Jangan Berbohong karena Dusta Ciri Orang Munafik

Saat ini, terutama di masa Kampanye Pemilu, saya melihat banyak orang yang tidak sungkan-sungkan untuk berdusta/berbohong hanya untuk membela capres/cawapresnya atau menjatuhkan lawannya. Padahal berdusta itu besar dosanya di mata Allah. Contohnya ada yang berkata hutang berkurang padahal kenyataannya bertambah atau sebaliknya. Maka ramai disebut orang angin/janji surga, jual kecap, dan sebagainya untuk kata-kata dusta yang ditebar di kala kampanye atau waktu lainnya.

Memang di dalam keadaan tertentu, berbohong itu diizinkan.

Rasulullah Saw membolehkan dusta dalam tiga perkara, yaitu dalam peperangan, dalam rangka mendamaikan antara orang-orang yang bersengketa dan pembicaraan suami kepada isterinya. (HR. Ahmad)

Tapi itu pun pada saat yang luar biasa dan Nabi sendiri tetap menghindari untuk tidak berbohong. Sebagai contoh, ketika ada seseorang mencari musuhnya dengan niat berkelahi dan bertanya apakah Nabi melihat ada orang lewat di situ, sebelum menjawab Nabi menggeser tempat berdirinya, baru berkata. “Sejak saya berdiri di sini, saya belum pernah melihat orang lain selain kamu.” Dan memang sejak Nabi berdiri di tempat yang baru dia belum melihat orang lain selain orang yang bertanya.

Tapi hal seperti itu pun jarang dilakukan oleh Nabi sehingga Nabi dijuluki orang sebagai Al Amiin atau yang bisa dipercaya. Jika Nabi menyuruh para sahabat untuk pergi ke arah utara, kemudian setelah jauh berbalik ke selatan itu tidak bisa dikatakan bohong kecuali strategi/taktik militer. Itu pun ditujukan pada orang-orang kafir dan mata-matanya.

Terhadap para sahabat dan orang-orang yang beriman, Nabi boleh dikata senantiasa berkata jujur. Bahkan orang-orang kafir pun mengakui kejujuran Nabi yang tidak biasa berkata bohong.

Allah mengutuk orang yang banyak berbohong:

“Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta” [QS Adz Dzaariyaat:10]

Siksa yang pedih di neraka disediakan bagi para pendusta:

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” [Al Baqarah:10]

“Kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa” [Al Jaatsiyah:7]

Jika sering berdusta, maka itu akan menyeretnya ke neraka:

“Hendaklah kamu selalu benar. Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga. Selama seorang benar dan selalu memilih kebenaran dia tercatat di sisi Allah seorang yang benar (jujur). Hati-hatilah terhadap dusta. Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seorang dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta (pembohong). (HR. Bukhari)

Dusta adalah satu ciri orang Munafik:

Nabi Muhammad SAW: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu bila berbicara dusta, bila berjanji tidak ditepati, dan bila diamanati dia berkhianat. “(HR. Muslim)

Nabi Muhammad SAW: “Celaka bagi orang yang bercerita kepada satu kaum tentang kisah bohong dengan maksud agar mereka tertawa. Celakalah dia…celaka dia.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Berdusta bukanlah sifat seorang Mukmin:

“Seorang mukmin mempunyai tabiat atas segala sifat aib kecuali khianat dan dusta. (HR. Al Bazzaar)

Orang yang membohongi temannya atau rakyatnya merupakan pengkhianat besar:

Suatu khianat besar bila kamu berbicara kepada kawanmu dan dia mempercayai kamu sepenuhnya padahal dalam pembicaraan itu kamu berbohong kepadanya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Syiar Islam
http://syiarislam. wordpress. com

“A Nizami” <nizaminz@yahoo.com>

Advertisements

Pemimpin para manusia super ( Khalifah Umar r.a. )

Dalam tiap sholat, kita selalu berikrar dalam bacaan iftitah: sholat, ibadah, hidup, dan mati, hanya untuk Allah, tiada sekutu bagiNya, dan aku adalah muslim yang awal (awwalul-muslimin) (QS.6:162-163) . Siapakah muslim yang awal? Mereka adalah orang-orang generasi pertama yang berserah diri.
Dan setiap generasi muslim yang selanjutnya, diajarkan oleh Allah agar meniru generasi awal orang-orang yang berserah diri. Karena mereka adalah
sebaik-baik manusia, yang dicintai Allah, dan selalu dimenangkan oleh Allah.

Dan berikut ini adalah sekelumit untaian kisah sejarah yang mereka ukir:

Tahun 16H (637M), ekspedisi untuk menghadapi Persia dan Suriah yang dikirim oleh khalifah Abu Bakr telah membuahkan hasil di masa khalifah Ummar. Saat itu tengah pengepungan kota Yerusalem oleh dua panglima perang terbaik, Amr bin Ash dan Abu Ubaidah. Kaum nasrani yang telah berputus asa mengurung diri di dalam benteng-benteng Yerusalem yang kokoh. Sebenarnya kekuatan kaum muslimin mampu membobol benteng-benteng itu, tetapi tidak dilakukan karena kaum nasrani memilih jalan berdamai.

Beberapa syarat telah ditentukan dalam perjanjian damai yang dibuat oleh kaum nasrani Yerusalem. Salah satunya adalah kedatangan langsung pemimpin tertinggi kaum muslimin ke Yerusalem. Syarat yang memberatkan, yang padahal saat itu posisi mereka tidak dapat menawar karena telah terdesak. Di Madinah khalifah ummar mengadakan rapat bersama para shahabat lainnya. Beberapa shahabat memberikan pendapat untuk mengabaikan permintaan mereka, karena mereka telah kalah dan hina. Tetapi Ali berbeda pendapat, agar menuruti keinginan mereka bertemu dengan khalifah, dan Yerusalem jatuh dalam keadaan damai. Ummar mendukung pendapat Ali dan berangkat ke Yerusalem, dan kekhalifahan sementara diwakilkan kepada Ali.

Pada saat itu, semenanjung Arab telah dikuasai oleh kaum muslimin. Dan sudah sepatutnya pemimpin dari kaum muslimin, penguasa jazirah Arab dan penakluk Persia, diselimuti oleh kebesaran dan kemegahan. Kaum nasrani di Yerusalem telah memperkirakan keagungan dari khalifah ummar yang gagah berani, dengan tentara-tentaranya yang tak terkalahkan. Tetapi, setelah khalifah Ummar tiba di Yerusalem mereka tercengang dan jauh dari perkiraan.

Tidak ada iringan pasukan khusus, tidak ada karavan penghibur, tidak ada akomodasi perjalanan sekelas kaisar agung. Khalifah ummar hanya bersama
kudanya yang kelelahan, yang beliau tuntun sendiri, dan juga bersama beberapa orang shahabat dari muhajirin dan anshor. Para panglima perang yang
berada di daerah Palestina saat itu, Yazid bin Abi Sufyan, Khalid bin Walid, dan beberapa panglima perang lainnya, menyambut kedatangan khalifah. Melihat keadaan perwira-perwira tempurnya yang berjajar dengan kemewahan Suriah, khalifah Ummar sangat kecewa. Beliau mengambil kerikil-kerikil di tanah dan dilemparnya pada para perwira tempurnya yang mengenakan sutera. “Demikian cepat kalian telah terjerumus kedalam kebiasaan Persia!”, dan dengan segera mereka menanggalkan sutera-sutera indah itu.

Menuju perjalanan masuk kota Yerusalem, kuda khalifah ummar tidak lagi mampu meneruskan perjalanan. Beberapa perwira membawakan kuda perang dari Turki yang gagah dan kuat. Tetapi beliau berkata, “Sesuatu yang amat menyedihkan, dari mana kuda yang suka berlagak dan sombong ini.” Dan beliaupun meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Setibanya di gerbang kota Yerusalem, Abu Ubaidah datang menjemput. Abu Ubaidah malu melihat pakaian khalifah yang lusuh dan nampak hina, lalu ditawarkan kepada khalifah pakaian paling bagus.
Khalifah Ummar menolaknya, dan beliau berkata “Allah telah mengaruniaiku dengan Islam, dan cukuplah Islam menjadi izzahku.” Dan masuklah beliau ke dalam Yerusalem dengan keadaan yang sangat sederhana, khalifah bak rakyat jelata.

Waktu sholat tiba, khalifah Ummar meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan. Tetapi Bilal menolak dengan alasan dia tidak lagi mengumandangkan adzan setelah Rasulullah tiada. Khalifah memintanya dengan sangat agar Bilal mau mengumandangkan adzan. Dengan bujukan dari khalifah, Bilalpun mau mengumandangkan adzan karena khalifah Ummar yang meminta. Dan adzanpun berkumandang membahana di Yerusalem. Suara Bilal yang merdu dan nyaring membangkitkan kembali kenangan saat-saat Islam masih dimasa awal. Perjuangan menegakkan tauhid bersama Rasulullah, kembali mengisi mengisi nostalgia indah penyerahan diri kepada Allah. Para panglima perang yang gagah perkasa menangis dengan sangat sedih. Dan khalifah Ummar yang agung terisak-isak tak berkeputusan. Islam telah sampai di Yerusalem.

Manusia-manusia hebat itu tenggelam dalam airmata disaat perayaan penyerahan Yerusalem. Mereka adalah singa-singa padang pasir yang menjadi rahib di malam hari, merintih dan memohon ampunan kepada Allah.

“Karunia” <a.karunia@gmail.com>

Isra’ Mi’raj Dari Perspektif Modern

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [Al Isroo’:1]

Ketika Nabi Muhammad SAW menceritakan pengalamannya pergi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian ke langit ke 7 hingga Sidratul Muntaha dalam waktu semalam, maka orang-orang kafir Quraisy mentertawakannya, sementara banyak orang yang telah masuk Islam, akhirnya murtad kembali karena tidak percaya akan Isra’ dan Mi’raj.

Abu Bakar ra, ketika ditanyakan apakah dia mempercayai Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad, dengan penuh keyakinan berkata, “Jika yang berkata demikian itu adalah Muhammad bin Abdullah, maka yang lebih aneh dari itu pun aku percaya, karena sesungguhnya Muhammad itu tidak pernah berbohong.” Meski Nabi Muhammad SAW tidak pernah berbohong sehingga sampai dijuluki Al Amin (Yang Terpercaya) oleh orang Quraisy Mekkah, tapi hanya sedikit Muslim sajalah yang beriman akan cerita Nabi Muhammad SAW. Abu Bakar adalah salah satu dari sedikit orang itu yang dengan tegas menyatakan keyakinannya, sehingga beliau dijuluki Ash Shiddiq.

Hingga sekarangpun banyak Muslim yang masih ragu akan kebenaran Isra’ dan Mi’raj, meski itu nyata tertuang dalam Al Qur’an dan juga hadits Nabi yang shahih. Bagaimana mungkin orang bisa pergi dari Mekkah hingga Yerusalem, kemudian ke langit ke 7 dan kembali lagi dalam semalam? Itu tidak rasional, begitu pendapat mereka. Ada juga yang berpendapat apa yang dialami Nabi tidak lebih dari mimpi (perjalanan rohani) belaka.

Padahal jika hanya mimpi, itu bukan mu’jizat Allah! Kita semua bisa mimpi pergi ke negeri asing, ke bulan, bahkan ke langit dalam sekejap. Selain itu, tak mungkin terjadi kegemparan yang demikian heboh, sehingga orang-orang kafir pada tertawa, orang-orang

Islam yang imannya pas-pasan murtad kembali, dan Abu Bakar sampai digelari Ash Shiddiq.

Jika itu dikatakan tidak masuk akal juga keliru. Di zaman baheula, di mana belum ada pesawat terbang atau pesawat ruang angkasa seperti space shuttle, mungkin pendapat itu masih wajar.

Tapi di zaman sekarang ini, perjalanan sejauh itu dalam waktu sedemikian singkat, seharusnya sudah mulai masuk di akal kita. Dulu orang menganggap perjalanan dari Mekkah ke Yerusalem dalam semalam mustahil. Itu wajar, karena mereka masih naik onta yang kecepatannya tak lebih dari 60 km per jam.. Tapi sekarang dengan pesawat tempur yang canggih (contohnya pesawat SR-71 Blackbird) yang kecepatannya sampai mach 3 (3 kali kecepatan suara atau sekitar 3000 km per jam), maka perjalanan itu bisa di tempuh dalam waktu kurang dari 4 jam dengan teknologi manusia pada zaman ini! Bahkan manusia telah mampu menciptakan roket yang bisa melaju hingga lebih dari 40 ribu kilometer per jam. Artinya dalam waktu kurang dari satu jam, bumi sudah selesai dikitari!

Teknologi telpon, memungkinkan suara seseorang bisa diterima hampir seketika meski jaraknya sampai 20 ribu kilometer (misalnya dari Hawaii ke Eropa), walaupun kecepatan suara itu cuma sekitar 1000 kilometer per jam. Menurut nalar manusia primitif, seharusnya suaranya tertunda hingga 20 jam. Teknologi manusia memungkinkan hal itu terjadi.

Sekarang kita bisa mengirim e-mail atau berita dengan sekejap meski jaraknya puluhan ribu kilometer. Di zaman kuno, hal itu tidak mungkin. Begitu pikiran orang-orang yang kuno.

Di zaman yang akan datang, teknologi manusia akan terus berkembang dan berkembang, sehingga kecepatan pesawat akhirnya bisa mendekati kecepatan cahaya.

Nah yang saya sebut di atas adalah contoh dari teknologi buatan MANUSIA. Bagaimana dengan teknologi ciptaan Allah? Lebih jelek atau lebih baik dari buatan makhluknya? Jika akal kita masih sehat, tentulah kita akan mengakui bahwa Allah Maha Kuasa tentu akan jauh lebih hebat kemampuannya ketimbang manusia yang cuma makhluk ciptaannya..

Manusia hanya bisa membuat dari bahan yang sudah diciptakan oleh Allah SWT, sementara Allah mampu menciptakan sesuatu dari ketidak-adaan. Jika manusia bisa membuat logam mati yang tidak bergerak menjadi pesawat yang berkecepatan tinggi hingga beberapa kali kecepatan suara, bukankah Allah SWT yang telah menciptakan cahaya dengan kecepatan 300 ribu kilometer per DETIK lebih mampu lagi menciptakan kendaraan atau makhluk yang jauh lebih cepat dari cahaya?

Ada satu cerita. Konon ada seekor semut yang hinggap di kopiah seorang haji. Pak Haji ini, kemudian pergi dari Surabaya ke Banjarmasin pada pagi hari, kemudian kembali lagi pada sore hari. Ketika semut itu berkata, bahwa dia telah pergi ke Banjarmasin pada pagi hari, kemudian kembali lagi pada sore hari, maka teman-temannya tidak percaya. “Tidak mungkin!” Demikian kata teman-temannya. Surabaya dan Banjarmasin itukan jaraknya lebih dari 1000 km dan terpisah laut yang luas, bagaimana mungkin kamu pulang pergi ke sana cuma dalam sehari?”

Begitulah pikiran semut. Jika semut itu yang pergi sendiri, itu memang tidak mungkin. Tapi kalau semut itu menumpang pada teknologi manusia, bukankah hal itu jadi mungkin?

Demikian pula Nabi Muhammad SAW. Jika Nabi Muhammad SAW pergi sendiri, tentulah tak akan bisa melakukannya dalam semalam, meski hanya pergi ke Yerusalem. Tapi karena Allah SWT yang menyediakan kendaraannya serta memperjalankan Nabi, maka hal itu mungkin saja, karena Allah SWT adalah Tuhan yang Maha Kuasa. Allah SWT adalah pencipta segalanya, termasuk ruang dan waktu.

Menurut pikiran manusia (yang cuma makhluk ciptaan Allah SWT), hal itu mungkin tidak mungkin (terutama bagi orang yang imannya berada “di bawah garis kemiskinan”:), tapi kalau bagi Allah SWT, itu adalah hal yang mudah sekali.

Sesungguhnya, perjalanan melintas penjuru langit dan bumi itu dapat dilakukan oleh manusia (meski tidak sehebat Israa’ Mi’raj). Allah SWT telah menyatakan hal ini bahwa jin dan manusia bisa melakukan itu jika mereka memakai kekuatan (power):

“Hai jama`ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.” [Ar Rahman:33]

Sekarang manusia telah menciptakan berbagai pesawat dari yang kekuatannya ribuan tenaga kuda (HP), hingga jutaan tenaga kuda (bahkan lebih di masa depan nanti).

Semakin modern kita, di mana terjadi banyak penemuan kendaraan-kendaraan yang berkecepatan makin lama makin tinggi, seharusnya perjalanan seperti Israa’ Mi’raj itu akan makin mudah diterima. Jika ada yang menganggap tidak masuk akal, tentu pikirannya tidak berbeda jauh dengan pikiran primitif orang-orang kafir Quraisy macam Abu Jahal dan Abu Lahab yang tinggal di zaman baheula.

Berikut adalah hadits Nabi Muhammad SAW tentang Israa’ Mi’raj:

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya dari Anas Ibnu Malik bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Didatangkan untukku Buraq yang merupakan hewan putih,

panjangnya diatas himar dan dibawah bagal, kukunya berada di akhir ujungnya. Beliau bersabda, `Aku segera menunggainya hingga tiba di Baitul Maqdis.’ Beliau bersabda, `Lalu ia mengikatnya dengan tali (rantai) yang biasa dipakai oleh para nabi untuk mengikat.’

Beliau melanjutkan, `Kemudian aku memasuki masjid (Baitul Maqdis) dan mendirikan shalat dua rakaat.

Setelah itu, aku keluar. Lalu Malaikat Jibril a.s. mendatangiku dan menyodorkan dua buah gelas yang satu berisi khamar dan lainnya berisi susu. Aku memilih gelas yang berisi susu dan Jibril a.s. berkata, `Engkau telah memilih kesucian.’

Kemudian ia naik bersamaku ke langit yang pertama. Jibril meminta dibukakan pintu. Lalu (malaikat penjaga langit pertama) bertanya, `Siapakah kamu.’ Jibril a.s. menjawab, `Jibril.’ Kemudian ia ditanya lagi, `Siapakah yang besertamu?’ Jibril a.s. menjawab, `Muhammad.’ Malaikat itu bertanya, `Apakah kamu diutus?’

Jibril menjawab, `Ya, aku diutus.’ Lalu pintu langit dibukakan untuk kami. Ternyata aku bertemu dengan Nabi Adam a.s. Ia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Setelah itu Jibril a.s. naik bersamaku kelangit yang kedua dan meminta dibukakan pintu. Lalu pintu langit kedua dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan dua putra paman Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria a.s., keduanya menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Lalu Jibril a.s. naik bersamaku ke langit yang ketiga dan meminta dibukakan pintu langit ketiga. Lalu pintu langit ketiga dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Yusuf a.s. yang telah dianugerahi sebagian nikmat ketampanan. Ia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Kemudian Jibril a.s. naik bersamaku kelangit keempat dan meminta dibukakan pintu langit keempat. Lalu pintu langit keempat dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Idris a.s. yang menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Allah SWT berfirman, `Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.’

Setelah itu Jibril a.s. kembali naik bersamaku kelangit yang kelima dan meminta dibukakan pintu langit kelima. Lalu ia membukakan pintu langit yang kelima untuk kami, Di sana aku bertemu dengan Harun a.s. yang menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Malaikat Jibril a.s. kembali naik bersamaku ke langit yang keenam dan meminta dibukakan pintu untuk kami. Lalu ia membukakan pintu keenam untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Musa a.s. yang menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Lalu Jibril a.s. naik lagi bersamaku ke langit yang ketujuh dan meminta dibukakan pintu langit ketujuh. Kemudian malaikat penjaga pintu langit ketujuh membukakan pintu untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Ibrahim a.s. yang menyandarkan punggungnya ke

Baitul Ma’mur yang setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat dan tidak kembali kepadanya –sebelum menyelesaikan urusannya.

Setelah itu, ia pergi bersamaku ke Sidratul Muntaha. Ternyata, daun-daunnya sebesar kuping gajah dan buah-buahannya menyerupai buah anggur. Begitu perintah Allah SWT menyelubunginya dan menyelubungi apa-apa yang akan diselubungi, ia segera berubah. Tidak ada seorang makhluk Allah pun yang mampu menyifati keindahan dan keelokannya.

Lalu Allah Maha Agung mewahyukan apa-apa yang akan diwahyukan-Nya kepadaku dan mewajibkanku untuk mendirikan shalat lima puluh kali setiap hari sehari semalam. Setelah itu, aku turun menemui Musa a.s..

Ia bertanya kepadaku, `Apakah gerangan yang telah diwajibkan Allah SWT atas umatmu.’ Aku menjawab, ‘Mendirikan shalat sebanyak lima puluh kali.’ Kemudian ia berkata, `Kembalilah kepada Rabb-mu dan mohonlah kepada-Nya keringanan. Sesungguhnya umatmu tidak memiliki kemampuan untuk melakukan itu. Sesungguhnya aku telah berpengalaman mencobanya kepada Bani Israel.’ Beliau melanjutkan sabdanya, `Kemudian aku kembali kepada Rabb-ku dan memohon, `Wahai Rabb, berikanlah keringan untuk umatku.’ Dan Ia mengurangi menjadi lima kali..

Setelah itu, aku kembali menemui Musa a.s. dan kukatakan kepadanya, `Ia telah mengurangi menjadi lima kali.’ Namun Musa a.s. kembali berkata, `Sesungguhnya umatmu tidak memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu. Karena itu kembalilah kepada Rabb-mu dan mohonlah keringanan.’ Lalu aku bolak-balik bertemu antara Rabb-ku Yang Maha Tinggi dengan Musa a.s… Lalu Dia berfirman, `Wahai Muhammad, sesungguhnya kelima shalat itu dilaksanakan setiap sehari semalam. Setiap shalat dihitung sepuluh yang berarti berjumlah lima puluh shalat.

Barang siapa yang ingin melakukan suatu kebaikan kemudian tidak melaksanakannya, maka Ku-tuliskan untuknya satu kebaikan. Dan jika ia mengerjakannya, maka Ku-tuliskan untuknya sepuluh kebaikan.

Barangsiapa ingin melakukan kejelekan kemudian tidak melakukannya, maka Aku tidak menulis apa-apa padanya. Dan jika ia mengerjakannya, maka Aku menuliskannya satu kejelekan.’ Beliau kembali melanjutkan sabdanya,

`Lalu aku turun hingga sampai kepada Musa a.s. dan memberitahukan hal tersebut. Musa a.s. berkata, `Kembalilah kepada Rabb-mu dan memohonlah keringanan.’

Saat itu Rasulullah saw. bersabda, `Aku katakan kepadanya, `Aku telah berulang kali kembali kepada Rabb-ku hingga aku merasa malu kepada-Nya.’”

“A Nizami” <nizaminz@yahoo.com>

RASUL SAW Lebih Utama Dari Setiap Orang Beriman

Sabda Rasulullah saw :
“aku lebih utama dari setiap orang beriman atas diri mereka sendiri, maka barangsiapa yg wafat dan menanggung hutang dan ia tidak meninggalkan harta untuk melunasinya, maka akulah yg akan menanggung hutangnya, dan barangsiapa yg wafat dan meninggalkan harta, maka untuk ahli warisnya” (Shahih Bukhari)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Limpahan Puji Kehadirat Allah Maha Raja Langit dan Bumi. Nama Yang Maha Suci dan Maha Abadi. Barangsiapa yang mensucikan Allah maka ia akan suci dan abadi dalam kenikmatan, kesucian, kehidupan yang abadi, kesucian setelah kehidupannya abadi dalam Kasih Sayang Allah yang abadi, Kasih Sayang yang tiada pernah ada akhirnya, Kasih Sayang yang membuka segala anugerah sepanjang waktu dan zaman. Allah yang paling berhak dimuliakan dan diagungkan. Yang dengan mengagungkannya terangkatlah derajat manusia kepada kemuliaan dan keagungan. Dan tiada keagungan yang abadi kecuali mereka yang memuliakan Sang Maha Agung, Dialah (Allah) yang mensucikan (kehidupan), Maha Suci Dia (Allah). (yang barangsiapa mensucikan Allah maka) Kehidupannya akan tersucikan, (yaitu) mereka yang memuji (Allah) yang paling berhak dipuji, Dialah (Allah) maka kehidupan mereka akan terpuji.

Hadirin – hadirat, dan Allah Swt memuliakan hamba – hambaNya, mereka yang mau kembali kepada Allah setelah bertaubat, mereka yang mau kembali kepada Allah setelah berdosa lalu bertaubat dan setelah bertaubat lalu bertaubat dan ia terus menaiki tangga – tangga keluhuran taubat, dari satu derajat menuju derajat lainnya, dari satu gerbang kesucian taubat menuju gerbang cahaya taubat selanjutnya. Demikian keadaan Sayyidina Muhammad Saw, orang yang tidak pernah berdosa dan ma’shum (terjaga dari dosa). Namun memahami rahasia kemuliaan taubat maka beliau bertaubat 70X setiap harinya bahkan sampai 100X setiap harinya kepada Allah Ya Rahman Ya Rahim. Wahai Yang Maha Mencintai hamba yang bertaubat, jadikan kami hamba yang selalu bertaubat, jadikan kami hamba yang mencintai taubat.

Hadirin – hadirat, Allah berfirman “Alladziina yahmiluunal arsya waman haulahu yusabbihuuna bihamdi rabbihim wa yu’minuuna bihi wayastaghfiruuna lilladziina amanuu Rabbana wasi’ta kulla syai’in rahmatan wa’ilman, faghfir lilladziina taabuu wattaba’uu sabiilaka waqihim adzabaljahiim” Mereka – mereka para malaikat yang menopang arsy-nya Allah Swt, mereka yang mengangkat arsy-nya Allah; QS. Ghafir : 7.

Arsy itu hadirin – hadirat, bumi ini, langit yang pertama penuh dengan triliyunan bahkan jutaan triliyun bintang adalah langit pertama dan langit
pertama jika masuk ke langit kedua bagaikan debu ditengah lautan. Sebagaimana langit kedua jika masuk ke langit ketiga, bagaiakan debu di tengah lautan. Demikian lagit keempat, kelima, keenam, ketujuh dan diatasnya adalah Lauhul Mahfudz yang jika 7 lapis langit, bumi dan segala isinya dimasukkan ke lauhul mahfudz bagaikan debu ditengah lautan dan diatasnya adalah Al Kursiy yang jauh lebih besar dari lauhul mahfudz. Dan diatasnya
adalah Al Arsy yang jika seluruh Al Kursiy, Lauhul Mahfudz dan 7 lapis langit dimasukkan ke dalam Arsy, bagaikan debu di tengah lautan. Para malaikat yang menopang Arsy Allah, mereka bertasbih mensucikan Nama Allah dan beriman kepada Allah.

“Wayastaghfiruuna lilladziina amanuu” Mereka (para malaikat penopang arsy itu) beristighfar untuk orang – orang bertaubat kepada Allah. “Rabbana
wasi’ta kulla syai’in rahmatan wa’ilman faghfir lilladziina taabuu..” Wahai Tuhan kami, (mereka para malaikat itu berdoa) Kau-lah Yang Maha Luas Kasih
Sayang-Mu dan Pengetahuan-Mu maka ampunilah orang – orang yang bertaubat. “Wattaba’u sabiilaka..” dan yg mengikuti jalan-Mu yang benar (yaitu jalan Sayyidina Muhammad Saw)..

“Rabbana wa adkhilhum jannaati” Dan berikan kepada mereka surga; QS. Al-Mu’min : 8. “ ‘Adnillatii wa‘adtahum waman shalaha min a-baa-ihim wa
azwaajihim wa dzurriyyaatihim” Dan juga berikan pula kepada yang baik dari keluarga mereka, ayahbunda mereka, keturunan mereka, suami atau istri
mereka; QS. Al-Mu’min : 8.

Cahaya taubat menggetarkan para penopang Arsy-nya Allah. Jiwa pendosa yang ingin taubat kepada Yang Maha Menerima Taubat. “Innahu yuhibbu tawwabin” Sang Pemilik alam semesta mencintai hamba yang bertaubat. Merugilah jiwa yang lepas dari kemuliaan taubat. Semoga aku dan kalian selalu dalam cahaya taubat, Ya Rahman Ya Rahim. Sedemikian banyak diantara kita yang hadir ini yang masih berat bertaubat kepada Allah, padahal hal itu mengguncang Arsy-nya Allah Swt sehingga para malaikat mendoakannya, mendoakan anaknya, mendakan ayahbundanya, mendoakan kerabatnya, suami atau istrinya dan demikian Allah memuliakan hamba-Nya yang bertaubat.

Dan hadirin – hadirat, pemimpin orang – orang yang bertaubat adalah Sayyidina Muhammad Saw. “Wannajmi idza hawaa” Demi cahaya bintang yang
berpijar terang – benderang; QS. An-Najm : 1. “Maa dhalla shahibukum wama ghawaa; wama yanthiqu ‘anil hawaa; in huwa illa wahyun yuuhaa; ‘allamahu syadiidulquwaa; dzuu mirratin fastawaa; wa huwa bil ufuqil a’laa; tsumma danaa fatadallaa; fakanaqaaba qausaini aw ‘adnaa; fa awhaa ilaa ‘abdihi maa awhaa; maa kadzabal fuadu maa ra-aa” QS. An-Najm : 2-11.

Najm didalam bahasa arab ada 2 makna, yaitu Najm dan Kawkab. Kawkab adalah bintang yang tidak bercahaya tapi mendapat cahaya dari bintang lain yaitu diantaranya bulan. Kalau Najm adalah bintang yang mempunyai cahaya sendiri dan berpijar. Inilah makna Najm. Sebagian para ulama menafsirkan makna Najm ini adalah Sayyidina Muhammad Saw. “Idza hawaa” ketika sedang berpijar indah. Dan “hawaa” itu sendiri juga mempunyai makna yang jelas. Hawaa itu adalah ketika hati sedang bergetar dan gemuruh dengan cinta dan rindu.

“Wannajmi idza hawaa” Demi jiwa yang berpijar dengan cahaya Allah; QS. An’Najm : 1. Gemuruh dan cinta kepada Allah. “Maa dhalla shahibukum wama
ghawaa” teman kalian (Sayyidina Muhammad Saw) itu bukan orang yang tertipu dan bukan pula orang yang penipu; QS. An-Najm : 2. “Wama yanthiqu
‘anilhawaa; in huwa illa wahyun yuuhaa” Sang Nabi tidak bicara dari keinginannya (hawa nafsunya) tapi setiap ucapannya adalah kalimat Allah Swt;
QS. An-Najm : 3-4. Ucapan beliau saw adalah wahyu Illahi. “‘allamahu syadiidulquwaa” Jibril as yang menyampaikan wahyu dan mengajarinya; QS.
An-Najm : 5. “Dzumirratin fastawaa” yang memiliki kekuatan dan kewibawaan; QS. An-Najm : 6. “Wa huwabil ufuqil a’laa” dan ketika Sang Nabi saw itu
berada di cahaya ufuk yang maha tinggi; QS. An-Najm : 7. Sebagian para mufassir menerangkan maksud dari “ufuqil a’laa” adalah cahaya Rabbul Alamin
ketika Sang Nabi saw menghadap-Nya di malam Isra wal Mi’raj di bulan Rajab mubarrak ini. Dan disaat itu “tsumma danaa fatadallaa” Sang Nabi saw semakin dekat; QS. An-Najm : 8. Diperintahkan untuk semakin dekat kehadirat Allah.

“Fakaana qaaba qausaini aw ‘adnaa” sangat dekat sekali dengan Rabbul Alamin; QS. An-Najm : 9. “Fa awhaa ilaa ‘abdihi maa awhaa” maka diwahyukan kepada Sang Nabi apa – apa yang diwahyukan dari Allah langsung tanpa perantara Jibril as, langsung kepada Nabi Muhammad Saw; QS. An-Najm : 10 . Nabi saw berhadapan langsung dengan Allah. “Maa kadzabal fuadu maa ra-aa” sanubari Sang Nabi tidak dusta atas apa yang dilihatnya; QS. An-Najm : 11. Beliau saw telah melihat Rabbul Alamin, Allah mengucapkan Sang Nabi dengan kalimat “Al Fuad” sang sanubari. Maksud dan isyarat betapa dicintainya Nabi Muhammad Saw oleh Allah sehingga Allah mengatakan “maa kadzabal fuadu maa ra-aa” sanubari itu tidak berdusta atas apa yang dilihatnya. Karena apa? Karena manusia sering bicara tapi hatinya berdusta. Lidahnya menyampaikan kalimat dusta. Namun Sang Nabi saw ini ucapannya adalah kalimat Allah dan sanubarinya tidak dusta atas apa yang dilihatnya. “Afatumaaruunahu a’laa maa yaraa” apakah kalian masih mendustakan dan masih tidak percaya atas apa yang dilihat Nabi Muhammad Saw? QS. An-Najm : 12.

Hadirin – hadirat, masih muncul hingga saat ini orang yang menyangkal bahwa Sang Nabi saw berjumpa dengan Allah di malam Isra wal Mi’raj. Hadirin,
ucapan ini telah dijawab oleh Allah “Afatumaaruunahu a’laa maa yaraa?” apakah ada diantara kalian yang masih meragukan apa yang dilihat Sang Nabi
saw.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, Sampailah kita kepada hadits mulia yang jika mereka merenungkannya, ia akan lebur dengan cinta kepada Sang Nabi saw. Hadits ini menerangkan betapa cintanya Sang Nabi saw kepadaku dan kepada kalian. “Ana awla bil mu’miniina min anfusihim” Aku lebih utama, lebih patut didahulukan oleh orang – orang mukmin dari diri mereka sendiri. Inilah bentuk kemuliaan Allah Swt kepada Sang Nabi saw untuk setiap pribadi muslimin – muslimat. Betapa dekat dan eratnya dan tidak bisa terputusnya Sang Nabi saw dengan umatnya karena beliau “awla bil mu’miniina min anfusihim”.

Lalu apa Sang Nabi saw memberikan kepada kita? “Faman mata wa alaihi dainun, walam yatruk wafa’an fa’alaina qadhauhu” jika ada diantara kalian (di masa itu) yang wafat dan tidak punya harta untuk membayar hutang – hutangnya, maka aku yang membayar hutangnya. Sang penebus hutang umatnya, ialah Sayyidina Muhammad Saw. “Waman taraka malan faliwa rasytihi” kalau masih meninggalkan harta maka untuk ahli warisnya. Jadi pada hakikatnya yang lebih berhak kepada ahli waris itu adalah Nabi Muhammad Saw. Karena beliau saw lebih berhak daripada keluarganya tapi Sang Nabi saw mengatakan kalau ada hutang, baru aku yang ambil. Kalau ada hartanya ambil oleh keluarganya tapi kalau ada hutangnya, aku (Nabi Saw) yang akan membayarnya. Inilah sang penebus umatnya di dunia dan di akhirat. Sehingga di yaumal qiyamah, beliau saw juga yang berusaha menebus dosa umatnya dengan bersujud untuk pengampunan demi seluruh pendosa diantara aku dan kalian. Inilah Sayyidina Nabi Muhammad Saw.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, Hadits ini merupakan penjelasan dari firman Allah “Annabiyyu awla bil mu’minina min anfusihim”QS. Al Ahzab : 6. Bahwa Nabi Saw itu lebih mulia dan lebih patut didahulukan dari orang yang beriman atas diri mereka sendiri. Paling pantas dicintai lebih dari diri kita yaitu Sayyidina Muhammad Saw. Karena apa? Karena beliaulah manusia yang paling mencintai kita. Kalau selain Sang Nabi saw, tidak ada yang lebih mencintai kita kecuali Allah. Sang Nabi saw manusia yang paling cinta kepada kita karena disaat semua yang cinta pada kita lupa pada kita, beliau saw tidak lupa kepada kita. Saat semua orang menghindar, para Nabi dan Rasul menghindar, beliau saw tidak menghindar bahkan mencari kita dimanapun umatnya berada. Di jembatan ashshirat, keberatan dosa didalam timbangan amal atau sudah jatuh ke dasar neraka?

Beliau saw tetap tidak ingin senang sebelum umatnya terangkat dan terbebas dari neraka. Inilah idola, inilah Sayyidina Nabi Muhammad Saw yang sudah dijelaskan oleh Allah bahwa beliau saw lebih patut didahulukan daripada diri kita sendiri. Kenapa? Karena beliau saw mendahulukan kita daripada diri beliau sendiri. Beliau saw mendahulukan umatnya daripada diri beliau sendiri. Sampai musuh – musuhnya pun masih didoakan, masih menginginkan hidayah-Nya. Beliau saw memerangi musuh – musuh yang memeranginya tentunya. Jika membahayakan muslimin, beliau memerangi dengan senjatanya. Namun besarnya keinginan Sang Nabi saw agar musuh- musuhnya itu kembali ke dalam hidayah. Mereka yang sudah diperangi tentunya sudah jelas diperangi untuk membela dirinya dan tidak membiarkan dirinya mereka bunuh begitu saja.

Akan tetapi beruntung mereka yang berada di jalan Sayyidina Muhammad Saw. Mereka bersabar dan ketika mereka melawan musuhnya, jika mereka menang maka mendapatkan ghanimah (hasil rampasan perang) dan jika mereka kalah maka mereka sebagai syuhada (orang yang wafat dijalan Allah). Tidak ada kerugian sebagai para pembela Muhammad Rasulullah Saw. Menang mendapat pahala dan ghanimah, kalah maka syahid. Kalau tidak wafat maka ia mendapatkan pahala besar dihadapan Allah Swt sebagai fisabilillah. Tidak ada ruginya mengikuti Muhammad Rasulullah Saw.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, Di bulan yang agung ini kita bermunajat kepada Allah Swt dan saya juga ingin menyampaikan bahwa hari Rabu atau mungkin esok hari, Insya Allah Rabu sore saya pamit untuk menuju ke Madinah Al Munawwarah diberi amanat oleh Guru Mulia kita untuk berdoa di Raudhatul Nabawiy untuk kemaslahatan bangsa ini. Namun belum jelas, barangkali Rabu sore. Dan saya baru akan pulang hari Sabtu petang atau Ahad. Demikian hadirin yang dimuliakan Allah, semoga Allah Swt memberikan ijabah kepada doa dan harapan kita.

Dan keberangkatan saya menuju Madinah Al Munawwarah tidak lain mendoakan agar bangsa ini mendapatkan kedamaian dengan munculnya pemimpin yang baru di negeri muslimin terbesar di muka bumi ini. Semoga Allah melimpahkan Rahmat dan Keberkahan. Kita malam hari ini berdoa kepada Allah demi kemuliaan Isra wal Mi’raj Sayyidina Muhammad Saw. Dan demi cinta Allah Swt kepada muslimin – muslimat dan demi cinta Sang Nabi Saw kepada umat beliau saw. Dan kita memanggil Nama Allah Swt, berdzikir bersama, masukkan seluruh hajat dan doa – doamu dan kita berdoa agar Allah memperkuat bentang dakwah Sayyidina Muhammad Saw di bumi Jakarta ini, diwilayah Poso, diwilayah Bintuni, di wilayah Denpasar dan di seluruh wilayah muslimin. Ya Rahman Ya Rahim perkuatlah dan tolonglah seluruh para Da’i illaAllah yang membangkitkan dakwah Nabi kita Nabi Muhammad Saw.

Ya Rahman Ya Rahim percepatlah datangnya janji Nabi-Mu Muhammad Saw bahwa setelah beliau wafat akan muncul perpecahan, akan muncul gempa bumi, akan muncul sedemikian banyak pembunuhan dan setelah itu akan muncul banyaknya yang mengaku Nabi dan setelah itu akan muncul kemakmuran. Rabbiy pembunuhan dan saling bunuh banyak terjadi di negeri muslimin terbesar di muka bumi dan demikian juga paling banyak terjadi perpecahan dari golongan – golongan muslimin yang terjadi di Indonesia. Negeri muslimin terbesar di muka bumi. Demikian pula gempa bumi terbesar yaitu tsunami yang kini paling banyak terjadi di Indonesia paling banyak memakan korban. Dan demikian pula yang mengaku Nabi, paling banyak terjadi di negeri muslimin terbesar di muka bumi. Maka setelah itu akan muncul kemakmuran. Maka pastikan kemakmuran terbesar di bangsa muslimin terbesar di muka bumi ini, percepat kemakmuran.
Kami telah melihat goncangan gempa bumi, perpecahan, pembunuhan, pengakuan Nabi dan itu semua telah lewat dan gantikan dengan munculnya kemakmuran. Ya Rahman Ya Rahim jadikan pemimpin yang akan muncul ini membawa kemakmuran muslimin – muslimat dan juga di negeri muslimin terbesar ini. Ya Dzaljali Wal Ikram Ya Dzaththauli Wal In’am.

Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Ya Allah, Ya Allah..Ya Allah..Ya Allah.. Ya Rahman Ya Rahim

Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Laillahailallah Laillahailallah Laillahailallah Muhammadurrasulullah

Hadirin – hadirat, dengan ini kita akhiri majelis kita dengan doa bersama. Dan juga semoga Allah Swt menyingkirkan kita dari segala fitnah, menjaga
kita dari segala apa yang akan menghancurkan dakwah Nabi Muhammad Saw. Apakah berupa terror atau berupa selebaran atau berupa apapun yang bersifat ingin memecah belah dan menghancurkan dakwah kita. Semoga Allah hancurkan dan singkirkan mereka, beri mereka hidayah agar mereka kembali kepada keluhuran. Kita berdoa bersama memohon, kita semua malam ini berdoa dengan sungguh – sungguh mendoakan seluruh muslimin- muslimat sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw “barangsiapa yang mendoakan saudara muslimnya dengan 1 doa, maka malaikat berkata “amin walaka mitsluh” amin untukmu sebagaimana doamu untuk saudaramu. Kita mendoakan pertolongan untuk seluruh muslimin, semoga Allah menolong mereka. Berapa jumlah seluruh muslimin di muka bumi, kembali keberkahannya kepada kita. Dan juga kita berdoa kepada Allah agar Allah Swt memberikan pemimpin yang terbaik bagi bangsa muslimin terbesar di muka bumi, pemimpin yang membawa kedamaian, pemimpin yang membawa
ketenangan, pemimpin yang membawa kemakmuran, menindas kedhaliman, dan menolong yang lemah.

Ya Rahman Ya Rahim inilah doa kami, hantarkan keberangkatan saya pergi ke Madinah Al Munawwarah dengan doa kita bersama dengan doa Ya Arhamarrahimin Farij a’lal Muslimin.

Washallallahu ala Sayyidina Muhammad Nabiyyil Ummiy wa Shohbihi wa Sallam Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ditulis Oleh: Munzir Almusawa

“saiful” <saiful@katsushiro.co.id>

Perbedaan antara Ujian dan Azab

Mungkin ada dari kita yang bertanya-tanya, bagaimana membedakan antara ujian dan azab?

Musibah atau bencana yang menimpa orang yang beriman yang tidak lalai dari keimanannya, sifatnya adalah ujian dan cobaan. Allah ingin melihat bukti keimanan dan kesabaran kita. Jika kita bisa menyikapi dengan benar, dan mengembalikan semuanya kepada Allah, maka Allah akan memberikan pertolongan dan rahmat sesudah musibah atau bencana tersebut.

Sebaliknya bagi orang-orang yang bergelimang dosa dan kemaksiatan,  bencana atau musibah yang menimpa, itu adalah siksa atau azab dari Allah atas dosa-dosa mereka. Apabila ada orang yang hidupnya bergelimang  kejahatan dan kemaksiatan, tetapi lolos dari bencana/musibah, maka Allah sedang menyiapkan bencana yang lebih dahsyat untuknya, atau bisa jadi ini merupakan siksa atau azab yang ditangguhkan, yang kelak di akhirat-lah balasan atas segala dosa dan kejahatan serta maksiat yang dilakukannya.

Sebenarnya yang terpenting bukan musibahnya, tetapi apa alasan Allah menimpakan musibah itu kepada kita. Untuk di ingat, jika musibah itu terjadi, disebabkan dosa-dosa kita, maka segera-lah bertobat kepada Allah. Kalau musibah yang terjadi karena ujian keimanan kita, maka kuatkan iman dan berpegang teguhlah kepada Allah.

Siapa saja berbuat kebaikan, maka manfaatnya akan kembali kepadanya. Sedangkan siapa saja berbuat kejahatan, maka bencananya juga akan kembali kepada dirinya sendiri. Bisa dibalas didunia atau di akhirat.

Perhatikan firman allah SWT berikut ini : ”Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab”. (QS. Al Mukmin [40] : 40).

Perhatikan juga dengan seksama firman Allah SWT berikut ini :  “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS. An Nissa [4] : 79)
Ibnu Katsir mengatakan bahwa makna “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah” adalah dari karunia dan kasih sayang Allah SWT. Sedangkan makna “dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Berarti dari dirimu sendiri dan dari perbuatanmu sendiri.
Berikut beberapa contoh :
1. Musibah bisa jadi sebagai peringatan
Musibah ini diberikan kepada kaum mukmin yang merosot keimanannya. Peringatan ini karena kasih sayang Allah SWT. Misalnya seseorang yang berada dalam kesempitan rezki.  Kemudian ia bermunajat di malam hari agar Allah memberikannya keluasan rezeki. Shalat tahajjud, shalat Dhuha, puasa sunah senin kamis dan perbaikan ibadah lainnya dengan semaksimal mungkin.  Hingga Allah SWT memberikan jalan keluar. Bisnisnya berkembang, karyawan bertambah, kesibukan semakin meningkat. Tapi justru dikarenaka sibuknya satu persatu ibadah sunahnya mulai ia tinggalkan. Shalat-shalatnya pun semakin tidak khusyu’. Seharusnya bertambahnya nikmat, membuat ia bertambah syukur dan  semakin dekat dengan Allah, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, nikmat bertambah malah membuatnya semakin jauh dari Allah.

Orang ini sebenarnya sedang mengundang datangnya musibah,atau azab Allah. Musibah yang datang kepadanya sebagai peringatan untuk meningkatkan kembali keimanannya yang merosot itu.  Bisa saja terjadi tiba-tiba usahanya macet dan banyak mengalami kerugian. Akibatnya ia terlilit hutang. Dalam keadaan bangkrut tadi tidak ada yang mau menolongnya. Ketika itulah ia kembali kepada Allah untuk memohon pertolongan dengan cara memperbaiki ibadah-ibadahnya yang selama ini sudah tidak ia perhatikan lagi. Tercapailah tujuan musibah yaitu pemberi peringatan.
Musibah juga bisa sebagai penggugur dosa-dosa kita. Perhatikan sabda Rasulullah saw berikut ini:  “Tak seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semisal tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Perhatikan dengan seksama firman Allah SWT berikut ini : “Dan Sesungguhnya kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), Mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. As Sajdah : 21)
Jadi sebenarnya, Allah SWT menurunkan musibah atau azab pada kita di dunia ini, sebagai peringatan bagi kita, untuk kembali pada kebenaran.

2        Musibah sebagai ujian keimanan
Musibah ini adalah tanda kecintaan Allah SWT  pada seseorang hamba. Semakin tinggi derajat keimanan dan kekuatan agama seseorang justru ujian (musibah) yang menimpanya akan semakin berat. Perhatikan sabda Nabi SAW berikut ini :  Dari Mush’ab bin Sa’d dari ayahnya. Ayahnya berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah SAW,” Manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Rasulullah SAW menjawab,” Para Nabi, kemudian disusul yang derajatnya seperti mereka, lalu yang di bawahnya lagi. Seseorang diuji sesuai keadaan agamanya. Jika agamanya itu kokoh maka diperberatlah ujiannya. Jika agamanya itu lemah maka ujiannya pun disesuaikan dengan agamanya. Senantiasa ujian menimpa seorang hamba hingga ia berjalan di muka bumi tanpa dosa sedikit pun.”   (HR. al-Ahmad, al-Tirmidzi dan Ibn Majah,berkata al-Tirmidzi: hadits hasan shahih)
Sedangkan bala atau cobaan maupun ujian juga telah disebutkan didalam Al Qur’an seperti tertulis dalam firman Allah SWT :  “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) . Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al Anbiya [21] : 35)
Cobaan atau ujian yang menimpa setiap orang dan ini bisa berupa keburukan atau kebaikan, kesenangan atau kesengsaraan, sebagaimana disebutkan pula didalam firman-Nya yang lain  yaitu : “Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali  (kepada kebenaran) (QS. Al A’raf  [7] : 168).
Sekarang coba tanyakan dengan jujur pada diri sendiri, bagaimana keimanan kita terhadap Allah SWT ?Apabila kita termasuk orang yang lalai, maka jawaban atas musibah yang menimpa, adalah sebagai azab dan peringatan atas kelalaian kita, agar kita sadar dari kelalain kita selama ini. Dan segeralah bertobat.
Dan kalau kita bukan hamba-Nya yang lalai, maka segala ujian yang terjadi menimpa kita, adalah sebagai suatu ujian, dimana dengan ujian itu, Allah telah menyiapkan tingkat keimanan yang lebih tinggi untuk kita. Seperti menjadikan kita hamba pilihan-Nya yang sabar. Dan pahala orang yang sabar sungguh tanpa batas. Seperti tertulis dalam firman-Nya : “…..Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (Az Zumar [39] : 10)  Dengan kesabaran, akan bisa meraih ridha Allah, dan ridha Allah adalah segalanya.
Dewi Yana
http://jalandakwahb ersama.wordpress .com
http://dewiyana. cybermq.com

Meyakini Allah Sedang Melihat Kita

Dalam hidup ini kita harus menetapkan batasan terendah sebagai seorang mukmin, yaitu “meyakini Allah sedang melihat kita”  karena bila kita masih berada dibawah batasan ini, berarti kita termasuk golongan yang lalai.  Kita semua mengetahui bahwa Allah SWT : Al-Bashir (Maha Melihat)   dan Al-Syahid (Maha menyaksikan) .
Meyakini Allah sedang melihat kita, disebut juga dengan kesadaran muraqabah, Pengertian muraqabah adalah :  menerapkan kesadaran bahwa Allah selalu melihat dan  mengawasi  kita dalam segala keadaan. Bahwa Allah selalu mengetahui apa yang kita rasakan, ucapkan dan kita perbuat.
Bila kita tidak bisa menerapkan keyakinan bahwa Allah sedang melihat kita, (muraqabah), maka kita akan menjadi hamba yang lupa akan pengawasan Allah, karena kita mengira bahwa Allah tidak mengetahui apa yang kita kerjakan. Sehingga ada dari kita yang sering berdusta/berbohong, hingga berbohong  menjadi suatu hal yang sudah biasa dilakukan dan yang terparah bahkan tidak ada rasa canggung dan tidak merasa berdosa bila telah melakukan suatu kebohongan baik untuk hal kecil maupun besar, Dan pada umumnya, orang yang telah berbohong/berdusta, akan cenderung melakukannya lagi, lagi, dan lagi.
Mereka yang berbohong/berdusta/ mengatakan sesuatu yang tidak benar, biasanya malu untuk mengakuinya, karena gengsi, memikirkan takut apa penilaian orang padanya bila mengetahui kebohongannya dan takut nama baiknya tercemar. Walaupun sebenarnya dia sadar bahwa kebohongan/ dusta yang dikatakannya itu, kadang telah membawa kesulitan bagi orang lain serta merugikan orang lain. Terutama apabila kebohongannya itu  lebih menjurus kepada sebuah fitnah, misalnya dengan mengatakan kebohongan, menuduh seseorang melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya.  Ini tingkat kebohongan yang sudah parah, karena kebohongan yang seperti ini sama saja dengan fitnah, dan fitnah itu bisa jadi senjata yang sangat menghancurkan.
Mungkin bagi yang melakukan kebohongan/dusta, baik yang kecil atau besar, lupa bahwa ada Allah yang Maha Menyaksikan segalanya, seperti tertulis dalam firman-Nya: “kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari penyaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Fushshilat : 22)
Allah menciptakan telinga, mata dan kulit yang selalu menyertai kita untuk mengawasi semua gerak-gerik kita dimana pun kita berada.  Sadarilah, bahwa anggota tubuh kita itu akan melaporkan semua aktivitas kita kepada Allah pada hari penyaksian nanti.  Sebagaimana tertulis dalam firman-Nya : “sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa telah mereka kerjakan” (Q.S. Fushshilat : 20).
Mengutip buku  Ketika Allah Berbahagia, dr Abu Syadi khalid :   Diceritakan oleh sahabat Anas bin Malik ra, sebagai berikut : suatu hari kami duduk bersama-sama Rasulullah saw, kami lihat Beliau tertawa, kemudian Beliau bertanya kepada kami, tahukah kalian apa yang menyebabkanku tertawa ?  Kami menjawab, Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.  Rasul berkata, saya tertawa karena dialog seorang hamba dengan Tuhannya (di hari pembalasan).
Hamba itu berkata : wahai Tuhan, tidakkah Engkau akan menyelamatkanku dari kezaliman ?  Tuhan menjawab, Ya. Kemudian hamba itu berkata, saya tidak akan menerima tuduhan atasku kecuali dengan bedasarkan saksi.  Tuhan menjawab : Cukup dirimu sendiri dan malaikat pencatat amal yang akan menjadi saksi.  Setelah itu mulut hamba tersebut ditutup dan Tuhan mulai menanyai anggota tubuh hamba tersebut.  “Berkatalah”, maka anggota-anggota tubuh itu mengisahkan semua amal perbuatan hamba tersebut.  Kemudian mulut hamba tersebut diperkenankan untuk berbicara kembali, maka (sambil marah) mulut itu berkata kepada anggota-anggota badan yang lain, kalian adalah penghianat dan akan binasa, dulu didunia aku telah membela kalian.
Jadi, bila ada dari kita yang kadang masih suka berbohong/berdusta, baik dalam hal kecil maupun besar, sebaiknya segeralah bertaubat, dan mulai menerapkan batasan terendah sebagai seorang muslim, agar kita tidak menjadi hamba Allah yang lalai. Dan cobalah untuk mengucapkan tiga kata-kata berikut ini, disertai dengan pemahaman yang mendalam : Allahu Ma’ii (Allah bersamaku) Allahu Nazhirii (Allah melihatku) Allahu Syaahidii (Allah Menyaksikanku) .
Cobalah baca wirid itu berulang-ulang, Insya Allah kita bisa merasakan kehadiran dan pengawasan Allah, serta benar-benar merasakan Allah melihat segala apa yang kita kerjakan, seperti yang tertuilis dalam firman-Nya di surah Al Hadid ayat 4 :
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari; Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy . Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya . Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”  (QS. Al Hadid 4)

Dewi Yana
http://jalandakwahb ersama.wordpress .com
http://dewiyana. cybermq.com

barangsiapa-menyia-nyiakan-shalat-lima-waktu-untuk-amalan-lainnya-pasti-lebih-disia-siakan-lagi

Sudah sepatutnya kita menjaga shalat lima waktu. Barangsiapa yang selalu menjaganya, berarti telah menjaga agamanya. Barangsiapa yang sering menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi.

Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.“

Imam Ahmad –rahimahullah- juga mengatakan perkataan yang serupa, “Setiap orang yang meremehkan perkara shalat, berarti telah meremehkan agamanya. Seseorang memiliki bagian dalam Islam sebanding dengan penjagaannya terhadap shalat lima waktu. Seseorang yang dikatakan semangat dalam Islam adalah orang yang betul-betul memperhatikan shalat lima waktunya. Kenalilah dirimu, wahai Abdullah. Waspadalah! Janganlah engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki bagian dalam Islam. Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam hatimu.“

Oleh karena itu, jangan heran jika kita melihat seseorang yang sering bolong shalatnya, amalan yang lainnya juga lebih dia sia-siakan, lebih sering berdusta, dan lebih menyia-nyiakan amanat.

Alhamdulillahilladz i bi nimatihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ala nabiyyina Muhammad wa ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Rujukan: Ash Sholah wa Hukmu Taarikiha, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah.

***
Mediu-Jogja, 17 Jumadil Ula 1430 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

“masyatin rais” <rendesvouz4488@yahoo.co.id>

Syirik yang Sering Diucapkan

”Janganlah engkau menjadikan si fulan (sebagai sekutu bagi Allah, pen) dalam ucapan-ucapan tersebut. Semua ucapan ini adalah perbuatan SYIRIK.”
(HR. Ibnu Abi Hatim)
Kaum muslimin yang semoga selalu mendapatkan taufiq Allah Ta’ala. Kita semua telah mengetahui bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb (Tuhan) alam
semesta, Yang menciptakan kita dan orang-orang sebelum kita, Yang menjadikan bumi sebagai hamparan untuk kita mencari nafkah, dan Yang menurunkan hujan untuk menyuburkan tanaman sebagai rizki bagi kita.
Setelah kita mengetahui demikian, hendaklah kita hanya beribadah kepada Allah semata dan tidak menjadikan bagi-Nya tandingan/sekutu dalam beribadah. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (Al Baqarah [2]: 22)
Lebih samar dari jejak semut di atas batu hitam di tengah kegelapan malam Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma –yang sangat luas dan mendalam ilmunya- menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan,”Yang dimaksud membuat sekutu bagi Allah (dalam ayat di atas, pen) adalah berbuat syirik. Syirik adalah suatu perbuatan dosa yang lebih sulit (sangat samar) untuk dikenali daripada jejak semut yang merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan malam.”
Kemudian Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mencontohkan perbuatan syirik yang samar tersebut seperti, ‘Demi Allah dan demi hidupmu wahai fulan’, ‘Demi hidupku’ atau ‘Kalau bukan karena anjing kecil orang ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri itu’ atau ‘Kalau bukan karena angsa yang ada di rumah ini tentu datanglah pencuri-pencuri itu’, dan ucapan seseorang kepada kawannya ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu’, juga ucapan seseorang ‘Kalau bukan karena Allah dan karena fulan’.
Akhirnya beliau radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, ”Janganlah engkau menjadikan si fulan (sebagai sekutu bagi Allah, pen) dalam ucapan-ucapan tersebut. Semua ucapan ini adalah perbuatan SYIRIK.” (HR. Ibnu Abi Hatim) (Lihat Kitab Tauhid, Syaikh Muhammad At Tamimi)
Itulah syirik. Ada sebagian yang telah diketahui dengan jelas seperti menyembelih, bernadzar, berdo’a, meminta dihilangkan musibah (istighotsah)
kepada selain Allah. Dan terdapat pula bentuk syirik (seperti dikatakan Ibnu Abbas di atas) yang sangat sulit dikenali (sangat samar).
Syirik seperti ini ada 2 macam.
Pertama, syirik dalam niat dan tujuan. Ini termasuk perbuatan yang samar karena niat terdapat dalam hati dan yang mengetahuinya hanya Allah Ta’ala.
Seperti seseorang yang shalat dalam keadaan ingin dilihat (riya’) atau didengar (sum’ah) orang lain. Tidak ada yang mengetahui perbuatan seperti ini kecuali Allah Ta’ala.
Kedua, syirik yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Syirik seperti ini adalah seperti syirik dalam ucapan (selain perkara i’tiqod/keyakinan) .
Syirik semacam inilah yang akan dibahas pada kesempatan kali ini. Karena kesamarannya lebih dari jejak semut yang merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan malam. Oleh karena itu, sedikit sekali yang mengetahui syirik seperti ini secara jelas. (Lihat I’anatul Mustafid bisyarh Kitabut Tauhid,   hal. 158, Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan)
Berikut ini akan disebutkan beberapa contoh syirik yang masih samar, dianggap remeh, dan sering diucapkan dengan lisan oleh manusia saat ini. Mencela Makhluk yang Tidak Dapat Berbuat Apa-apa Perbuatan seperti ini banyak dilakukan oleh kebanyakan manusia saat ini, barangkali juga kita-. Lidah ini begitu mudahnya mencela makhluk yang tidak mampu berbuat sedikit pun, seperti di antara kita sering mencela waktu, angin, atau pun hujan. Misalnya dengan mengatakan, ‘Bencana ini bisa terjadi karena bulan ini adalah bulan Suro’ atau mengatakan ‘Sialan! Gara-gara angin ribut ini, kita gagal panen’ atau dengan mengatakan pula, ‘Aduh!! hujan lagi, hujan lagi’. Lidah ini begitu mudah mengucapkan perkataan seperti itu. Padahal makhluk yang kita cela tersebut tidak mampu berbuat apa-apa kecuali atas kehendak Allah. Mencaci mereka pada dasarnya telah mencaci, mengganggu dan menyakiti yang telah menciptakan dan mengatur mereka yaitu Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.’ ” (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,”Janganlah kamu mencaci maki angin.” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan hasan shohih). Dari dalil-dalil ini terlihat bahwa mencaci maki masa (waktu), angin dan makhluk lain yang tidak dapat berbuat apa-apa adalah terlarang. Larangan ini bisa termasuk syirik akbar (syirik yang mengeluarkan seseorang dari Islam) jika diyakini makhluk tersebut sebagai pelaku dari sesuatu yang jelek yang terjadi. Meyakini demikian berarti meyakini bahwa makhluk tersebut yang menjadikan baik dan buruk dan ini sama saja dengan menyatakan ada pencipta selain Allah. Namun, jika diyakini yang menakdirkan adalah Allah sedangkan makhluk-makhluk tersebut bukan pelaku dan hanya sebagai sebab saja, maka seperti ini termasuk keharaman, tidak sampai derajat syirik. Dan apabila yang dimaksudkan cuma sekedar pemberitaan, -seperti mengatakan,’Hari ini sangat panas sekali, sehingga kita menjadi capek’-, tanpa tujuan mencela sama sekali maka seperti ini tidaklah mengapa.
Bersumpah dengan menyebut Nama selain Allah
Bersumpah dengan nama selain Allah juga sering diucapkan oleh orang-orang saat ini, seperti ucapan, ‘Demi Nyi Roro Kidul’ atau ‘Aku bersumpah dengan nama …’. Semua perkataan seperti ini diharamkan bahkan termasuk syirik. Karena hal tersebut menunjukkan bahwa dalam hatinya mengagungkan selain Allah kemudian digunakan untuk bersumpah. Padahal pengagungan seperti ini hanya boleh diperuntukkan kepada Allah Ta’ala semata. Barangsiapa mengagungkan selain Allah Ta’ala dengan suatu pengagungan yang hanya layak diperuntukkan kepada Allah Ta’ala, maka dia telah terjatuh dalam syirik akbar (syirik yang mengeluarkan seseorang dari Islam). Namun, apabila orang yang bersumpah tersebut tidak meyakini keagungan sesuatu yang dijadikan sumpahnya tersebut sebagaimana keagungan Allah Ta’ala, maka dia telah terjatuh dalam syirik ashgor (syirik kecil yang lebih besar dari dosa besar).
Berhati-hatilah dengan bersumpah seperti ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya, ”Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat kekafiran atau kesyirikan.” (HR. Tirmidzi dan Hakim dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jaami’)
Menyandarkan nikmat kepada selain Allah Perbuatan ini juga dianggap sepele oleh kebanyakan orang saat ini. Padahal menyandarkan nikmat kepada selain Allah termasuk syirik dan kekufuran kepada-Nya. Allah Ta’ala mengatakan tentang orang yang mengingkari nikmat Allah dalam firman-Nya yang artinya,”Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” (An Nahl: 83)
Menurut salah satu penafsiran ayat ini : ‘Mereka mengenal berbagai nikmat Allah (yaitu semua nikmat yang disebutkan dalam surat An Nahl) dengan hati mereka, namun lisan mereka menyandarkan berbagai nikmat tersebut kepada selain Allah. Atau mereka mengatakan nikmat tersebut berasal dari Allah, akan tetapi hati mereka menyandarkannya kepada selain Allah’.
Menyandarkan nikmat kepada selain Allah termasuk syirik karena orang yang menyadarkan nikmat kepada selain Allah berarti telah menyatakan bahwa selain Allah-lah yang telah memberikan nikmat (ini termasuk syirik dalam tauhid rububiyah). Dan ini juga berarti dia telah meninggalkan ibadah
syukur. Meninggalkan syukur berarti telah menafikan (meniadakan) tauhid. Setiap hamba mempunyai kewajiban untuk bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan.
Contoh dari hal ini adalah mengatakan ‘Rumah ini adalah warisan dari ayahku’. Jika memang cuma sekedar berita tanpa melupakan Sang Pemberi Nikmat yaitu Allah, maka perkataan ini tidaklah mengapa. Namun, yang dimaksudkan termasuk syirik di sini adalah jika dia mengatakan demikian dan melupakan Sang Pemberi Nikmat yaitu Allah Ta’ala.
Marilah kita berusaha tatkala mendapatkan nikmat, selalu bersyukur pada Allah dengan memenuhi 3 rukun syukur, yaitu:
[1] Mensykuri nikmat tersebut dengan lisan,
[2] Mengakui nikmat tersebut berasal dari Allah dengan hati, dan
[3] Berusaha menggunakan nikmat tersebut dengan melakukan ketaatan kepada
Allah. (Lihat I’anatul Mustafid, hal. 148-149 dan Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, II/93)

Perbaikilah Diri
Jarang sekali manusia mengetahui bahwa hal-hal di atas termasuk kesyirikan dan kebanyakan orang selalu menyepelekan hal ini dengan sering mengucapkannya . Padahal Allah Ta’ala telah berfirman yang artinya, ”Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni dosa
yang berada di bawah syirik bagi siapa yang dikehendaki- Nya. (QS. An Nisa [4]: 116).
Oleh karena itu, sangat penting sekali bagi kita untuk mempelajari aqidah di mana perkara ini sering dilalaikan dan jarang dipelajari oleh kebanyakan manusia. Aqidah adalah poros dari seluruh perkara agama. Jika aqidah telah benar, maka perkara lainnya juga akan benar. Jika aqidah rusak, maka perkara lainnya juga akan rusak.
Hendaknya pula kita memperbaiki diri dengan selalu memikirkan terlebih dahulu apa yang kita hendak ucapkan. Ingatlah sabda Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Boleh jadi seseorang mengucapkan suatu kata yang diridhai Allah namun tidak ia sadari, sehingga karena ucapannya ini Allah mengangkat derajatnya. Namun boleh jadi seseorang mengucapkan suatu kata yang dimurkai Allah dan tidak ia sadari, sehingga karena ucapannya ini Allah memasukkannya dalam neraka.” (HR. Bukhari)
Jika kita sudah terlanjur melakukan syirik yang samar ini, maka leburlah dengan do’a yang pernah diucapkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam: ’Allahumma inni a’udzubika an usyrika bika sya’an wa ana a’lamu wa astaghfiruka minadz dzanbilladzi laa a’lamu’ (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan menyukutakan- Mu dengan sesuatu padahal aku mengetahuinya. Aku juga memohon ampunan kepada-Mu dari kesyirikan yang tidak aku sadari) (HR. Ahmad).
***
Penulis : Muhammad Abduh Tuasikal

“luqman.abdul.aziz@rbs.com” <luqman.abdul.aziz@rbs.com>

Cegah Ijon Pemkot Bandung Buat 40 Koperasi Syariah

BANDUNG–Untuk melindungi warga Kota Bandung dari praktik ijon dan riba, Pemkot Bandung mendirikan 40 koperasi syariah di 30 kecamatan yang ada di Bandung. Menurut Wali Kota Bandung, Dada Rosada, Pemkot Bandung menggarkan dana bantuan di APBD untuk membentuk 40 koperasi syariah itu. Masing-masing koperasi memperoleh bantuan dana Rp 20 juta.

”Kami berharap, masyarakat Bandung tidak ada yang terjerat ijon atau riba jadi koperasi syariah ini dibentuk. Kalau anggarannya ada, di 2009 ini kami ingin menggarkan dana lagi untuk memperbanyak koperasi syariah,” ujar Dada Rosada kepada wartawan usai Peringatan Hari Koperasi ke 62, Selasa (21/7).

Menurut Dada, di beberapa kecamatan koperasi syariah itu ada yang sudah berkembang. Satu kecamatan, bahkan sudah ada yang memiliki beberapa koperasi syariah. Dana yang diberikan Pemkot Bandung, sifatnya hibah atau pemberian jadi pengurus koperasi tidak perlu mengembalikan kembali dana itu ke Pemkot.

”Mereka tidak perlu mengembalikan dana yang kami berikan. Silahkan saja, kelola sendiri untuk mengembangkan koperasi syariah itu,” ujar Dada.

Dada mengaku, keberadaan koperasi syariah sangat membantu usaha kecil menengah (UKM) yang ada di Kota Bandung. Karena, sistem bagi hasil tidak menyebabkan UKM terjerat oleh bunga yang besar. Jumlah koperasi di Kota Bandung termasuk syariah, kata dia, seluruhnya ada 2.376 dengan jumlah anggota 535.550.

Menurut Dada ada tiga persoalan mendasar yang dihadapi koperasi di Kota Bandung. Yaitu, citra sebagai golongan ekonomi lemah dan pemburu fasilitas, kontribusi nominal yang masih rendah dibanding badan usaha lain, serta semakin berkurangnya kesadaran bergotong royong melalui koperasi.

Padahal, kata dia, kalau masalah itu bisa diatasi koperasi cukup efektis berperan sebagai lembaga keuangan non perbankan penyedia kerja dan kesempatan berusaha. Sehingga, bisa diandalkan untuk mengembangkan ekonomi didaerah.

”Saya berharap potensi Koperasi dan UKM lebih dioptimalkan lagi. Namun sebagai badan usaha yang berorientasi laba, koperasi juga harus menunjukan kekokohan institusional, profesional usaha juga kemandirian,” katanya.

Menurut Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Industri Perdagangan (Diskop UKM dan Indag) Kota Bandung, Nana Supriatna, dari 2.376 koperasi yang ada di Kota Bandung sekitar 80 persennya merupakan koperasi aktif sisanya atau sekitar 20 persen tidak aktif. Untuk mengembangkan koperasi syariah, kendalanya masih kurangnya pemahaman di masyarakat tentang konsep koperasi syariah itu.

”Banyak masyarakat yang belum memahami konsep koperasi syariah jadi salah satu kendala untuk mengembangkan koperasi syariah itu,” kata Nana. kie/pur

http://www.republika.co.id/berita/63845/Cegah_Ijon_Pemkot_Bandung_Buat_40_Koperasi_Syariah

Software BMT Free Download…!

Pengusaha besar dukung pendirian koperasi syariah

JAKARTA: Pengusaha dan gerakan koperasi siap mewujudkan pendirian koperasi simpan pinjam dan koperasi jasa keuangan syariah (KSP/KJKS) yang digagas Kementerian Negara Koperasi dan UKM.

Gagasan itu, a.l.untuk memperluas akses pembiayaan usaha mikro dan kecil, meningkatkan kesejahteraan anggota koperasi dan masyarakat sekitar melalui pelayanan kepada nonanggota serta memperluas lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan.

“Meski baru rencana tapi kami pengusaha siap memperkuat rencana tersebut,” ujar Bos Group Gemala Sofjan Wanandi seusai mengikuti rapat tentang rencana itu di Kementerian Negara Koperasi dan UKM, kemarin.

Selain Sofjan Wanandi pertemuan tersebut dihadiri beberapa perwakilan grup usaha nasional, di antaranya dari Sinar Mas, Ciputra group, Lippo Group, National Gobel, Medco Group dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi).

Menurut Sofjan, karena konsep yang ditawarkan dari beberapa nara sumber pada pertemuan masih berbeda, harus ada persamaan persepsi yang disesuaikan dengan kepentingan setiap pengusaha sebagai donatur.

Hal yang terpenting dalam recnana itu, katanya, bagaimana para pengusaha yang dilibatkan bisa bekerja sama untuk memberi solusi atas akses pembiayaan terhadap pelaku usaha mikro dan kecil.

“Yang sudah kuat permodalannya akan kita perkuat lagi, dan yang belum kuat akan kita jadikan lebih kuat Tapi kami juga ingin ada kendaraan yang ditetapkan Kementerian Koperasi dan UKM dalam rencana itu.”

Tentang pendanaan. Sofjan Wanandi mengemukakan mudah dicari jika rencana tersebut feasible. Dalam konteks ini diajuga minta kerja sama didasari oleh asas business co business, dan tidak bisa lagi atas dasar belas ka-

sihan atau charity.

Dalam rencana awal Sofjan dalam pendirian KSP/KJKS, pelayanan akan dimulai dari satu proyek percontohan di salah satu koperasi milik para pengusaha. Artinya, tidak akan secara langsung menyuntik dana dan mendirikan satu KSP/KJKS.

Selama ini, pengusaha hanya membesarkan koperasi internalnya. Atas rencana pemerintah maka mereka ikut mengembangkannya supaya yang berkembang tidak hanya koperasi karyawan. “Sama-sama majulah.”

Perlu waktu

Agus Muharram, Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Negara Koperasi dan UKM, mengemukakan meski sudah ada dukungan dari beberapa kalangan, tapi proses realisasi masih memerlukan waktu.

Dukungan positif misalnya disampaikan oleh perwakilan Hipmi, Dewan.Koperasi Indonesia (Dekopin) sena Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi). Hipmi bahkan bersedia mendirikan KSP/KJKS di setiap provinsi dan kabupaten.

‘Tawaran Hipmi adalah altematif pertama dari rencana pendirian unit layanan bagi pembiayaan usaha mikro dan kecil. Alternatif kedua berasal dari gerakan perkoperasian Indonesia (Dekopin) dan ketiga baru dari pengusaha,” kata Agus Muharram.

Menurut Agus, pendirian KSP/KJKS tidak bertentangan dengan undang-undang koperasi jika didirikan pengusaha.

Dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 9 Tahun 1995, memang tidak memberi peluang bagi KSP/KJKS menyalurkan pinjaman kepada nonanggota.

“Kalau peraturan perundangan memungkin diubah, ya akan diubah.Yang tidak diizinkan sesuai undang-undang adalah menghimpun dana dari nonanggota. Menyalurkan kepada non anggota bisa seusai konsep yang kita usung dalam pendirian koperasi oleh pengusaha,” tukas Agus Muharram.

Sumber : Bisnis Indonesia

http://www.depkop.go.id/component/content/article/209-pengusaha-besar-dukung-pendirian-koperasi-syariah.html

Software BMT Free Download…!