Manajemen Manusia Unggul

Oleh Herry Tjahjono

Obama sudah resmi menjadi presiden. Pesta akbar demokrasi negeri adidaya itu usai. Sesaat lagi giliran pesta akbar yang sama digelar di negeri kita. Dan, menyeruaklah satu kata keramat yang disebut ”kompetisi”!

Kompetisi tentu sesuatu yang sah saja dalam setiap perjuangan kehidupan, apa pun dimensinya. Tanpa kompetisi, tak akan pernah ada sintesis, tak ada gerak progresif, dan dinamika kehidupan akan jalan di tempat. Kompetisi, mau tak mau, akan melibatkan kegiatan untuk melirik kelemahan pihak lain dan mencari serta menonjolkan kelebihan diri.

Namun, perlu diwaspadai adanya dua jenis kompetisi: pertama, kompetisi produktif—sebuah bentuk kompetisi yang melahirkan competitive advantage. Kompetisi produktif semacam ini baik-baik saja dan akan menghasilkan ”pemenang yang terbaik”. Maka, rakyat (atau siapa pun yang akan menjadi penikmat hasil kompetisi) akan menerima sesuatu yang produktif.

Jenis kompetisi kedua disebut kompetisi kontraproduktif—sebuah bentuk kompetisi yang kelewat batas dan hanya melahirkan berbagai competitive disadvantage! Di sini, bentuk kompetisi mempunyai ekses merugikan pihak lain, bahkan menyakiti dan menghancurkan. Kegiatan mencari kelebihan diri bukan hanya bersifat eksplorasi, tetapi sudah eksploitasi.

Sayangnya, jenis kompetisi kedua inilah yang sering terjadi pada bangsa ini, nyaris dalam segenap dimensi kehidupan kemasyarakatan. Secara individual, jenis kompetisi ini sungguh merusak sikap mental, kepribadian, sikap, dan bahkan perilaku. Misalnya, dalam kehidupan dunia kerja.

Karyawan lebih banyak dikuasai kompetisi kontraproduktif. Melihat koleganya naik gaji dengan persentase lebih tinggi, muncul sikap sirik, curiga. Lalu jadi demotivasi, kasak-kusuk, dan bekerja dengan malas—tanpa pernah introspeksi dan mencoba mencari tahu penyebabnya. Bersikap negatif pada perusahaan. Demikian juga ketika temannya mendapatkan promosi. Alih-alih berjuang lebih keras, karyawan tersebut malah mulai melakukan berbagai langkah eksploitatif, mencari, bahkan mengarang, kelemahan untuk menjatuhkan teman yang dipromosi.

Demikian seterusnya, jenis kompetisi inilah yang lebih banyak terjadi pada bangsa ini. Maka, sebagai bangsa, meski telah melewati enam presiden, susah untuk menjadi bangsa besar yang unggul dan progresif. Lebih banyak berputar-putar dan jalan di tempat, bahkan tak jarang sering melukai, merugikan, dan menghancurkan diri sendiri sebagai bangsa.

Dua jenis mentalitas

Mengadaptasi Stephen Covey, kompetisi kontraproduktif ini lebih didasari oleh mentalitas kekurangan (scarcity mentality). Mental yang menganggap bahwa dunia, Bumi, semesta, negeri, tempat kerja, sekolah, dan seterusnya tak punya sumber yang cukup untuk semua orang. Karena itu, mereka berebut, mengeksploitasi, menyakiti, menyikut, menghancurkan untuk lebih dulu mendapatkan segala sesuatu. Dan, sekali lagi, jika orang lain lebih dulu mendapatkan sesuatu, dia akan meradang.

Ada baiknya kita mendengar yang dikatakan Wallace D Wattles, ”Tugas kita bukanlah mencari apa yang telah dimiliki orang lain sebab kita bisa menciptakan apa yang kita inginkan.” Maka, sebagai alternatif dari kompetisi, muncullah kata ”kreasi”. Sungguh, kreasi mempunyai kualitas lebih tinggi dari kompetisi, bahkan yang produktif sekalipun.

Landasan sikap dan perilaku kreasi adalah mentalitas kelimpahan (abundance mentality). Dunia ini punya lebih dari cukup untuk semua orang. Tak perlu berebut, menyakiti, menghancurkan, berkompetisi kontraproduktif untuk menjadi ”pemenang kehidupan terbaik”. Jika jadi karyawan, tugasnya ”cuma” bagaimana ia berikhtiar untuk terus menerus mencipta, berkreasi berdasarkan job description yang diberikan.

Sikap mencipta semacam itu membuat seorang karyawan bukan hanya mampu menjalankan dan memenuhi tuntutan job description-nya, tetapi juga bahkan melahirkan ”karya-karya” menakjubkan yang tak pernah terpikirkan siapa pun, termasuk dirinya sendiri. Dia akan menjadi karyawan unggul. Ini akan jauh lebih mulia dibandingkan ia hanya sibuk melirik kanan-kiri, mencari kelemahan orang lain, bahkan lupa untuk sekadar memenuhi kewajiban tuntutan job description-nya.

Jadi, bisa disimpulkan, dalam proses pemenuhan tugas kehidupan, ada tiga aras kualitas: kompetisi kontraproduktif (paling rendah dan tidak disarankan), kompetisi produktif (moderate, disarankan), dan kreasi (paling tinggi, diperlukan).

Jika kompetisi (produktif) menghasilkan competitive advantage, kreasi melahirkan creative excellence. Hanya dari sana lahir manusia unggul, karyawan unggul, perusahaan unggul, dan bangsa unggul. Bangsa ini sungguh memerlukan sebuah ”manajemen manusia unggul”!

Herry Tjahjono Corporate Culture Therapist & President The XO Way

Advertisements

Motivasi dan Komunikasi Manajer dan Karyawan

Motivasi Karyawan

Pekerjaan seorang manajer di tempat kerjanya adalah melakukan penyeliaan terhadap para karyawannya dengan intensif. Tujuannya, agar karyawan bekerja dan berkinerja sesuai standar yang sudah ditentukan perusahaan. Untuk itu manajer harus mampu memotivasi mereka. Namun itu mudah diucapkan, sulit diterapkan. Motivasi sebagai teori merupakan hal yang tidak sederhana untuk diparaktekan karena ia menyangkut beragam disiplin ilmu. Kegagalan dalam memotivasi bisa jadi karena lemahnya dalam berkomunikasi dengan karyawan yang antara lain dicerminkan oleh sikap manajer.
Sikap manajer dalam berkomunikasi, termasuk sikap terhadap diri sendiri dan sikap terhadap lawan bicara, sikap terhadap konten (materi pesan) dan penguasaan terhadap konten yang akan disampaikan, serta level pengetahuan karyawan sebagai penerima pesan terhadap materi tersebut. Manajer harus memiliki pengetahuan yang lebih baik dari karyawan atau memahami apa yang telah diketahui oleh karyawan agar dapat menentukan cara efektif penyampaian pesan dan sekaligus menentukan konten yang masih perlu disampaikan.
Pertimbangan terhadap semua ini akan dapat membantu manajer menyampaikan pesan yang dapat dimengerti dan dipahami oleh karyawan. Jika tidak, kegiatan komunikasi lebih mungkin menjadi gagal. Banyak kegiatan komunikasi menjadi tidak menyenangkan hanya karena pihak-pihak yang berkomunikasi, dalam hal ini karyawan, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh manajer. Akibatnya pihak karyawan sebagai penerima pesan tidak atau kurang punya motivasi.
Motivasi diibaratkan sebagai jantungnya manajemen karyawan. Motivasi merupakan dorongan yang membuat karyawan melakukan sesuatu dengan cara dan untuk mencapai tujuan tertentu. Tidak ada keberhasilan mengerjakan sesuatu, seperti mengelola karyawan, tanpa adanya motivasi baik dari manajer maupun dari karyawan. Manajer membutuhkan ketrampilan untuk memahami dan menciptakan kondisi dimana semua anggota tim kerja dapat termotivasi. Ini tantangan besar karena tiap karyawan memiliki perbedaan karakteristik dan respon pada kondisi yang berbeda. Sementara, kondisi itu sendiri termasuk jenis masalah selalu berubah-ubah sepanjang waktu. Semua itu sebagai prasyarat mencapai motivasi karyawan yang efektif yang didukung lingkungan manajemen, suasana komunikasi, dan kepemimpinan yang nyaman. Sebaliknya karyawan yang tidak memiliki motivasi dicirikan antara lain oleh sering stres, sakit fisik, malas bekerja, kualitas kerja rendah, komunikasi personal yang kurang, dan masa bodoh dengan tugas pekerjaannya.
Apa motif seorang karyawan mau bekerja? Ya, harus dipahami bahwa semua karena memiliki keinginan dan kepentingan. Manajer sendiri siap bekerja karena memiliki beberapa keinginan: untuk mengabdi sesuai dengan ajaran agama yaitu ibadah dan mendapat pahala, keinginan untuk hidup sejahtera, keinginan untuk mencapai posisi tertentu, keinginan akan kekuasaan, dan keinginan untuk pengakuan status sosial. Sementara karyawan disamping berkeinginan untuk mengaktualisasi diri tentunya juga untuk meningkatkan kesejahteraan dirinya dan keluarganya. Seorang karyawan yang termotivasi biasanya bersifat energetik dan semangat dalam mengerjakan sesuatu secara konsisten dan aktif mencari peran dengan tanggung jawab yang lebih besar. Beberapa karyawan boleh jadi tidak merasa takut kalau dihadapkan pada tantangan bahkan justru termotivasi untuk mengatasinya. Seorang atau beberapa karyawan dalam tim yang motivasinya tinggi dapat membangkitkan semangat rekan-rekan lainnya dan membawanya ke arah prestasi yang semakin tinggi. Dan biasanya mereka yang memiliki motivasi sekaligus juga memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik dan luwes dalam pergaulan.
Sebaliknya para karyawan yang motivasinya kurang akan sering menampilkan rasa tidak senang akan tugas-tugas dan tujuannya serta cenderung masa bodoh. Akibatnya, kinerja mereka menjadi buruk dan sering melepaskan tanggung jawabnya. Mereka umumnya datang terlambat atau tidak masuk kerja. Kecerdasan komunikasinya relatif sangat rendah dan cenderung suka memprovokasi rekan-rekan kerjanya. Mereka kerap mengeluh dan membesar-besarkan masalah yang sebenarnya kecil. Sebagai konsekuensinya karyawan tersebut akan sulit mengatasi perubahan-perubahan yang terjadi. Kemorosotan motivasi bagai suatu infeksi yang sulit disembuhkan. Nah disinilah pihak manajer harus memiliki daya tanggap dan kepekaan tinggi terhadap karyawan seperti itu. Ajaklah mereka mengobrol dari hati ke hati. Perdalam apa saja faktor yang menyebabkan motivasi kerjanya rendah. Semakin baiknya proses komunikasi yang dibangun manajer maka semakin terbuka alasan-alasan sang karyawan bermotivasi rendah. Dari situlah lalu manajer bisa melakukan pendekatan-pendekatan personal dan manajerial lewat komunikasi yang nyaman. (25 November 2008)
Sumber :
TB. SJAFRI MANGKUPRAWIRA
31 Mei 2009
Sumber Gambar:

http://blog.successfulbydesign.com/images/Motivation_Frequencies_3.png