Pentingkah Pinbuk Dibentuk?

KRISIS keuangan global yang melanda Indonesia belakangan ini, membuktikan betapa usaha kecil kita memiliki daya tahan yang cukup tangguh. Sayangnya,  pengembangan usaha kecil selama ini masih jauh dari harapan. Karena itu sudah saatnya dibutuhkan upaya konkret berupa penerapan program terpadu yang dapat mengawal dan mendampingi usaha kecil agar menjadi mapan, seperti yang sudah dilakukan  oleh Institut Manajemen Koperasi  Indonesia (IKOPIN) misalnya, melalui pembentukan Pinbuk.
APA ITU PINBUK?
Pinbuk singkatan dari Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil. Istilah Pinbuk mengemuka sekitar awal tahun 1995. Inkubator bisnis merupakan suatu model pendekatan baru yang diterapkan untuk mempercepat penciptaan calon pengusaha baru (tenant) atau peningkatan kualitas pengusaha kecil yang tangguh dan profesional. Program pembinaannya dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan selama jangka waktu tertentu sampai mereka mandiri dan sanggup beradaptasi dengan dunia usaha yang sebenarnya.
Konsep inkubator bisnis ini telah banyak diterapkan di beberapa negara bagian Amerika Serikat, Eropa, China, Asia dan Australia. Di negara-negara tersebut program inkubator bisnis telah teruji keberhasilannya dalam menciptakan wirausaha baru, baik dari lingkungan perguruan tinggi maupun dari masyarakat setempat. Sebagai contoh misalnya di California’s Silicon Valley, Massachusetts’ Roue 128, Texas’ Silicon Corridor dan Nijmegen University di Belanda.
Menurut beberapa referensi, pengusaha pemula di AS yang tidak melalui program inkubator bisnis, 80 persen usahanya gagal sebelum lima tahun. Sedangkan pengusaha yang tumbuh melalui inkubator bisnis, hanya 20 persen yang gagal usahanya dalam periode waktu yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa program inkubator bisnis sudah teruji kehandalannya dalam menciptakan dan menumbuhkan wirausaha-wirausaha baru yang tangguh.
TUJUAN PINBUK
Pinbuk didirikan karena adanya tuntutan yang cukup kuat dari masyarakat yang menginginkan adanya perubahan dalam struktur ekonomi masyarakat yang pada tahun-tahun 1995 dikuasai oleh beberapa gelintir golongan tertentu, utamanya dari ekonomi konglomerasi kepada ekonomi yang berbasis masyarakat banyak.
Maksud dan tujuan pendirian Pinbuk  di antaranya adalah mengupayakan perluasan kesempatan kerja dan mewujudkan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan dalam suatu sistem pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Mengadopsi Pinbuk yang diterapkan IKOPIN, implementasi dari program inkubator bisnis meliputi; pencarian calon wirausaha, seleksi & rekruitasi, pedidikan & pelatihan, tutorial penyusunan rencana usaha, bursa negosiasi proposal rencana usaha, pendampingan dan konsultasi manajemen dan penentuan waktu, permasalahan dan pembiayaan program inkubator.
Pinbuk  kabupaten/kota di Wilayah Cirebon nampaknya perlu pula untuk dibentuk dengan alasan. Pertama, kita segera akan memasuki masa kewirausahaan (entrepreneurial era). Untuk itu diperlukan suatu upaya yang dapat membangkitkan bakat dan minat kewirausahaan. Kedua, dalam lingkungan bisnis saat ini terjadi kompetisi yang sengit di antara pelaku usaha. Kompetisi ini terus meningkat, sehingga para pelaku usaha  dituntut untuk memiliki kemampuan yang cukup di dunia usaha agar dapat terus bertahan.
Untuk itu, dibutuhkan suatu lembaga baru yang mampu merubah pembangunan ekonomi. Yaitu lembaga baru yang dapat membentuk suatu jaringan kerjasama antara dunia usaha, pemerintah, dan pihak-pihak terkait. Dengan kerjasama tersebut diharapkan dapat diperoleh pengembangan ekonomi.
PENUTUP
Dengan melihat permasalahan yang sangat complicated  yang akan dihadapi dalam pembinaan usaha kecil dan penciptaan wirausaha baru di wilayah Cirebon, sejatinya program ini  harus betul-betul diprioritaskan dan disiapkan secara matang. Keberadaannya harus ditangani secara profesional dengan penuh karya improvisasi yang kreatif dan inovatif, sehingga mampu menjamin tingkat keberhasilan bagi wirausaha pada usaha kecil sebagai tenant-nya. (*)

*)  Penulis adalah  Puket Bidang Akademik di STEI Al-Ishlah Cirebon.

http://www.radarcirebon.com/index.php/200811245650/Wacana/Pentingkah-Pinbuk-Dibentuk.html

Software BMT Free Download…!

Pinbuk Dorong Konsorsium BMT

Konsorsium akan menambah peluang bisnis bagi lembaga keuangan mikro syariah.

JAKARTA — Baitul Maal wat Tamwil (BMT) terus didorong untuk terus maju. Salah satunya adalah dengan membentuk konsorsium baik antara BMT maupun dengan lembaga keuangan syariah lainnya.Direktur Eksekutif Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (Pinbuk), Aslichan Burhan mengatakan, dengan melakukan konsorsium yang fokus membiayai suatu usaha sentra industri atau pembiayaan tertentu, maka akan dapat mendorong pertumbuhan BMT. ”Misalnya ada suatu pasar yang bisa digarap bareng bekerja sama juga dengan asosiasi pasar. Selain konsorsium antar-BMT, mereka juga bisa memperoleh sumber dana dengan linkage program dari bank,” kata Aslichan kepada Republika, Jumat (24/4).

Saat ini, lanjut dia, konsorsium BMT masih dari segi akad saja dan belum terlihat adanya syirkah (kerja sama) dalam menggarap suatu pasar tertentu. Untuk itu diperlukan adanya konsorsium untuk menggarap suatu pasar yang cukup besar. Aslichan menambahkan, dengan melakukan konsorsium, maka akan menambah peluang bisnis bagi lembaga keuangan mikro syariah. Jika memberi pembiayaan kepada pasar induk, misalnya, maka hal tersebut akan membuka peluang masuk ke pasar yang lebih kecil.

”BMT biasanya masuk sendiri-sendiri ke satu pasar jadi sifatnya masih parsial. Belum ada yang memulai bersama-sama untuk menggali potensi sentra industri atau pasar,” imbuh Aslichan. Sebelum menentukan sentra yang akan dibidik untuk konsorsium, tambah dia, diperlukan pula analisis sehingga bisa menentukan pasar yang tepat dan prospektif.

Dalam mendukung konsorsium tersebut, kata Aslichan, perlu adanya standardisasi yang sama antar BMT sehingga mempermudah transaksi. ”Pinbuk sedang merintis ini dan melakukan standardisasi untuk sistem administrasi, produk, IT, akuntansi maupun performance kantor,” ujar Aslichan. Dengan adanya standarisasi, lanjut dia, akan ada kesamaan pembuatan  account antar-BMT dan peningkatan semangat kebersamaan. Ia pun berharap BMT dapat terus tumbuh di setiap wilayah disertai dengan pengembangan teknologi dan standardisasi sehingga tercipta BMT berkualitas.

Tercatat hingga saat ini jumlah BMT yang tergabung di Pinbuk lebih dari 3.000 unit. Di antaranya adalah 106 BMT bekerja sama dengan Departemen Sosial, 82 BMT Nagari di kabupaten Agam, 30 BMT bekerja sama dengan Depnakertrans yang ditempatkan di unit pemukiman transmigrasi, serta 500 BMT Shar-E dengan Bank Muamalat.

Perlu pertimbangan
Dalam melakukan konsorsium antar BMT atau dengan lembaga keuangan lainnya, sejumlah hal perlu dipertimbangkan. Di antaranya adalah bisnis yang prospektif, saling menguntungkan, serta memperhitungkan risiko. Ketua Pengurus BMT Berkah Madani, Wawan Windhu Setiawan, mengatakan cukup banyak hal yang perlu dipertimbangkan untuk membentuk konsorsium dengan BMT lainnya.

”Jika dengan BMT lain pertimbangannya cukup banyak mengenai prospek dan bagaimana risikonya, jadi harus benar-benar yakin dan percaya dengan proyeknya,” kata Wawan kepada  Republika , Jumat (24/4). Meski demikian tak menutup kemungkinan di masa depan pihaknya akan melakukan konsorsium dengan BMT lainnya.

Wawan menuturkan dua tahun lalu BMT Berkah Madani melakukan pembiayaan bersama dengan jaringan BMT Berkah Madani di Jakarta. Jumlah pembiayaan yang mencapai di atas Rp 100 juta membuat BMT melakukan  sharing dengan jaringannya. ”Kalau dengan jaringan sendiri tingkat  confidence kita tinggi untuk melakukan kerja sama,” ujar Wawan. Per Maret lalu BMT Berkah Madani mencatat pembiayaan sekitar Rp 2,8 miliar dengan aset Rp 3,4 miliar. Di tahun ini ditargetkan pembiayaan mencapai Rp 15 miliar dengan aset Rp 4,5 miliar.

Sementara itu, Sekjen BMT Mentari, Sarbani mengatakan, pihaknya belum pernah melakukan konsorsium pembiayaan dengan BMT lain yang menyasar sentra bisnis tertentu. ”Konsorsium seperti itu memang belum, tapi bisa saja nanti ada konsorsium BMT yang bisnisnya saling menguntungkan antar-BMT,” kata Sarbani.

Kerja sama antar BMT di Lampung, lanjutnya, dilakukan dengan penukaran informasi nasabah atau dengan membantu BMT anggota yang membutuhkan dana. Namun, belum melakukan pembiayaan bersama-sama. Untuk menyalurkan pembiayaan BMT Mentari menjalin  linkage program dengan sejumlah bank, seperti Bank Muamalat, Bank Syariah Mandiri, dan BPRS Metro Madani.

Per Maret 2009 pembiayaan BMT Mentari sebesar Rp 500 juta, aset Rp 4 miliar, dan simpanan anggota Rp 1,5 miliar. Tahun ini ditargetkan pembiayaan mencapai Rp 4 miliar, aset Rp 5 miliar dan simpanan Rp 2 miliar. Di awal 2009 BMT Mentari pun memperluas jaringannya ke pasar Bantar Mataram Mandala, Lampung Tengah.  gie

http://www.republika.co.id/koran/0/46535/Pinbuk_Dorong_Konsorsium_BMT

Software BMT Free Download…!

Pinbuk Dorong Perkembangakan LKM Syariah, Canangkan 100 BMT Unggulan (15 April 2009)

Makassar (Upeks). Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (Pibuk) Sulsel mengaku akan mendorong Lembaga Keuangan Mikro (LKM) mikro dalam rangka menumbuhkan perekonomian daerah.

Dalam rangka mewujudkan tersebut, Pinbuk rencana mencanangkan 100 BMT unggulan. Selain itu, Pinbuk rencana menggelar seminar tentang peran serta LKM Syariah dalam rangka pemberdayaan ekonomi syariah. Kegiatan tersebut rencana digelar Kamis, 16 April di LAN. Kegiatan tersebut dihadiri ketua LPDB pusat.
Demikian diungkapkan, Ketua Pinbuk Sulsel, Idris Parakkasi kepada Upeks, di ruang kerjanya, Selasa (15/4) kemarin.
Dia mengatakan, pihaknya akan membangkitkan BMT unggulan di sejumlah daerah. Potensi untuk mengembangkan BMT sangat baik. Untuk itu diharapkan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) kiranya memberi dukungan terhadap pengembangan BMT.
Dia menambahkan, pesatnya pertumbuhan lembaga keuangan syariah harus sebanding dengan ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kualitas di bidang keuangan syariah. Hingga saat ini SDM lembaga keuangan syariah masih banyak yang tidak menguasai prinsip dasar dari keuangan syariah.
Dia mengatakan perlu dibuat peraturan secara internal dari masing-masing lembaga keuangan syariah untuk memberikan pendidikan dan pelatihan tentang prinsip-prinsip syariah. Agar tidak terjadi distorsi pemahaman di dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai staf/karyawan keuangan syariah.
Lebih jauh dia mengatakan, pihak lembaga keuangan syariah harus membuat peraturan yang menjadi syarat wajib bagi setiap karyawan atau calon karyawan harus sudah mengikuti pendidikan dan pelatihan tentang prinsip-prinsip syariah. Sehingga dengan demikian kesalahan di dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai karyawan keuangan syariah dapat diminimalisir.
”Saat ini, banyak para SDM syariah perlu ditingkatkan pengetahuannya tentang syariah,” ungkapnya.
Pasalnya, tidak sedikit masih ditemukan karyawan lembaga keuangan syariah menjelaskan tentang prinsip syariah dikaitkan dengan bunga. Hal ini, menurut Hasanudin, tidak boleh terjadi ketika menjelaskan kepada nasabah. Dari sejak awal bersinggungan dengan nasabah harus di edukasi dengan sistem keuangan syariah. “Setiap karyawan punya kewajiban untuk mensosialisasikan sistem syariah kepada masyarakat. Disesuaikan dengan kapasitasnya,” tegasnya.
Menurutnya, selain pengetahuan syariah, setiap karyawan lembaga keuangan syariah perlu dibekali pengetahuan tentang cara berkomunikasi. Sehingga dalam penyampaiannya untuk menjelaskan kepada masyarakat tidak terjadi kekeliruan.
”Bagaimana menyampaikan kepada masyarakat diperlukan komunikasi yang berbeda. Masyarakat yang berpendidikan tinggi dan yang tidak berpendidikan pastinya butuh penyampaian yang berbeda. Begitu juga dengan perbedaan budaya, tentunya butuh cara berkomunikasi yang berbeda,” jelasnya. (Rusli Siri)

Sumber: http://www.ujungpandangekspres.com/view.php?id=35670&jenis=Keuangan

Software BMT Free Download…!