin untuk diri sendiri, harus bertaqwa kepada Allah Swt, memperhatikan keadaan yang dipimpin, bersikap tegas dalam kebajikan, dan bertawakkal kepada Allah Swt atas setiap usaha yang dilakukan dan disertai dengan.
Empat hal tersebut bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilaksanakan. Semuanya merupakan acuan yang mesti dilaksanakan oleh seorang pemimpin agar menjadi seorang pemimpin yang bertanggungjawab baik kepada orang lain, terlebih lagi kepada Allah Swt. Karena seorang pemimpin tidak hanya bertanggung jawab kepada yang dipimpin. Pemimpin juga bertanggungjawab kepada yang memberikan amanah tersebut yakni  Allah Swt. Pemimpin yang hanya bertanggungjawab kepada manusia akan menjadi pemimpin yang “pincang”. Karena pada hakikatnya, posisi sebagai pemimpin adalah amanah yang Allah Swt berikan. Tidak semata-mata karena manusia. Manusia hanya wasilah. Maka pertanggungjawaban seorang pemimpin yang sesungguhnya adalah kepada Allah Swt. Sejahtera atau tidaknya warganegara, sakinah atau tidaknya sebuah keluarga, baik-burknya akhlak manusia, semuanya dipertanggungjawabkan kepada Allah Swt.
Disamping itu semua seorang pemimpin harus juga memiliki keahlian (skill) yang mesti termanifestasikan dalam diri seorang pemimpin. Skill yang mesti dimiliki seorang pemimpin dalam menjalankan tugasnya lain seorang pemimpin harus memiliki komunikasi yang verbal, dapat memeneg waktu dengan baik sehingga waktu tidak ada yang sia-sia, dapat memeneg pengambilan keputusan sehingga keputusan yang diambil tidak tergesa-tergesa dan keputusan tersebut memang tepat sesuai kebutuhan. Mengakui, menjelaskan dan memecahkan persolan yang dihadapi, dapat memotivasi dan mempengaruhi orang lain. Mendelegasikan wewenang, dapat menetapkan tujuan dan menjelaskan visi, memiliki kesadaran diri bahwa pemimpin memiliki tanggung jawab, membangun kerja tim yang solid, dan dapat memeneg konflik yang dihadapai sehingga tidak terjadi perpecahan dalam masyarakat.
Hukum-hukum Allah adalah suatu keniscayaan yang mengatur ummat manusia, yang membantu manusia dalam mencapai realitas kebahagiaan. Hukum-hukum Allah ditegakkan agar keadilan dan kebenaran dapat terjamah oleh orang-orang yang tertindas dan terdzalimi. Sekarang ini untuk terjaganya hukum-hukum Illahiah yang mengatur kehidupan umat manusia dan masyarakat, maka di butuhkan seorang pemimpin yang memiliki pengetahuan luas tentang hukum Allah dan keadilan, akhlak yang mulia, matang secara kejiwaan dan ruhani, kemampuan mengatur (mengorganisasi), dan memiliki pola hidup yang sederhana. Intinya pemimpin haruslah wujud dari hukum Islam itu.
VI. Kriteria Pemimpin
Sebagai langkah awal dalam memahami pemimpin yang tepat untuk diperhatikan sebagai seorang calon-calon pemimpin adalah ada lima kriteria minimal yang harus dipenuhi yakni :
a.    Pertama : Beriman
Pemimpin jangan hanya beriman ketika hanya berkampanye dengan mendatangi ulama-ulama, pesantren-pesantern atau lembaga keagamaan lainnya, tetapi ketika sudah menjadi seorang pemimpin lupa dengan komitmennya dan tidak mau tau dengan kondisi umat. Nilai-nilai luhur kepemimpinan yang diajarkan oleh Islam tidak akan bisa dijalankan kecuali oleh orang-orang yang benar-benar beriman bukan mukmin gadungan yang selalu berubah sesuai dengan arah angin kencang hanya untuk kepentingan pribadi atau golongan semata.
b.    Kedua : Memiliki Keahlian (Skill)
Seorang pemimpin yang ideal harus memiliki visi dan misi yang jelas dan realistis sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sehingga memang memiliki kemampuan untuk memimpin dan membangun Sumatra utara yang bermoral dan bermartabat. Kemampuan atau keahlian merupakan syarat mutlak untuk menjalani amanah pemimpin. Rasulullah juga telah mengingatkan kita bahwa setiap pekerjaan itu harus diserahkan kepada ahlinya, jika tidak maka tunggu kita tinggal menunggu waktu kehancurannya (HR. Muslim).
c.    Ketiga : Bisa Diterima Dalam Masyarakat
Keahlian yang teruji ditambah dengan integgritas pribadi yang terpuji membuat seseorang menjadi mudah diterima ditengah-tengah masyarakat. Seseorang memiliki cacat di mata masyarakat tidak layak untuk menjadi seorang pemimpin terlebih berkaitan dengan masalah moral.
d.    Keempat : Tidak Arogan, Otoriter, dan Mau Menerima Masukan
Seorang Pemimpin harus memiliki pandangan bahwa dirinya adalah pelayan bagi masyaraktnya. Hidupnya senantiasa menghabiskan hari-harinya untuk kepentingan masyarakat. Tidak sombong apalagi bergaya Fira’un.
e.    Kelima : Berkualitas. Baik dari Segi Fisik, Mental dan Intelektual
Pengetahuan dan wawasan yang luas, mental dan fisik yang sehat sangat menentukan dan membantu seorang pemimipin dalam mejalani kepemimpinannya untuk memecahkan berbagai persolan yang dihadapi. Seorang pemimpin harus memiliki jenjang pendidikan yang telah dijalani untuk menunjukkan keintelektualitasnya. Rasulullah juga telah memberikan kita gambaran bahwa seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Swt ketimbang seorang mukmin yang lemah.
Maka sudah jelas kiranya bahwa strategi yang harus dimiliki oleh seorang  pemimpin dalam menjalani kepemimpinannya, agar nantinya roda kepemimpinan bisa berjalan dengan baik dan berhasil dengan banyak memberikan kontribusi dan dapat membangun masyarakat yang sejahtera, makmur dan bermartabat adalah dengan memnguasai konsep-konsep kepemimpinan yang Islami seperti yang dijelaskan di atas.

DAFTAR PUSTAKA
1.   Al-Milal wan-Nihal I/24 atau lihat Dr Ali As-Salus, Imamh dan Khilafah dalam Tinjauan Syar’i, Gema Insani Press.
2.   Haidar Bagir dalam Ali Syari’ati, Ummah dan Imamah, Bandung, Pustaka Hidayah, 1989
3.   Murtadha Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta, Lentera
4.   Dr. Ali As-Salus, Imamah dan Khilafah Dalam Tinjauan Syar’i,Gema Insani Press, Jakarta 1997
5.   Andi Anas, Konsep Wilayah Al-Faqih menurut Imam Khomeini, Skripsi pada   Fakultas Ushuluddin Jurusan Perbandingan Agama UNISBA, 2006
6.   Imam Khomeini, Sistem Pemerintahan Islam, Pustaka Zahra, Jakarta, 2002
7. Armanu Thoyib.2004. Strategi Managemen Konflik Dalam Organisasi      Multibudaya, Jurnal Managemen dan Bisnis(JMB) Vol.1,No.1

Oleh : M Ihsan Dacholfany  M.Ed (Aby Nurul Izzah dan Natsir al-Irsyad)

Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a.

Sahabat yang lahir dalam keprihatinan dan meninggal dalam Kesunyian.

Dialah, khalifah Ali bin Abi Thalib ra.

Ali kecil adalah anak yang malang. Namun, kehadiran Muhammad SAW telah memberi seberkas pelangi baginya. Ali, tidak pernah bisa bercurah hati kepada ayahnya, Abi Thalib, selega ia bercurah hati kepada Rasulullah. Sebab, hingga akhir hayatnya pun, Abi Thalib tetap tak mampu mengucap kata syahadat tanda penyerahan hatinya kepada Allah. Ayahnya tak pernah bisa merasa betapa nikmatnya saat bersujud menyerahkan diri,kepada Allah Rabb semesta sekalian alam.

Kematian ayahnya tanpa membawa sejumput iman begitu memukul Ali. Kelak dari sinilah, ia kemudian bertekad kuat untuk tak mengulang kejadian ini buat kedua kali. Ia ingin, saat dirinya harus mati nanti, anak-anaknya tak lagi menangisi ayahnya seperti tangis dirinya untuk ayahnya, Abi Thalib. Tak cuma dirinya, disebelahnya, Rasulullah pun turut menangisi kenyataan tragis ini…saat paman yang selama ini melindunginya, tak mampu ia lindungi nanti…di hari akhir,karena ketiaadaan iman di dalam dadanya.

Betul-betul pahit, padahal Ali tahu bahwa ayahnya sangatlah mencintai dirinya dan Rasulullah. Saat ayahnya, buat pertama kali memergoki dirinya sholat berjamaah bersama Rasulullah, ia telah menyatakan dukungannya. Abi Thalib berkata, “”Janganlah kau berpisah darinya (Rasulullah), karena ia tidak mengajakmu kecuali kepada kebaikan”.

Sejak masih berumur 6 tahun, Ali telah bersama dan menjadi pengikut setia Rasulullah. Sejarah kelak mencatat bahwa Ali terbukti berkomitmen pada kesetiaannya. Ia telah hadir bersama Rasulullah sejak awal dan baru berakhir saat Rasulullah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ali ada disaat yang lain tiada. Ali adalah tameng hidup Rasulullah dalam kondisi kritis atau dalam berbagai peperangan genting, saat diri Rasulullah terancam.

Kecintaan Ali pada Rasulullah, dibalas dengan sangat manis oleh Rasulullah. Pada sebuah kesempatan ia menghadiahkan kepada Ali sebuah kalimat yang begitu melegenda, yaitu : “Ali, engkaulah saudaraku…di dunia dan di akhirat…”

Ali, adalah pribadi yang istimewa. Ia adalah remaja pertama di belahan bumi ini yang meyakini kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah. Konsekuensinya adalah, ia kemudian seperti tercerabut dari kegermerlapan dunia remaja. Disaat remaja lain berhura-hura. Ali telah berkenalan dengan nilai-nilai spiritual yang ditunjukkan oleh Rasulullah, baik melalui lisan maupun melalui tindak-tanduk beliau. “Aku selalu mengikutinya (Rasulullah SAWW) sebagaimana anak kecil selalu membuntuti ibunya. Setiap hari ia menunjukkan kepadaku akhlak yang mulai dan memerintahkanku untuk mengikuti jejaknya”, begitu kata Ali mengenang masa-masa indah bersama Rasulullah tidak lama setelah Rasulullah wafat.

Amirul mukminin Ali, tumbuh menjadi pemuda yang berdedikasi. Dalam berbagai forum serius yang dihadiri para tetua, Ali selalu ada mewakili kemudaan. Namun, muda tak berarti tak bijaksana. Banyak argumen dan kata-kata Ali yang kemudian menjadi rujukan. Khalifah Umar bahkan pernah berkata,”Tanpa Ali, Umar sudah lama binasa”

Pengorbanannya menjadi buah bibir sejarah Islam. Ali-lah yang bersedia tidur di ranjang Rasulullah, menggantikan dirinya, saat rumahnya telah terkepung oleh puluhan pemuda terbaik utusan kaum kafir Quraisy yang hendak membunuhnya di pagi buta. Ali bertaruh nyawa. Dan hanya desain Allah saja semata, jika kemudian ia masih tetap selamat, begitu juga dengan Rasulullah yang saat itu ‘terpaksa’ hijrah ditemani Abu Bakar seorang.

Keperkasaan Ali tiada banding. Dalam perang Badar, perang pertama yang paling berkesan bagi Rasulullah (sehingga setelahnya, beliau memanggil para sahabat yang ikut berjuang dalam Badar dengan sebutan ” Yaa…ahlul Badar…”), Ali menunjukkan siapa dirinya sesungguhnya. Dalam perang itu ia berhasil menewaskan separo dari 70an pihak musuh yang terbunuh. Hari itu, bersama sepasukan malaikat yang turun dari langit, Ali mengamuk laksana badai gurun.

Perang Badar adalah perang spiritual. Di sinilah, para sahabat terdekat dan pertama-tama Rasulullah menunjukkan dedikasinya terhadap apa yang disebut dengan iman. Mulanya, jumlah lawan yang sepuluh kali lipat jumlahnya menggundahkan hati para sahabat. Namun, doa pamungkas Rasulullah menjadi penyelamat dari jiwa-jiwa yang gundah. Sebuah doa, semirip ultimatum, yang setelah itu tak pernah lagi diucapkan Rasulullah…”Ya Allah, disinilah sisa umat terbaikmu berkumpul…jika Engkau tak menurunkan bantuanmu, Islam takkan lagi tegak di muka bumi ini…”

Dalam berbagai siroh, disebutkan bahwa musuh kemudian melihat jumlah pasukan muslim seakan tiada batasnya, padahal jumlah sejatinya tidaklah lebih dari 30 gelintir. Pasukan berjubah putih berkuda putih seperti turun dari langit dan bergabung bersama pasukan Rasulullah. Itulah, kemenangan pasukan iman. Dan Ali, menjadi bintang lapangannya hari itu.

Tak hanya Badar, banyak peperangan setelahnya menjadikan Ali sebagai sosok yang disegani. Di Uhud, perang paling berdarah bagi kaum muslim, Ali menjadi penyelamat karena dialah yang tetap teguh mengibarkan panji Islam setelah satu demi satu para sahabat bertumbangan. Dan yang terpenting, Ali melindungi Rasulullah yang kala itu terjepit hingga gigi RAsulullah bahkan rompal dan darah mengalir di mana-mana. Teriakan takbir dari Ali menguatkan kembali semangat bertarung para sahabat, terutama setelah melihat Rasululah dalam kondisi kritis.

Perang Uhud meski pahit namun sejatinya berbuah manis. Di Uhud, Rasulullah banyak kehilangan sahabat terbaiknya, para ahlul Badar. Termasuk pamannya, Hamzah –sang singa padang pasir. Kedukaan yang tak terperi, sebab Hamzah-lah yang selama ini loyal melindungi Rasulullah setelah Abi Thalib wafat. Buah manisnya adalah, doa penting Rasulullah juga terkabul, yaitu masuknya Khalid bin Walid, panglima musuh di Perang Uhud, ke pangkuan Islam. Khalid kemudian, hingga akhir hayatnya, mempersembahkan kontribusi besar terhadap kemenangan dan perkembangan Islam.

Bagi Ali sendiri, perang Uhud makin menguatkan imagi tersendiri pada sosok Fatimah binti Muhammad SAW. Sebab di perang Uhud, Fatimah turut serta. Dialah yang membasuh luka ayahnya, juga Ali, berikut pedang dan baju perisainya yang bersimbah darah.

Juga di perang Khandak. Perang yang juga terhitung genting. Perang pertama yang sifatnya psyco-war. Ali kembali menjadi pahlawan, setelah cuma ia satu-satunya sahabat yang ‘berani’ maju meladeni tantangan seorang musuh yang dikenal jawara paling tangguh, ‘Amr bin Abdi Wud. Dalam gumpalan debu pasir dan dentingan suara pedang. Ali bertarung satu lawan satu. Rasulullah SAW bahkan bersabda: “Manifestasi seluruh iman sedang berhadapan dengan manifestasi seluruh kekufuran”.

Dan teriakan takbir menjadi pertanda, bahwa Ali menyudahinya dengan kemenangan. Kerja keras Ali berbuah. Kemenangan di raih pasukan Islam tanpa ada benturan kedua pasukan. Tidak ada pertumpahan darah. kegemilangan ini, membuat Rasulullah SAW pada sebuah kesempatan : “Peperangan Ali dengan ‘Amr lebih utama dari amalan umatku hingga hari kiamat kelak”.

Seluruh peperangan Rasulullah diikuti oleh Ali, kecuali satu di Perang Tabuk. Rasulullah memintanya menetap di Mekkah untuk menjaga stabilitas wilayah. Sebab Rasulullah mengetahui, ada upaya busuk dari kaum munafiq untuk melemahkan Mekkah dari dalam saat Rasulullah keluar memimpin perang TAbuk. Kehadiran Ali di Mekkah, meski seorang diri, telah berhasil memporakporandakan rencana buruk itu. Nyali mereka ciut, mengetahui ada Ali di tengah-tengah mereka.

Perubahan drastis ditunjukkan Ali setelah Rasulullah wafat. Ia lebih suka menyepi, bergelut dengan ilmu, mengajarkan Islam kepada murid-muridnya. Di fase inilah, Ali menjadi sosok dirinya yang lain, yaitu seorang pemikir. Keperkasaannya yang melegenda telah diubahnya menjadi sosok yang identik dengan ilmu. Ali benar-benar terinspirasi oleh kata-kata Rasulullah, “jika aku ini adalah kota ilmu, maka Ali adalah pintu gerbangnya”. Dari ahli pedang menjadi ahli kalam (pena). Ali begitu tenggelam didalamnya, hingga kemudian ia ‘terbangun’ kembali ke gelanggang untuk menyelesaikan ‘benang ruwet’, sebuah nokta merah dalam sejarah Islam. Sebuah fase di mana sahabat harus bertempur melawan sahabat.

Kenangan Bersama Fatimah Az-Zahra
Sejatinya, sosok Fatimah telah lama ada di hati Ali. Ali-lah yang mengantarkan Fatimah kecil meninggalkan Mekkah menyusul ayahnya yang telah dulu hijrah. Ali pula yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri, betapa Fatimah menangis tersedu-sedu setiap kali Rasulullah dizhalimi. Ali bisa merasakan betapa pedihnya hati fatimah saat ia membersihkan kotoran kambing dari punggung ayahnya yang sedang sholat, yang dilemparkan dengan penuh kebencian oleh orang-orang kafir quraisy.

Bagi Fatimah, sosok rasulullah, ayahnya, adalah sosok yang paling dirindukannya. Meski hati sedih bukan kepalang, duka tak berujung suka, begitu melihat wajah ayahnya, semua sedih dan duka akan sirna seketika. Bagi Fatimah, Rasulullah adalah inspirator terbesar dalam hidupnya. Fatimah hidup dalam kesederhanaan karena Rasulullah menampakkan padanya hakikat kesederhanaan dan kebersahajaan. Fatimah belajar sabar, karena Rasulullah telah menanamkan makna kesabaran melalui deraan dan fitnah yang diterimanya di sepanjang hidupnya. Dan Ali merasakan itu semua. Karena ia tumbuh dan besar di tengah-tengah mereka berdua.

Maka, saat Rasulullah mempercayakan Fatimah pada dirinya, sebagai belahan jiwanya, sebagai teman mengarungi kehidupan, maka saat itulah hari paling bersejarah bagi dirinya. Sebab, sesunguhnya, Fatimah bagi Ali adalah seperti bunda Khodijah bagi Rasulullah. Teramatlah istimewa.

Suka duka, yang lebih banyak dukanya mereka lewati bersama. Dua hari setelah kelahiran Hasan, putra pertama mereka, Ali harus berangkat pergi ke medan perang bersama Rasulullah. Ali tidak pernah benar-benar bisa mencurahkan seluruh cintanya buat Fatimah juga anaknya. Ada mulut-mulut umat yang menganga yang juga menanti cinta sang khalifah.

Mereka berdua hidup dalam kesederhanaan. Kesederhanaan yang sampai mengguncang langit. Penduduk langit bahkan sampai ikut menangis karenanya. Berhari-hari tak ada makanan di meja makan. Puasa tiga hari berturut-turut karena ketiadaan makanan pernah hinggap dalam kehidupan mereka. Tengoklah Ali, dia sedang menimba air di pojokkan sana, Setiap timba yang bisa angkat, dihargai dengan sebutir kurma. Hasan dan Husein bukan main riangnya mendapatkan sekerat kurma dari sang ayah.

Pun, demikian tak pernah ada keluk kesah dari mulut mereka. Bahkan, mereka masih bisa bersedekah. Rasulullah…tak mampu menahan tangisnya… saat mengetahui Fatimah memberikan satu-satunya benda berharga miliknya, seuntai kalung peninggalan sang bunda Khodijah, ketika kedatangan pengemis yang meminta belas kasihan padanya. Rasulullah, yang perkasa itu, tak mampu menyembunyikan betapa air matanya menetes satu persatu…terutama mengingat bahwa kalung itu begitu khusus maknanya bagi dirinya… dan fatimah rela melepasnya, demi menyelamatkan perut seorang pengemis yang lapar, yang bahkan tidak pula dikenalnya.

Dan lihatlah…langit tak diam. Mereka telah menyusun rencana. HIngga, melalui tangan para sahabat, kalung itu akhirnya kembali ke Fatimah. Sang pengemis, budak belaian itu bisa pulang dalam keadaan kenyang, dan punya bekal pulang, menjadi hamba yang merdeka pula. Dan yang terpenting adalah kalung itu telah kembali ke lehernya yang paling berhak…Fatimah.

Namun, waktu terus berjalan. Cinta di dunia tidaklah pernah abadi. Sebab jasad terbatasi oleh usia. Mati. Sepeninggal Rasulullah, Fatimah lebih sering berada dalam kesendirian. Ia bahkan sering sakit-sakitan. Sebuah kondisi yang sebelumnya tidak pernah terjadi saat rasulullah masih hidup. Fatimah seperti tak bisa menerima, mengapa kondisi umat begitu cepat berubah sepeninggal ayahnya. Fatimah merasa telah kehilangan sesuatu yang bernama cinta pada diri umat terhadap pemimpinnya. Dan ia semakin menderita karenanya setiap kali ia terkenang pada sosok yang dirindukannya, Rasulullah SAW.

Pada masa ketika kekalutan tengah berada di puncaknya, Fatimah teringat pada sepenggal kalimat rahasia ayahnya. Pada detik-detik kematian Rasulullah…di tengah isak tangis Fatimah…Rasulullah membisikkan sesuatu pada Fatimah, yang dengan itu telah berhasil membuat Fatimah tersenyum. Senyum yang tak bisa terbaca. Pesan Rasulullah itu sangatlah rahasia, dia hanya bisa terkatakan nanti setelah Rasulullah wafat atau saat Fatimah seperti sekarang ini…terbujur di pembaringan. Ya, Rasulullah berkata, “Sepeninggalku, …diantara bait-ku (keluargaku), engkaulah yang pertama-tama akan menyusulku…”

Kini, Fatimah telah menunggu masa itu. Ia telah sedemikian rindu dengan ayahanda pujaan hatinya. Setelah menatap mata suaminya, dan menggenggam erat tangannya…seakan ingin berkata, “kutunggu dirimu nanti di surga…bersama ayah…”, Fatimah Az-Zahro menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya… dalam deraian air mata… Ali menguburkan jasad istrinya tercinta itu…yang masih belia itu…sendiri…di tengah malam buta…Ali tidak ingin membagi perasaannya itu dengan orang lain. Mereka berdua larut dalam keheningan yang hanya mereka berdua yang tahu. Lama Ali terpekur di gundukan tanah merah yang baru saja dibuatnya. Setiap katanya adalah setiap tetes air matanya. Mengalir begitu deras. Hingga kemudian, dengan dua tangan terkepal. Ali bangkit berdiri…dan berteriak sekeras-seKerasnya sambil menghadap langit….” A L L A H U … A K B A R”.

Pertempuran Antar Sahabat
Amirul Mukminin Ali ra., kemudian berkonsentrasi membenahi kondisi umat. Terutama pada sisi administrasi pemerintahan, ekonomi dan stabilitas pertahanan. Beberapa reformasi fundamental, seperti penggantian pejabat dan pengambilan kembali harta yang pernah diberikan oleh khalifah sebelumnya (Ustman bin Affan) menyulut kontroversi. Terutama, dalam kacamata awam, Ali tak pula kunjung menyeret pelaku pembunuhan Khalifah Ustman ke pengadilan.

Yang harus dihadapi Ali tak tanggung-tanggung, sahabatnya sendiri. Sahabat yang dulu pernah berjuang bersama Rasulullah menegakkan Islam, kini berada dalam barisan yang hendak melawannya. Bahkan ada pula sahabat yang dulu membaiatnya menjadi khalifah. kini turut pula menghadangnya. Kondisi yang betul-betul pahit.

Ali tidak pandang bulu. Baginya hukum menyentuh siapa saja. Tidak ada istilah ‘orang kuat’ di mata Ali. BAgi beliau, “orang lemah terlihat kuat dimataku, saat aku harus berjuang keras mengembalikan hak miliknya yang terampas. Orang kuat terlihat lemah di mataku, saat aku terpaksa mengambil sesuatu darinya yang bukan menjadi haknya”.

Di masa Khalifah Ali, pusat pemerintahan di pindahkan ke Kuffah. Dari sini kemudian ia mengendalikan wilayah Islam, yang saat itu telah meluas termasuk Syam. Kondisi saat itu benar-benar membutuhkan ketegasan. Sebagai khalifah terakhir dalam bingkai Khulafa Ar-rasyidin, Ali dihadapkan pada masa pelik. Dimana akar dari permasalahannya adalah makin bertambahnya Islam dari segi jumlah namun makin berkurang pula dari segi kualitas. Interest pribadi (nafs), kesukuan (nasionalisme sempit) yang dibalut atas nama agama, menjadi awal mulanya masa kemunduran Islam.

Ketidaksempurnaan informasi yang diterima bunda Aisyah di Mekkah terhadap beberapa kebijakan Khalifah Ali telah membuatnya menyerbu Kuffah. Perang Jamal (Unta), demikian sejarah mencatatnya. Sebab bunda Aiysah ra memimpin perang melawan Ali dengan menunggangi Unta. Bersama Aisyah, turut pula sahabat Zubair bin Awam dan Thalhah. Di akhir peperangan, Khalifah Ali menjelaskan semuanya, dan Asiyah dipulangkan dengan hormat ke Mekkah. Ali mengutus beberapa pasukan khusus untuk mengawal kepulangan bunda Aisyah ke Mekkah.

Berikutnya adalah Perang Shiffin. Bermula dari GUbernur Syam, Muawiyyah bin Abu Sofyan yang menyatakan penolakannya atas keputusan Ali mengganti dirinya sebagai gubernur. Kondisi serba tak taat ini membuat Ali masygul. Mereka bertemu dalam Perang Siffin. Dan di saat-saat memasuki kekalahannya, pasukan Syam kemudian mengangkat Al-Quran tinggi-tinggi dengan tombaknya, yang membuat pasukan Kufah menghentikan serangan. Dengan cara itu, kemudian dibukalah pintu dialog.

Perundingan inilah yang kemudian membawa babak baru dalam kehidupan Ali, bahkan dunia Islam hingga saat ini. Sebuah tahkim (arbitrase) yang menurut sebagian pihak membuat Ali di bagian pihak yang kalah, namun menunjukkan kemuliaan hati Ali di sisi lain. Syam mengutus Amru Bin ‘Ash yang terkenal dengan negosiasinya dan Ali mengutus Abu Musa Asyari, yang terkenal dengan kejujurannya. Ali nampak betul-betul berharap terhadap perundingan ini dan menghasilkan traktat yang membawa kedamaian diantara keduanya. Namun, kelihaian mengolah kata-kata dari pihak Syam membuat arbitrase itu seperti mengukuhkan kemunduran Ali sebagai khalifah dan menggantikannya dengan Muawiyah.

Dan ini menimbulkan ketidakpuasan dari beberapa elemen di pasukan Ali. Dari sini, lahirlah para Khawarij yang kelak kemudian, bertanggung jawab terhadap kematian Khalifah Ali.

Khawarij itu, Tiga untuk Tiga… Mereka membentuk tim berisi tiga orang yang tugasnya membunuh tiga orang yang dianggap paling bertanggung jawab terhadap perundingan tersebut. Abdurahman bin Muljam ditugasi untuk membunuh Ali bin Thalib, Amr bin Abi Bakar ditugasi untuk membunuh Muawiyah, dan Amir bin Bakar ditugasi untuk membunuh Amr bin Ash. Mereka kemudian gagal membunuh tokoh-tokoh ini, kecuali Abdurahman bin Muljam.

Menjelang wafatnya Khalifah Ali ra, Ali sempat bermuram durja. Sebab, penduduk Kuffah termakan propaganda dan kehilangan ketaatan kepada dirinya. Saat Ali meminta warga Kuffah untuk mempersiapkan diri menyerbu Syam, namun warga Kuffah tak terlalu menanggapi seruan itu. Ini berdampak psikologis amat berat bagi Ali. Tidak hanya sekali dua kali. tapi acapkali seruan Khalifah Ali di anggap angin lalu oleh warga Kufah.

Karena itu, Ali sempat berkata,” “Aku terjebak di tengah orang-orang tidak menaati perintah dan tidak memenuhi panggilanku. Wahai kalian yang tidak mengerti kesetiaan! Untuk apa kalian menunggu? Mengapa kalian tidak melakukan tindakan apapun untuk membela agama Allah? Mana agama yang kalian yakini dan mana kecemburuan yang bisa membangkitkan amarah kalian?”

Pada kesempatan yang lain beliau juga berkata, “Wahai umat yang jika aku perintah tidak menggubris perintahku, dan jika aku panggil tidak menjawab panggilanku! Kalian adalah orang-orang yang kebingungan kala mendapat kesempatan dan lemah ketika diserang. Jika sekelompok orang datang dengan pemimpinnya, kalian cerca mereka, dan jika terpaksa melakukan pekerjaan berat, kalian menyerah. Aku tidak lagi merasa nyaman berada di tengah-tengah kalian. Jika bersama kalian, aku merasa sebatang kara.”

“Jika bersama kalian, aku merasa sebatang kara”. Pernyataan pedih mewakili hati yang pedih. Dalam kehidupan kekinian, mungkin bertebaran di tengah-tengah kita pemimpin-pemimpin baru atau anak-anak muda berjiwa pembaharu yang dalam hatinya sama dengan dalamnya hati Ali ra saat mengucapkan kalimat itu. Mereka menawarkan jalan cerah tapi, kita umatnya memilih kegelapan yang nampak menyilaukan. Kita abai terhadap ajakan mereka, dan malah mungkin memusuhinya…mengisolasinya. Ahhh…semoga kita terhindar dari kelakuan keji itu…

Usaha Khalifah Ali ra untuk menyusun kembali peta kekuatan Islam sebenarnya telah diambang keberhasilan. Satu demi satu yang dulunya tercerai berai telah kembali berikrar setia pada beliau. Namun , Allah berkehendak lain, setelah berjuang keras sekitar 5 tahun menjaga amanah kepemimpinan umat, dan setelah melewati berbagai fitnah dan deraan, Khalifah Ali menyusul kekasih hatinya, Rasulullah SAW dan FAtimah Az-Zahra menghadap Sang Pencipta, Allah SWT.

Hari itu, tanggal 19 ramadhan tahun 40 H, saat beliau mengangkat kepala dari sujudnya, sebilah pedang beracun terayun dan mendarat tepat di atas dahinya. Darah mengucur deras membahasi mihrab masjid. “Fuztu wa rabbil ka’bah. Demi pemilik Ka’bah, aku telah meraih kemenangan.”, sabda Ali di tengah cucuran darah yang mengalir. Dua hari setelahnya, Khalifah Ali wafat. Ia menemui kesyahidan seperti cita-citanya. Seperti istrinya, Ali juga dimakamkan diam-diam di gelap malam oleh keluarganya di luar kota Kuffah.

Di detik-detik kematiannya, bibir beliau berulang-ulang mengucapkan “Lailahaillallah” dan membaca ayat, “Faman ya’mal mitsqala dzarratin khairan yarah. Waman ya’mal mitsqala dzarratin syarran yarah.” yang artinya, “Siapapun yang melakukan kebaikan sebiji atompun, dia akan mendapatkan balasannyanya, dan siapa saja melakukan keburukan meski sekecil biji atom, kelak dia akan mendapatkan balasannya.”

Beliau sempat pula mewasiatkan nasehat kepada keluarganya dan juga umat muslim. Di antaranya : menjalin hubungan sanak keluaga atau silaturrahim, memperhatikan anak yatim dan tetangga, mengamalkan ajaran Al-Qur’an, menegakkan shalat yang merupakan tiang agama, melaksanakan ibadah haji, puasa, jihad, zakat, memperhatikan keluarga Nabi dan hamba-hamba Allah, serta menjalankan amr maruf dan nahi munkar.

Islam telah ditinggalkan oleh satu lagi putra terbaiknya. Pengalaman heroik hidupnya telah melahirkan begitu banyak kata-kata mulia yang mungkin akan pula menjadi abadi. Ia menjadi inspirasi bagi setiap pemimpin yang ingin membawa bumi ini pada ketundukan kepada Allah SWT.

Saat ia dicerca dari banyak arah, lahirlah perkataan beliau : “Cercaan para pencerca tidak akan melemahkan semangat selama aku berada di jalan Allah”.

Saat beliau mesti menerima kenyataan pahit berperang dengan sahabatnya sendiri, dan juga mendapatkan persahabatan dari oarng yang dulunya menjadi musuh,lahirlah : “Cintailah sahabatmu biasa saja, karena mungkin ia akan menjadi penentangmu pada suatu hari, dan bencilah musuhmu biasa saja, karena mungkin ia akan menjadi sahabatmu pada suatu hari”.

Beliau juga sangat menghormati ilmu. Tidak terkira banyaknya, kalmat bijak yang keluar dari mulutnya tentang keutamaan mencari ilmu. Ia juga menyarankan orang untuk sejenak merenungi ilmu dan hikmah-hikmah kehidupan. Kata beliau, “Renungkanlah berita yang kau dengar secara baik-baik (dan jangan hanya menjadi penukil berita), penukil ilmu sangatlah banyak dan perenungnya sangat sedikit”.

Khalifah Ali ra adalah sebuah legenda. He is a legend. Dan legenda tidak akan pernah mati. Bisa jadi, saat lilin-lilin di sekitar kita mulai padam satu persatu, dan kita kehilangan panduan karenanya, maka pejamkanlah saja sekalian matamu. Hadirkan para legenda-legenda Islam itu, termasuk beliau ini, dalam benakmu dan niscaya ia akan menjadi penerang bagimu…seterang-terangnya cahaya yang pernah ada di muka bumi.

Sumber dipetik dari http://doniriadi.blogspot.com/2008/04/cinta-di-atas-cinta-1-khalifah-ali-bin.html

Kepemimpinan Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a.

Tetapi yang terpenting bagaimana mereka memimpin daerah ini dengan HATI NURANI dalam gaya kepemimpinan yang sederhana dan ampuh dan tentunya tidak salah juga jika berkaca pada kisah kepemimpinan yang menarik dan patut diteladani oleh setiap pemimpin ialah kepemimpinan Khalifah Umar Bin Chattab yang kisahnya seperti berikut:

Suatu malam beliau berjalan-jalan melihat keadaan rakyatnya. Sampailah perjalanan malamnya di suatu desa, dari jauh didengarnya tangisan bocah kecil yang sangat menyayat hati. Suara itu didekatinya dan setelah sampai disuatu gubuk betapa terkejutnya Khalifah Umar disela-sela dinding, dilihatnya seorang perempuan duduk didepan tungku.

Ketika Khalifah Umar masuk kedalam gubuk itu, ditanyalah ibu tersebut”mengapa anak-anak menangis dan gerangan apa yang ditanak itu? Ibu itu memberi tahu bahwa yang ditanak (dimasak) adalah kerikil. Anaknya menangis karena kelaparan karena tidak ada gandum atau beras untuk dimasak.

Dengan pura-pura menanak itu harapannya supaya tangis anaknya berkurang dan kalau capek menangis mereka akan tidur. Ibu itu mengatakan kritiknya terhadap kepemimpinan Khalifah Umar yang tidak mengetahui rakyatnya hidup menderita seperti dia. Ibu itu tak mengetahui bahwa yang dihadapinya adalah Khalifah Umar, pemimpin negara dan bangsanya.

Setelah mendengar keadan ibu tersebut, Khalifah Umar permisi menuju gudang persediaan makanan diambilnya satu karung gandum dan dipikulnya sendiri untuk diberikan kepada ibu tersebut. Saat itu akan ditolong oleh sahabatnya yang menyertai dalam perjalanannya membawa gandum tersebut tetapi ditolak oleh Khalifah Umar dengan ucapan: “APAKAH KAU SANGGUP MEMIKUL DOSA-KU KELAK DIHADAPAN TUHAN?”

Dari kisah kepemimpinan Khalifah Umar dapat ditarik kesimpulan “janganlah menjadi pemimpin dengan manajemen Asal Bapak Senang (ABS), karena itulah Khalifah Umar dikritik oleh rakyatnya tetapi beliau tidak tersinggung karena beliau tahu beliau bersalah dan tidak menyalahkan orang lain karena memang adalah tanggung jawabnya karena itu dipikul sendiri kesalahannya.

Beliau (Khalifah Umar) tahu bahwa kewenangan diperoleh dari rakyat dan dapat dilimpahkan kepada orang lain dan juga beliau tahu bahwa tanggung jawab tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain.

http://www.timorexpress.com/index.php?act=news&nid=24823

Kepemimpinan Khalifah Abu Bakar r.a.

Kalau kita bicara figur kepemimpinan mana yang terbaik dan layak menjadi teladan? Tentu secara imani, sebagai seorang muslim kita langsung mengatakan Rasulullah Saw. Beliaulah Saw yang merupakan pemimpin riil kaum muslimin, di samping pemimpin para Nabi. Para sahabat beliau Saw adalah orang-orang yang bergaul dan berjuang bersama-sama beliau Saw. Merekalah orang-orang yang mampu memahami dan merasakan ajaran Islam dan mampu meneladani Rasulullah Saw secara utuh. Di antara mereka, sepeninggal Rasul, ada yang menjadi khalifah, pengganti Rasulullah Saw dalam kepemimpinan umat, dalam rangka menjalankan pemerintahan dengan al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw. Dari merekalah kita bisa mendapat banyak pelajaran bagaimana meneladani Rasululah Saw dalam masalah kepemimpinan dan pemerintahan. Tulisan ini menguraikan sosok kepemimpinan salah seorang sahabat rasulullah Saw yang paling utama, pengganti beliau Saw mengimami sholat, dan pengganti beliau Saw dalam kepemimpinan negara dan umat Islam sepeninggal beliau Saw, yakni Khalifah Abu Bakar As Shiddiq r.a.

Cerdas, Supel, Jujur Dan Berani
Menurut Ibnu Hisyam dalam kitabnya Sirah Nabawiyah, Juz I/249-250, Abu Bakar r.a. adalah putra Abu Quhafah. Nama aslinya Abdullah, panggilannya Atiq (sang Tampan) lantaran wajahnya yang tampan dan cakap orangnya. Tatkala masuk Islam, Abu Bakar r.a. menampilkan keislamannya, dan mengajak orang kepada Allah dan Rasul-Nya. Dakwah Abu Bakar ini cukup efektif mengingat dia adalah seorang Quraisy yang yang supel dalam pergaulan, disukai dan diterima, seorang pebisnis, berbudi pekerti yang baik. Orang-orang biasa datang kepadanya dan bergaul dengannya untuk banyak urusan lantaran ilmu yang dimilikinya, bisnisnya, dan baik pergaulannya. Sejumlah sahabat yang masuk Islam di tangan Abu Bakar antara lain adalah Utsman bin Affan r.a., Zubair bin Awwam r.a., Abdurrahman bin Auf r.a., Saad bin Abi Waqash r.a., dan Thalhah bin Ubaidillah r.a.

Abu Bakar r.a. adalah orang yang cerdas, mudah mengerti dakwah yang disampaikan Rasulullah Saw sehingga dia pun cepat membenarkan dan meyakini apa yang dikatakan beliau Saw dan masuk Islam. Ibnu Hisyam (idem, hal 252) mengatakan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda:

Tidaklah aku mengajak seseorang kepada Islam melainkan dia tidak langsung menjawab, masih pikir-pikir, dan masih ragu-ragu, kecuali Abu Bakar bin Abi Quhafah. Tatkala aku berbicara dengannya, dia tidak menunda-nunda (pembenarannya) dan dia tidak ragu-ragu.”.

Tatkala Nabi Saw diperjalankan oleh Allah SWT dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, tidak sedikit orang yang langsung menolak kabar dari beliau mentah-mentah, bahkan ada sebagian kaum muslimin yang murtad, atau masih ragu-ragu, Abu Bakar secara cerdas membenarkannya dan mengatakan: “Jangankan kabar dari Muhammad Saw bahwa di berjalan di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqshaa, sedangkan kabar yang diperolehnya dari langit dalam sekejap saja saya terima.

Dengan keyakinan itu pula Abu Bakar siap dibina dengan Islam dan siap berjuang untuk Islam. Abu Bakar berani dan siap mengambil resiko berhadapan dengan Quraisy dalam mendakwahkan Islam. Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Al Bidayah wan Nihayah menuturkan: Tatkala Rasulullah Saw melaksanakan perintah Allah SWT untuk memperkenalkan kelompok dakwahnya secara terang-terangan (lihat QS. Al Hijr … ), dengan cara membentuk dua barisan yang dikepalai Hamzah r.a. dan Umar r.a. menuju Ka’bah, maka di situlah, di depan perwakilan para kabilah di Makkah, Abu Bakar r.a. berpidato. Dan orang-orang Quraisy pun memukulinya sampai mukanya babak belur dan pingsan. Namun setelah siuman, yang ditanyakan pertama kali adalah: Bagaimana keadaan Rasulullah? Pantaslah dia mendapatkan gelar As Shiddiiq, artinya yang lurus, yang benar, yang membuktikan kebenaran ucapannya dengan perbuatan.

Pidato Pertama Sebagai Khalifah Pertama
Setelah pembaiatan Abu Bakar r.a. sebagai Khalifah, beliau r.a. berpidato: “Hai saudara-saudara! Kalian telah membaiat saya sebagai khalifah (kepala negara). Sesungguhnya saya tidaklah lebih baik dari kalian. Oleh karenanya, apabila saya berbuat baik, maka tolonglah dan bantulah saya dalam kebaikan itu; tetapi apabila saya berbuat kesalahan, maka tegurlah saya. Taatlah kalian kepada saya selama saya taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian mentaati saya, apabila saya berbuat maksiat terhadap Allah dan Rasul-Nya.” (lihat Abdul Aziz Al Badri, Al Islam bainal Ulama wal Hukkam).

Pidato khalifah Abu Bakar r.a. di atas menunjukkan bahwa beliau sebagai khalifah tidak pernah menganggap dirinya sebagai orang yang suci yang harus diagung-agungkan. Tak ada dalam kamus beliau: The chaliphate can do no wrong! Beliau justru mengedepankan supremasi hukum syariah, dan menjadikan loyalitas dan ketaatan warga negara kepadanya merupakan satu paket dalam ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya. Beliau menjadikan syariah Allah sebagai standar untuk menentukan benar dan salah yang harus diikuti tidak hanya oleh rakyat, tapi juga oleh penguasa. Apa yang beliau nyatakan di atas jelas merupakan pengejawantahan dari pemahaman beliau terhadap firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Qs. an-Nisaa’ [4]: 59).

Juga merupakan refleksi dari pemahaman beliau kepada hadits Rasulullah Saw:

Tidak ada ketaatan kepada seseorang dalam bermaksiat kepada Allah, dan tidak ada ketaatan kepada orang yang maksiat kepada siapa saja yang berbuat maksiat.” [HR. Ahmad, Hakiem, dan Abu Dawud].

Lembut Tapi Tegas
Sejak sebelum Islam Abu Bakar r.a. terkenal sebagai orang yang baik, lembut hatinya, gemar menolong dan suka memberi maaf. Dan setelah Islam dan berkuasa sebagai khalifah pengganti Rasul dalam kepemimpinan negara dan umat, tentunya tidak diragukan lagi bahwa Abu Bakar r.a. adalah orang yang betul-betul memahami sabda Rasulullah Saw:

Ya Allah, siapa saja yang diberi tanggung jawab memimpin urusan pemerintahan umatku dan menimbulkan kesulitan bagi mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa saja yang memerintah umatku dengan sikap lembut (bersahabat) kepada mereka, maka lembutlah kepadanya.” [HR. Muslim].

Namun sebagai Khalifah, beliau wajib memerintah dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul, dan wajib menjaga agar supremasi hukum syariah tetap terjaga. Oleh karena itu, dalam rangka mempertahankan kedaulatan hukum syariah, tidak segan-segan beliau mengambil tindakan tegas bagi siapa saja yang hendak merobohkannya. Ini seperti yang beliau lakukan kepada sebagian kaum muslimin yang murtad dan tidak mau membayar zakat begitu mendengar berita wafatnya Rasulullah Saw. Sekalipun para sahabat yang diminta pendapatnya masih mentolerir tindakan orang-orang yang tak mau membayar zakat itu selama mereka masih sholat, namun Khalifah Abu Bakar tetap dalam pendiriannya. Di hadapan kaum muslimin beliau berpidato: “Wahai kaum muslimin, ketahuilah ketika Allah mengutus Muhammad, kebenaran itu (Al Islam) selalu diremehkan orang dan Islam dimusuhi sehingga banyak orang yang enggan masuk Islam karena takut disiksa. Namun Allah kemudian menolongnya sehingga seluruh bangsa Arab dapat disatukan di bawah naungannya. Demi Allah, aku akan tegakkan agama ini dan aku akan berjuang fi sabilillah sampai Allah memberikan kemenangan atau Allah akan memberikan surga bagi orang yang terbunuh di jalan Allah dan akan memberi kejayaan bagi orang yang mendapatkan kemenangan sehingga dia akan dapat menjadi hamba yang berbakti dengan aman sentausa. Demi Allah, jika mereka tidak mau membayar zakat, walaupun hanya seutas tali, pasti akan aku perangi walaupun jumlah mereka banyak sampai aku terbunuh, karena Allah tidak memisahkan kewajiban zakat dari kewajiban sholat.” (lihat Al Kandahlawy, Hayatus Shahabat, juga Kanzul Ummal).

Khatimah
Demikian sekelumit sosok kepemimpinan Abu Bakar yang lembut tapi tegas dalam penegakan supremasi hukum syariah. Kapankah segera datang masanya pemimpin seperti Abu Bakar sahabat Rasulullah ini? Walllahua’lam! [Hizbut Tahrir Online]

http://www.hayatulislam.net/hayatulislam-net83.php

Leadership vs Moralitas

Di aula pertemuan di salah satu Perguruan ternama di IRAN terjadi dialog antara mahasiswa dengan latar belakang yang beraneka ragam, dengan nara sumbernya seorang yang selama ini menjadi sorotan media dunia terkait keberaniannya dalam menentang agresi militer USA ke IRAK dan negara-negera teluk lainnya,seorang yang menjadi primadona masyarakatnya karena kesederhaannya. Dia adalah seorang dengan penampilan sederhana tapi punya kewibawaan yang sampai menggetarkan “gedung putih”.

Dalam acara itu terjadi dialog menarik terkait pertanyaan salah satu peserta yang menanyakan ke “Mahmoud Ahmadinejad” terkait mengapa dia bisa menjadi seorang presiden karena jika dilihat dari luar dia tidak punya “tampang seorang pemimpin”. Bagaimana mau memimpin Negara jika tampang saja tidak menyakinkan untuk menjadi Presiden, mungkin ini keraguan yang ada di hati mahasisiwa yang menanyakan tadi,tersentak dan kaget dengan pertanyaan tadi,dengan karakter aslinya “tenang dan tegas’ dia mengatakan benar bahwa dia tidak punya tampang seperti seorang pemimpin tapi dia punya tampang sebagai seorang pelaya. Singkat dan berkarakter apa yang di katakan seorang mantan walikota itu,ada kandungan makna yang luas terkait konsep pemahaman pemimpin. Mahmaud Ahmadinejad menyampaikan bahwa pemimpin dipilih untuk melayani masyarakatnya bukan untuk di layani sebagaimana yang kita lihat sekarang.

Kisah ini dapat kita telaah untuk pembelajaran dalam membentuk jiwa kepemimpinan terlepas dengan perdebatan terkait paham di Negara Iran “syiah” (paham yang di banyak Negara dilarang keberadaannya). Dengan melihat gaya kepemimpin seorang “Mahmoud ahmadinejad” kita akan membandingkan dengan kondisi kebangsaan kita,terkait dengan beberapa perkembangan isu beberapa pekan ini.Bentrok Antara Front Pembela Islam (FPI) dengan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB).

Peristiwa ini menarik di kaji karena kedua gerakan ini mayoritas berbasis gerakan keagamaan, bisa dikatakan bahwa mereka adalah gerakan yang berbasis moral. Fakta di lapangan (peristiwa bentrok di Monas Jakarta, Minggu 1/6) menunjukan mereka tidak bermoral di tengah negara yang punya aturan negara hukum) terkait benar salahnya alasan mereka melakukan kegiatan itu,bagaimanapun kekerasan tidak bisa dibenarkan untuk dipakai menyelesaikan perkara tersebut, apalagi kedua gerakan itu berdasarkan agama “moral”, karena masih ada berbagai sarana penyelesaiannya diluar kekerasan misalnya bisa melalui dialog secara objektif. Ini kemudian menjadikan moral dan kepemimpinan saling bertentangan karena di dalam bentrokan itu dapat di lihat beberapa pemimpinya yang ikut atau kedua belah pihak berlatar belakang gerakan keagamaan yang mengklaim saling membenarkan gerakannya.

Dua contoh peristiwa di atas akan membuka pikiran kita terkait kepemimpinan dan moralitas. Apakah keduanya dapat disatukan dalam sebuah karakter individu atau gerakan atau malah bertentangan yang tidak dapat disatukan lagi. Penulis mencoba mengurai topik ini menjadi sebuah usulan ilmiah untuk perubahan masyarakat yang lebih berkarakter khususnya Indonesia.

Dalam beberapa teori kepemimpinan dijelaskan bagaimana seorang individu (pemimipin) harus mengelola gerakan atau organisasi agar mampu produktif atau bersaing dengan gerakan yang lain. Pemilihan tipe kepemimpinan itu kemudian akan berpengaruh pada pembawaan dalam mengarahkan gerakannya. Dalam kenyataan di lapangan individu (pemimpin) kemudian terbentur dengan permasalahan yang beraneka ragam. Akibatnya gerakan ini mulai mempunyai arah kepentingan yang berbeda dan mulai dimasuki kepentingan-kepentingan pribadi, apabila kita bandingkan dengan beberapa perjalanan pemimpin besar bangsa ini yang pada titik akhir kekuasaan ia menjadi permasalahan bagi masyarakatnya karena keinginan untuk berkuasa terus atau nafsu berkuasannya terus meningkat seiring meningkatnya umur, seharusnya terbalik. Hal ini dapat dilihat dari beberapa Presiden yang meminpin bangsa diantaranya presiden pertama RI Bapak Ir. Soekarno dan Bapak Soeharto,kedua bentuk kepemimpinan yang pada masa awalnya menjadi sebuah harapan baru bagi bangsa Indonesia sampai kemudian di berikan gelar sebagai “bapak proklamasi dan bapak pembangunan”.Sebuah gelar yang diberikan sebagai bentuk penghormatan bangsa ini kepada para pemimpin yang telah memberikan hal terbaik untuk Negara Indonesia. Kepercayan tinggi yang diberikan masyarakat ternyata menjadi sebuah keinginan besar mereka untuk terus mengeloa Negara (Presiden) akibatnya terjadi penurunan tingkat kepercayan masyarakat dan akibatnya masyarakat sendiri yang menurunkan mereka dengan berbagai misteri yang sampai saat ini belum terselesaikan.

Mayoritas para pemimpin di awal kepemimpinannya mendapatkan dukungan yang sangat tinggi dari orang-orang di sekitarnya,prestasi-prestasi besar mulai muncul dari seorang pemimpin seperti.Tapi hal ini kemudian berdampak pada jiwa pemimpin yang mulai “sombong/gila jabatan” dengan dukungan dan penghargaan di sekitarnya. Akhir dari babak ini adalah pemimpin akan mengalami kejatuhan (terpuruk) dengan hasil akhir yang buruk. Ketika kita melihat pemimpin yang salah satu sisi ketika kepemimpin itu berdiri di atas nafsu (keinginan-keinginan) tanpa adanya sebuah batasan tata susila atau aturan moral di dalamnya.Berkaca dari kepemimpinan para raja-raja zaman dahulu,sebagaimana mereka mayoritas menginginkan untuk melebarkan sayap penguasaan wilayah teritorialnya atau mengekspansi daerah lain untuk di taklukan.bisa di simpulkan sementara bahwa pemisahan leadership dengan moralitas( tata laku pergaulan) akan berakibat pada timbulnya dampak negatife kepemimpinan pada masa itu.

Memimpin adalah sebuah seni dan kepemimpinan adalah sebuah karakter yang harus ada bagi orang-orang yang akan menjadi pemimpin. Menggabungkan antara leadership dengan moralitas akan bermanfaatan bagi masyarakat (orang yang di bawahnya). Moralitas adalah akhlaq,apabila dilihat dari sudut pandang dari agama,akhlaq adalah kebiasaan. kita ambil garis merahnya bahwa moralitas adalah batasan berbuat baik dan benar (ketentuan). Sebagaimana contoh seorang pemimpin IRAN,sebuah penggabungan antara dua aspek tersebut. Ada sebuah kekuatan dari dalam dirinya untuk memberikan aturan-aturan,contohnya adalah ketika seorang pemimpin akan melakukan korupsi terhadap dana di perusahaannya maka dalam hatinya akan timbul sebuah dorongan untuk menolaknya karena dia sadar itu bukan haknya dan akan berefek pada orang lain akan kena dampak karena perbuatannya. Dorongan ini bisa timbul secara otomatis atau harus dipaksa dahulu, tergantunng dari kondisi moral orang tersebut. Kita masih ingat bagaimana seorang auditor BPK “khoiriansyah” menolak mendapatkan dana suap dari kerjanya dan ia melaporkan terkait praktek suap menyuap dan korupsi di BPK. Ada sebuah dorongan untuk berbuat baik dan bersiap menerima resiko dari dampak perbuatannya. Pemimpin seperti inilah yang akan menjadi pengubah bagi kondisi bangsa ini pemimpin yang mempunyai moralitas.

Hal yang perlu diperhatikan dalam menggabungkan antara moralitas dan leadership agar dapat memberikan perubahan bagi organisasi atau gerakan. Pemimpin harus memberikan contoh terlebih dahulu (bagaima tipe pemimpin yang mampu menyatukan moraliats dan leadership) hal ini akan membantu orang-orang sekitar untuk mencontoh. Tapi juga perlu diingat bahwa selain mempunyai moral tidak kalah penting bahwa harus ada kompetensi dalam memimpin. Karena permasalahan di sekitar tidak selesai hanya dengan sebuah moral saja tetapai harus ada kemampuan dalam mengelola sebuah amanah (kepemimpinan). Banyak kondisi yang menghalangi beberapa pemimpin untuk berubah karena terbenturkan dengan kondisi di lapangan dimana tidak ada dukungan yang maksimal dari dibenci karena sering memberi pandangan berbeda dengan kebiasaan yang selama ini dilakukan organisasi tersebut atau orang-orang lama (senior) merasa didahului dengan sikap yang merasa benar (anggapan mereka). Maka bagi para pemimpin harus sudah siap-siap sejak awal untuk meningkatkan karakter penanggulangan masalah yang akan timbul.

oleh: Dani Setiawan; Ketua PUSKOMNAS FSLDK 2007-2009
http://www.fsldkn.org/ke-ummat-an/leadership-vs-moralitas.html

Kepemimpinan Khalifah Ustman Bin Affan r.a.

Amanah Jabatan under : Leadership

Ketika Khalifah Utsman bin Affan mengutus kurir ke negeri tetangga untuk menjalin hubungan persahabatan, Umi Kaltsum, istrinya, menitipkan bingkisan minyak wangi untuk istri raja negeri itu. Pulangnya, si kurir ganti membawa titipan bingkisan balasan dari istri raja berupa mutiara. Melihat kiriman tersebut, Utsman yang terkenal karena kedermawanan dan katakwaannya itu langsung menyitanya dan menyimpannya sebagai kas baitul mal.

”Kalau kau bukan istri khalifah, engkau tidak mungkin akan mendapatkan bingkisan ini,” kata khalifah kepada istri yang dicintainya itu. Umi Kaltsum bersikeras, bingkisan itu adalah hadiah balasan pribadi dari istri raja. Utsman membenarkan, tapi pengirimnya menggunakan fasilitas khilafah. Langkah itu, menurut Utsman, adalah ilegal, bisa menimbulkan preseden buruk, serta merupakan contoh yang tidak bagus bagi pejabat lain.

Utsman yang menjabat sebagai khalifah lebih memilih menjaga ketakwaan diri dan istrinya daripada menukarnya dengan bingkisan duniawi yang tidak seberapa. Karena bagi dia, pada dasarnya jabatan yang diembannya adalah amanat dari Allah, yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.Tentang menjaga takwa ini, Rasulullah SAW mengingatkan, ”Seseorang tidak akan sampai pada tingkatan takwa sebelum rela meninggalkan hal-hal yang sepertinya tidak apa-apa, tetapi dapat menimbulkan apa-apa.”

Agar tidak teperdaya oleh fasilitas jabatan dan tidak tertipu oleh syetan lewat cobaan duniawi, Allah SWT menuntun hamba-Nya agar hidup qana’ah (merasa cukup) dengan harta benda yang dimilikinya. Dengan qana’ah akan tumbuh rasa syukur, dan dari rasa syukur inilah timbul sifat kedermawanan yaitu rela memberikan sebagian harta yang dimilikinya untuk disedekahkan kepada orang lain. Sebaliknya, jika tidak ada sifat itu, maka yang akan muncul adalah sifat bakhil, egois, dan kufur nikmat.

Kehati-hatian terhadap fitnah jabatan, diiringi sifat qana’ah dan syukur, dapat mengarahkan setiap keluarga mukmin terhindar dari perbuatan korupsi, menumpuk harta yang tidak jelas kedudukannya, berbuat curang, dan terjaga dari keinginan menggunakan fasilitas pemerintah untuk kepentingan pribadi. Rasulullah SAW memberi peringatan, ”Jagalah dirimu dari berbuat zalim, karena berbuat zalim akan merupakan kegelapan di hari kiamat. Dan jagalah dirimu dari sifat bakhil, karena kebakhilan itu mendorong manusia menumpahkan darah dan menghalalkan segala cara yang diharamkan Allah.” (HR Muslim). [Ahmad Zaki Arba ].

http://andimujahidin.com/leadership/amanah-jabatan#more-259

Menemukan Sosok Kepemimpinan Kenabian (Prophetic Leadership) Di Indonesia

Oleh : M. Ikhsan Subekti Direktur Study Ilmiah Mahasiswa UNS

Pahlawan Zamannya

Setiap zaman akan melahirkan pahlawannya masing-masing. Sudah menjadi sebuah suratan takdir bahwa dunia tidak akan kekurangan pahlawan, karena menjadi sebuah keniscayaan ketika dunia ini memang didesain oleh Allah SWT berpasang-pasangan. Ada kebaikan namun juga ada yang senantiasa menyebarkan keburukan, ada yang bermurah hati, ada juga yang congkaknya luar-biasa. Ada yang tua dan kemudian meninggal dan ada juga yang muda penuh dengan semangat.

Dr. Aidul Fitri menyatakan bahwa, sosok kepemimpinan seperti Bung Karno-lah yang beliau rindukan, Bung Karno yang tidak pernah mengeluh dalam menjalankan perjuangannya, jiwanya kuat dan tujuannya mulia, hasil dari tempaan kehidupan zaman revolusi yang keras. Niat yang ikhlas, membuat Bung Karno dan para pendiri bangsa ini senantiasa menghadapi berbagai persoalan dengan lapang dada. Segala keterbatasan justru dijadikan penyemangat yang membakar gelora jiwa. Karakter seperti itulah yang dirindukan untuk dimiliki para pemimpin bangsa, dimasa sekarang ini.

Kerinduan Terdalam

Anak bangsa ini merindukan sekolah yang tidak lagi beratapkan langit dan berdinding pepohonan. Anak bangsa ini merindukan lagu-lagu menyenangkan yang penuh unsur imajinasi dan edukasi, daripada lagu-lagu dewasa yang isinya bait-bait perzinahan dan pemikiran cinta yang sempit. Anak bangsa ini merindukan keluarga yang utuh. Banyak anak kehilangan bapaknya, karena bapaknya ditangkap oleh polisi akibat kejahatan perampokan, sang bapak berkata “Aku merampok untuk membeli nasi buat keluarga ku.” Bahkan ada yang kehilangan ibunya, karena sang ibu dijatuhi hukuman gantung di negeri orang. Bangsa ini seperti anak yatim piatu, tidak ada lagi orang tua yang menjaga dari bahaya yang mengancam, tidak ada lagi ayah-ibu yang bisa mendamaikan perselisihan.

Mimpi yang Membusuk

Pemimpin masa sekarang ini, sepertinya takut sekali untuk bermimpi. Jarang sekali, bahkan tidak ada lagi yang dengan gamblangnya mengajak masyarakat Indonesia untuk pergi menembus 50 tahun atau 100 tahun masa depan Indonesia. Rakyat sudah tidak punya harapan, dibiarkan mati dengan kepedihan. Pemimpin menjadi sangat rasionalis dan pragmatis, mereka berpikir pencalonan mereka adalah mandat 20 persen pemilihan legislatif. Mereka berpikir mandat 20 persen itulah tiket perjuangan mereka. Jauh dilubuk hati, rakyat ini rindu dibawa pergi melihat keadaan mereka 50 sampai 100 tahun yang akan datang, sebuah kerinduan yang belum dapat terjawab karena para pemimpin sedang khusyuk menanti tiket 20 persen itu.

Membiaskan Opini

Opini publik di zaman ini tidak ubahnya seperti rombongan bebek yang berbaris, mengukuti arahan pecut sang peternak bebek. Kenyataan yang menyedihkan ini semakin dijadikan dagangan oleh oknum-oknum yang gemar membuat survey politik. Mendukung sebuah tesis dari  Michel Foucault (1980) bahwa studi ilmiah merupakan kekuasaan pemaksaan pandangannya kepada publik tanpa memberi kesan berasal dari pihak tertentu. Opini publik diarahkan oleh visi-visi semu yang tidak jelas platformnya, disampaikan dengan bungkus yang menarik, didalam iklan-iklan berbudget milyaran rupiah dan spanduk-spanduk narsis para calon pemimpin.

Menelusuri Jalan Kebijaksanaan

Negeri ini butuh pemimpin yang dapat menentramkan hati, meneduhkan panasnya problema kehidupan dan kuat bertahan seperti batukarang. Menjadi terdepan dalam berbuat kebaikan. Pemimpin dengan karakter yang mampu menggabungkan berbagai karakter kepemimpinan dunia. Kita mengenal tipe kepemimpinan partisipatif, pemimpin yang mampu mengkonsolidasikan kekuatannya ke berbagai wilayah kekuasaan yang dipimpinnya, pemimpin tipe ini sangat menjunjung nilai demokrasi dan dalam memutuskan sebuah kebijakan tertentu, dia tekun mengakomodir kepentingan masyarakatnya, sehingga keputusannya jarang mendapat tekanan, namun apakah karakter ini cukup untuk memimpin Indonesia? Tentunya belum cukup. Kita saksikan sendiri, pemimpin yang hanya pandai mengkonsolidasikan kekuatannya dapat berakhir tanpa kemajuan yang berarti, karena dia tidak mempunyai visi yang jelas, kepemimpinannya seperti orang linglung yang jauh dari sikap tegas, kadang menuju tempat A, kadang pula menuju tempat B. Model kepemimpinan berikutnya, adalah kepemimpinan kharismatik. Dia diberikan oleh Allah, sebuah aura kebijaksanaan yang terpancar menyilaukan siapa pun orang yang melihatnya, kata-katanya seolah-olah menjadi penyambung pesan kesengsaraan rakyat. Rakyat patuh oleh kata-katanya. Kepemimpinannya digerakkan oleh visi yang digerakkan oleh basirah yang luar biasa, terkadang menembus jauh melebihi pandangan-pandangan orang awam. Pertanyaan nya, apakah model kepemimpinan ini cukup untuk membawa Indonesia keluar dari nestapa? Tentu kita mengetahui, model kepemimpinan ini belum cukup. Kita mengetahui dari sejarah bahwa pemimpin dengan kharisma yang luar biasa, seringkali akhirnya terjebak dengan kesombongan yang dihembuskan setan, dia menjadi diktator dan mulai memimpin sesuai dengan kehendak hatinya, basirah nya telah tertutup oleh kotoran yang dilemparkan setan kedalam hatinya yang dahulu bersih dan bersinar. Bagaimana dengan ciri kepemimpinan yang sekarang menjadi ikon peradaban modern? Yaitu kepemimpinan transformasional. Pemimpin dengan karakter ini mampu menjadi anasir-anasir perubahan dan sumber inspirasi bagi para pengikutnya. Kepeduliannya sangat tinggi, sehingga sekat-sekat pemimpin dan bawahan dapat hilang tergerus oleh pekertinya yang luhur. Apakah model ini yang mampu membawa Indonesia bankit? Kita yakin, belum cukup mampu.

Jejak-jejak Pemimpin Besar

Suatu saat Michael H Hart berkeinginan untuk menulis sebuah buku tentang tokoh-tokoh yang paling berpengaruh didalam sejarah peradaban dunia ini. Ketika dia memulai melakukan listing, mengurutkan siapakan tokoh yang pantas menempati peringkat yang pertama didalam bukunya, hatinya nya menjadi penuh gundah dan keraguan. Hasil penelitiannya ternyata mengarahkannya pada sosok yang akan membuat dunia barat geram dan bertanya luar biasa. Sosok itu jatuh kepada seseorang yang bahkan membaca dan menulis saja tidak bisa. Micharl H Hart memberikan peringkat pertama, orang-orang berpengaruh di dunia ini kepada Nabi Muhammad SAW. Ketidakmampuannya membaca dan menulis adalah hikmah yang menguatkan pesan yang dibawanya untuk manusia dan keseluruhan alam. Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin yang lengkap. Dia mampu melakukan transformasi luar biasa, masyarakat arab yang semulanya jahiliyah menjadi sangat modern dan menjadi sumber pengembangan ilmu pengetahuan. Dia juga mampu mengkonsolidasikan kekuatannya dengan sangat efektif dan efisien, pengikutnya merasa sangat terakomodir kepentingannya, tanpa menghilangkan ketegasan Beliau. Kharisma Beliau bukan saja membuat terpana para manusia, namun malaikat, jin dan bahkan iblis sangat menghormati Beliau. Kita mengerti bahwa kepemimpinan Beliau tidak mungkin lagi terulang, namun kemanusiaan beliau yang jauh dari kerumitan, membuktikan bahwa tipe kepemimpinan seperti Beliau, dapat dipelajari oleh para pemimpin di zaman sekarang ini.

Prophetic Leadership

Indonesia membutuhkan pemimpin yang bertipe kepemimpinan kenabian. Pemimpin yang dicintai oleh Allah SWT, pasti akan di bukakan segala pintu jalan keluar. Maka penting bagi kita sebagai anak bangsa untuk membuka kembali lembaran sejarah Nabi Muhammad SAW, untuk belajar dari Beliau, cara memimpin yang baik. Harapan akan datangnya pemimpin yang hebat, berada ditangan anak-anak muda yang mempelajari sirah Nabi dan dekat dengan

http://sim.ormawa.uns.ac.id/2009/03/07/menemukan-sosok-kepemimpinan-kenabian-prophetic-leadership-di-indonesia/

Good Leadership vs BLeadership

Beberapa rekan saya mendapat julukan “Pemimpin yang baik” namun beberapa lagi mendapat julukan “Pemimpin yang buruk” apakah ini berarti pemimpin yang baik adalah pemimpin yang sukses membawa perusahaannya menjadi besar? Kenyataannya tidak selalu begitu, bahkan orang-orang yang “keras” gaya kepemimpinannya sehingga sering mendapat julukan “pemimpin yang buruk” justru sering membawa perusahaan menjadi sukses

Apakah Pemimpin yang baik selalu harus “democratic” dan apakah kepemimpinan yang “Authocratic” selalu dicap sebagai Pemimpin yang buruk? Apa hubungan antara “Gaya kepemimpinan” dengan baik atau buruknya suatu kepemimpinan?

BAGAIMANA SEBAIKNYA ANDA MENERAPKAN GAYA KEPEMIMPINAN PADA ANAH BUAH SEHARI-HARI?  APAKAH “JULUKAN” ANDA ?

CHECK OUT BEBERAPA HAL DIBAWAH INI:

1.      APA TUGAS-TUGAS YANG HARUS DIKERJAKAN TIM ANDA ?
Setiap tugas atau pekerjaan harus diidentifikasi atau dijelaskan dengan baik, apa saja yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya dengan benar juga harus diantisipasi kesulitan apa yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan tugas serta apa yang harus dilakukan bilamana kesulitan atau hambatan benar-benar terjadi. Demikian juga keterampilan, pengetahuan, wawasan dan alat-alat yang dibutuhkan untuk seseorang melaksanakan tugas dengan baik.

2.  BAGAIMANA KEMAMPUAN DAN KESIAPAN ANAH BUAH UNTUK   MENJALANKAN TUGAS YANG DIBERIKAN?
Kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas adalah “kompetensi” nya dalam pelaksanaan tugas tersebut. Setiap tugas atau pekerjaan menuntut adanya pengetahuan dan keterampilan tertentu. Apabila pengetahuan dapat dipelajari melalui pendidikan tertentu maka skill dibutuhkan pengalaman dilapangan untuk benar-benar mengerjakan atau praktek sehingga pada akhirnya terakumulasi menjadi suatu keterampilan yang dibutuhkan.

Misalnya seorang kepala gudang yang tanggungjawabnya membawahi anakbuahnya untuk penyimpanan, pemasukan, pengeluaran dan pengiriman barang-barang perusahaan maka dia harus menguasai sistim logistic yang baik, mengenal daerah-daerah kemana barang-barang akan dikirim dan menguasai sistim transportasi/expedisi dengan baik. Disamping hal-hal tehnis maka dia juga harus memiliki kepemimpinan, mampu berkomunikasi secara pursuasif dan keterampilan manajemen lainnya.

Pengalaman seseorang yang benar-benar pernah melakukan suatu jenis pekerjaan akan sangat membantu pada pekerjaan-pekerjaan yang serupa berikutnya, dia menjadi lebih siap untuk melakukan pekerjaan tersebut dan siap pula menghadapi kemungkinan apapun yang bisa terjadi serta tahu bagaimana mengatasinya.

3.  SESUAIKAN SETIAP TUGAS DENGAN TINGKAT KESIAPAN ANAK  BUAH ANDA
Menyesuaikan antara tugas yang harus dikerjakan dengan tingkat kesiapan orang yang akan melakukannya adalah hal yang terpenting sekaligus tersulit karena dalam kenyataannya keadaan yang ideal dimana anda memiliki “orang yang tepat untuk suatu pekerjaan (“the right man on the right job”) sulit dipenuhi dan selalu ada kekurangan. Meskipun demikian anda dapat memilih dari opsi-opsi yang anda miliki antara beberapa anak buah dan tugas-tugas yang harus diselesaikan

Misalnya anda punya beberapa calon untuk kepala gudang, masing-masing dengan kekurangan dan kelebihannya

“A” baik pada hal-hal tehnis karena menguasai sistim logistic, tahu cara penyimpanan barang yang baik, mengenal tujuan-tujuan pengiriman dan sistim angkutan atau transportasi dan expedisi tetapi kurang memiliki “kepemimpinan dan komunikasinya”  dengan orang lain kurang

“B” sebalikya kurang menguasai hal-hal tehnis namun sangat baik dalam “kepemimpinan dan komunikasi” nya

4.  SESUAIKAN GAYA KEPEMIMPINAN ANDA DENGAN TINGKAT KESIAPAN  ORANG YANG ANDA PILIH UNTUK MELAKSANAKAN SUATU TUGAS
Setelah anda menyesuaikan pilihan orang dengan tugas maka selanjutnya anda juga harus menyesuaikan “Gaya Kepemimpinan” anda dengan orang –orang pilihan anda tersebut. Anak buah yang siap lebih cocok dengan kepemimpinan yang demokratis dan delegatif yang memberikan kebebasan mengembangkan ide dan metode pelaksanaan tugas, sementara anak buah yang kurang siap lebih membutuhkan bimbingan dan pengarahan sehingga anda harus lebih partisipatif dan directive dalam hal ini.

Bila anda memilih A dalam contoh diatas maka anda bisa lebih delegatif dalam pelaksanaan tugas secara tehnis namun partisipatif dalam setiap group meeting untuk meningkatkan kepemimpinan dan memastikan komunikasi yang merata diantara seluruh anggota tim

Bila anda memilih B dalam contoh diatas maka anda harus lebih partisipatif dalam pelaksanaan tugas-tugas secara tehnis untuk memastikan tugas-tugas dapat diselesaikan dengan baik,  namun lebih delegatif dalam setiap group meeting karena B sudah dapat mengendalikan tim dengan baik.

KESIMPULANNYA BAHKAN PADA SETIAP SITUASI TUGAS DAN ANAK BUAH ANDA BISA MENGGABUNGKAN DUA ATAU LEBIH GAYA KEPEMIMPINAN JADI JANGAN TERPAKU PADA SALAH SATU GAYA KEPEMIMPINAN SAJA !!

MESKIPUN DEMIKIAN TETAP WASPADA KARENA KARAKTER PRIBADI ANDA AKAN MEMPENGARUHI GAYA KEPEMIMPINAN ANDA !!

Good Leadership atau Bad Leadership tergantung bagaimana menggunakan Gaya Kepemimpinan anda pada situasi Tugas dan Kesiapan anak buah anda yang tepat.

http://www.indosiar.com/miracle/leadership-miracle/