FRANCHISE SYARI’AH, WHY NOT ?

Seperti apa itu Franchise Syari’ah ?

Konsep Franchise yang berkembang sekarang ini sebenarnya cukup bagus, namun nuansa kapitalis masih sangat terasa. Selain itu, juga cenderung lebih menguntungkan Franchisor & cenderung lebih merugikan franchisee.

Secara umum, dalam konsep Franchise biasanya franchisor akan mengenakan kepada franchisee beberapa hal, yaitu: franchise fee & royalty fee.

Franchise fee biasanya dibebankan ke franchisee untuk jangka waktu tertentu (biasanya 5 tahun). Sedangkan royalty fee biasanya dihitung dari omzet penjualan.

Menurut saya, di sini ada ketidakadilan. Mengapa ? Karena penerapan franchise fee berarti franchisor sudah mengambil untung di depan, sedangkan usaha belum berjalan.

Penghitungan royalty fee dari omzet penjualan juga mencerminkan ketidakadilan, karena berarti si franchisor tidak menanggung risiko. Walaupun usaha tersebut rugi, sepanjang ada penjualan, franchisor tetap dapat royalty.

Padahal dalam ekonomi Islam kita diajarkan agar selalu menerapkan & menegakkan keadilan dalam berbisnis.

Konsep franchise berkembang karena di satu sisi ada pengusaha yang sudah berhasil dalam menjalankan bisnisnya, tetapi kekurangan modal untuk mengembangkan lebih besar lagi. Dan di sisi lain ada pihak yang memiliki modal, tetapi belum/tidak memiliki pengalaman atau keahlian dalam berbisnis di bidang tersebut.

Di sinilah dua kepentingan itu bertemu dan bersinergi.

Si franchisor (dalam istilah ekonomi Islam biasa disebut Mudharib) dalam hal ini berkontribusi dengan pengalaman, brand, dan sistem bisnisnya. Sedangkan franchisee (dalam istilah ekonomi Islam biasa disebut Shahibul Maal) berkontribusi dengan modal, baik uang maupun aset.

Kita bisa menjadikan dua kepentingan tadi tetap berpegang pada prinsip-prinsip yang tidak melanggar syari’ah & berlandaskan keadilan. Kita sebut saja franchise dengan prinsip syari’ah.

Berarti franchise syari’ah memiliki karakteristik utama:
1. Tidak mengenal adanya franchise fee. Hal ini dikarenakan usaha belum berjalan. Setiap keuntungan akan dinikmati setelah usaha berjalan dan ada keuntungan.
2. Royalty fee atau lebih tepatnya bagi hasil diambil dari gross profit atau net profit. Bisa dihitung bulanan, 3 bulanan, atau sesuai kesepakatan.
3. Usaha tersebut menjadi milik bersama. Proporsi kepemilikan saham dan bagi hasil ditetapkan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Biasanya tergantung kepada karakteristik bidang usahanya. Dan kepemilikan usaha ini bisa dibatasi waktu atau bisa juga selamanya, tergantung kesepakatan.
4. Dalam kerjasama ini, franchisee (shahibul maal) bisa terlibat dalam manajemen usaha ataupun tidak.

Catatan:
Selain karakteristik2 di atas, kita berasumsi bahwa produk atau jasa yang diperjual-belikan adalah halal.

Profit akan bisa dinikmati oleh kedua belah pihak manakala usaha tersebut sudah berjalan dan menghasilkan keuntungan. Jika belum menghasilkan profit, maka kedua belah pihak juga tidak akan mendapatkan apa-apa.

Dengan karakteristik seperti di atas, maka kedua belah pihak (franchisor/mudharib & franchisee/shahibul maal) akan memiliki tanggungjawab yang sama untuk memajukan usaha tersebut.

Tidak seperti yang banyak terjadi sekarang, yang lebih banyak merugikan pihak franchisee. Karena pihak franchisor sudah ‘mengambil profit’ di depan, sehingga kadang-kadang menjadi kurang peduli kepada keberhasilan usaha.

Dengan konsep ini, pihak franchisor tetap dapat mengembangkan usahanya dengan modal pihak lain, dan orang yang ingin memiliki usaha (franchisee) dapat memulai usahanya tidak dari nol.

Dalam ekonomi Islam, transaksi bisnis seperti ini disebut dengan mudharabah atau musyarakah. Wallahu’alam bishshowab.

Ingin menerapkannya dalam pengembangan bisnis anda ?

Wassalam,
Hertanto Widodo

http://sharia-business.blogspot.com/2008/07/franchise-syariah-why-not.html

Software BMT Free Download…!


Informasi Pelatihan BMT Reguler PINBUK

Best Entrepreneurship Practices

PELATIHAN MANAJEMEN OPRESIONAL & PENGEMBANGAN

Baitul Maal Wat Tamwil ( BMT )
Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dengan Prinsip Syariah
(Shariah Micro Finance)

BMT  BASIC  TRAINING

1.     Climate Setting
2.     Pengembangan Diri/Keterampilan Manajemen
·       Citra Diri Pengurus/ Pengelola BMT
·       Kebiasaan Efektif
3.     Ekonomi Syari’ah
·       Pengantar ekonomi Islam & Muamalah Syari’ah
·       Riba dan Permasalahannya
4.     Konsep Dasar LKM-BMT
·       Konsep  Dasar LKM dan BMT sebagai LKM Alternatif
·       Pengertian, Visi dan Misi BMT
·       Legalitas Badan Hukum BMT
·       AD/ART BMT
·       Struktur organisasi  dan Job Description
·       Proses Pendirian BMT
5.     Produk dan Landasan Syari’ah
·       Pengantar Fiqih Muamalah
·       Landasan Syari’ah Produk BMT
·       Teknik Hitungan Basil Simpanan
·       Teknik Hitungan Basil Pembiayaan
·       Prosedur & Administrasi simpanan dan Pembiayaan.
6.     Strategi dan teknik Penggalangan Dana

BMT  INTERMEDIATE  TRAINING

1.     Climate Setting
2.     Manajemen Pembiayaan
·       Perencanaan Pembiayaan
·       Segmentasi Pembiayaan
·       Analisis Kelayakan Usaha
·       Analisis Pembiayaan
·       Jenis Analisis dan Taksasi Jaminan
·       Teknik dan wawancara dengan Nasabah
·       Pembinaan dan Pengawasan Pembiayaan
·       Kolektibiltas & Strategi Pembiayaan bermasalah
3.     Pokusma ( Kelompok Usaha Muamalat
·       Pembentukan dan Pendampingan
·       Strategi pembinaan anggota/nasabah
4.     Akuntansi dan Pelaporan Kuangan
·       Akuntansi BMT
·       Pengenalan Software BMT Online
5.     Keterampilan Manajemen
·       Manajemen Waktu
·       Motivasi, Disiplin, Etika dan Etos kerja

BMT ADVANCE  TRAINING

1.     Climate Setting
2.     Perencanaan Strategis
·       Analisis SWOT
·       Budgeting
·       Cash Flow
·       Business Plan
3.     Manajemen Dana
·       Pendekatan Omzet
·       Pendekatan Cash Flow
·       Pendekatan Resiko
·       Pendekatan Analisis Rasio Keuangan
4.     Analisis kesehatan BMT
·       Kinerja Keuangan
·       Kinerja Kelembagaan
·       Kinerja Manajemen
·       Analisis Visi Misi
·       Kinerja Sosial & Syari’ah
5.     Service Excellent
6.     Linkage Program
7.     Penulisan Proposal Pembiayaan
8.     Keterampilan Manajemen
·       Manajemen Konflik
·       Leadership Manajemen BMT

http://www.mail-archive.com/ekonomi-syariah@yahoogroups.com/msg04089.html

Software BMT Free Download…!

Pentingkah Pinbuk Dibentuk?

KRISIS keuangan global yang melanda Indonesia belakangan ini, membuktikan betapa usaha kecil kita memiliki daya tahan yang cukup tangguh. Sayangnya,  pengembangan usaha kecil selama ini masih jauh dari harapan. Karena itu sudah saatnya dibutuhkan upaya konkret berupa penerapan program terpadu yang dapat mengawal dan mendampingi usaha kecil agar menjadi mapan, seperti yang sudah dilakukan  oleh Institut Manajemen Koperasi  Indonesia (IKOPIN) misalnya, melalui pembentukan Pinbuk.
APA ITU PINBUK?
Pinbuk singkatan dari Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil. Istilah Pinbuk mengemuka sekitar awal tahun 1995. Inkubator bisnis merupakan suatu model pendekatan baru yang diterapkan untuk mempercepat penciptaan calon pengusaha baru (tenant) atau peningkatan kualitas pengusaha kecil yang tangguh dan profesional. Program pembinaannya dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan selama jangka waktu tertentu sampai mereka mandiri dan sanggup beradaptasi dengan dunia usaha yang sebenarnya.
Konsep inkubator bisnis ini telah banyak diterapkan di beberapa negara bagian Amerika Serikat, Eropa, China, Asia dan Australia. Di negara-negara tersebut program inkubator bisnis telah teruji keberhasilannya dalam menciptakan wirausaha baru, baik dari lingkungan perguruan tinggi maupun dari masyarakat setempat. Sebagai contoh misalnya di California’s Silicon Valley, Massachusetts’ Roue 128, Texas’ Silicon Corridor dan Nijmegen University di Belanda.
Menurut beberapa referensi, pengusaha pemula di AS yang tidak melalui program inkubator bisnis, 80 persen usahanya gagal sebelum lima tahun. Sedangkan pengusaha yang tumbuh melalui inkubator bisnis, hanya 20 persen yang gagal usahanya dalam periode waktu yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa program inkubator bisnis sudah teruji kehandalannya dalam menciptakan dan menumbuhkan wirausaha-wirausaha baru yang tangguh.
TUJUAN PINBUK
Pinbuk didirikan karena adanya tuntutan yang cukup kuat dari masyarakat yang menginginkan adanya perubahan dalam struktur ekonomi masyarakat yang pada tahun-tahun 1995 dikuasai oleh beberapa gelintir golongan tertentu, utamanya dari ekonomi konglomerasi kepada ekonomi yang berbasis masyarakat banyak.
Maksud dan tujuan pendirian Pinbuk  di antaranya adalah mengupayakan perluasan kesempatan kerja dan mewujudkan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan dalam suatu sistem pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Mengadopsi Pinbuk yang diterapkan IKOPIN, implementasi dari program inkubator bisnis meliputi; pencarian calon wirausaha, seleksi & rekruitasi, pedidikan & pelatihan, tutorial penyusunan rencana usaha, bursa negosiasi proposal rencana usaha, pendampingan dan konsultasi manajemen dan penentuan waktu, permasalahan dan pembiayaan program inkubator.
Pinbuk  kabupaten/kota di Wilayah Cirebon nampaknya perlu pula untuk dibentuk dengan alasan. Pertama, kita segera akan memasuki masa kewirausahaan (entrepreneurial era). Untuk itu diperlukan suatu upaya yang dapat membangkitkan bakat dan minat kewirausahaan. Kedua, dalam lingkungan bisnis saat ini terjadi kompetisi yang sengit di antara pelaku usaha. Kompetisi ini terus meningkat, sehingga para pelaku usaha  dituntut untuk memiliki kemampuan yang cukup di dunia usaha agar dapat terus bertahan.
Untuk itu, dibutuhkan suatu lembaga baru yang mampu merubah pembangunan ekonomi. Yaitu lembaga baru yang dapat membentuk suatu jaringan kerjasama antara dunia usaha, pemerintah, dan pihak-pihak terkait. Dengan kerjasama tersebut diharapkan dapat diperoleh pengembangan ekonomi.
PENUTUP
Dengan melihat permasalahan yang sangat complicated  yang akan dihadapi dalam pembinaan usaha kecil dan penciptaan wirausaha baru di wilayah Cirebon, sejatinya program ini  harus betul-betul diprioritaskan dan disiapkan secara matang. Keberadaannya harus ditangani secara profesional dengan penuh karya improvisasi yang kreatif dan inovatif, sehingga mampu menjamin tingkat keberhasilan bagi wirausaha pada usaha kecil sebagai tenant-nya. (*)

*)  Penulis adalah  Puket Bidang Akademik di STEI Al-Ishlah Cirebon.

http://www.radarcirebon.com/index.php/200811245650/Wacana/Pentingkah-Pinbuk-Dibentuk.html

Software BMT Free Download…!

Pinbuk Dorong Konsorsium BMT

Konsorsium akan menambah peluang bisnis bagi lembaga keuangan mikro syariah.

JAKARTA — Baitul Maal wat Tamwil (BMT) terus didorong untuk terus maju. Salah satunya adalah dengan membentuk konsorsium baik antara BMT maupun dengan lembaga keuangan syariah lainnya.Direktur Eksekutif Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (Pinbuk), Aslichan Burhan mengatakan, dengan melakukan konsorsium yang fokus membiayai suatu usaha sentra industri atau pembiayaan tertentu, maka akan dapat mendorong pertumbuhan BMT. ”Misalnya ada suatu pasar yang bisa digarap bareng bekerja sama juga dengan asosiasi pasar. Selain konsorsium antar-BMT, mereka juga bisa memperoleh sumber dana dengan linkage program dari bank,” kata Aslichan kepada Republika, Jumat (24/4).

Saat ini, lanjut dia, konsorsium BMT masih dari segi akad saja dan belum terlihat adanya syirkah (kerja sama) dalam menggarap suatu pasar tertentu. Untuk itu diperlukan adanya konsorsium untuk menggarap suatu pasar yang cukup besar. Aslichan menambahkan, dengan melakukan konsorsium, maka akan menambah peluang bisnis bagi lembaga keuangan mikro syariah. Jika memberi pembiayaan kepada pasar induk, misalnya, maka hal tersebut akan membuka peluang masuk ke pasar yang lebih kecil.

”BMT biasanya masuk sendiri-sendiri ke satu pasar jadi sifatnya masih parsial. Belum ada yang memulai bersama-sama untuk menggali potensi sentra industri atau pasar,” imbuh Aslichan. Sebelum menentukan sentra yang akan dibidik untuk konsorsium, tambah dia, diperlukan pula analisis sehingga bisa menentukan pasar yang tepat dan prospektif.

Dalam mendukung konsorsium tersebut, kata Aslichan, perlu adanya standardisasi yang sama antar BMT sehingga mempermudah transaksi. ”Pinbuk sedang merintis ini dan melakukan standardisasi untuk sistem administrasi, produk, IT, akuntansi maupun performance kantor,” ujar Aslichan. Dengan adanya standarisasi, lanjut dia, akan ada kesamaan pembuatan  account antar-BMT dan peningkatan semangat kebersamaan. Ia pun berharap BMT dapat terus tumbuh di setiap wilayah disertai dengan pengembangan teknologi dan standardisasi sehingga tercipta BMT berkualitas.

Tercatat hingga saat ini jumlah BMT yang tergabung di Pinbuk lebih dari 3.000 unit. Di antaranya adalah 106 BMT bekerja sama dengan Departemen Sosial, 82 BMT Nagari di kabupaten Agam, 30 BMT bekerja sama dengan Depnakertrans yang ditempatkan di unit pemukiman transmigrasi, serta 500 BMT Shar-E dengan Bank Muamalat.

Perlu pertimbangan
Dalam melakukan konsorsium antar BMT atau dengan lembaga keuangan lainnya, sejumlah hal perlu dipertimbangkan. Di antaranya adalah bisnis yang prospektif, saling menguntungkan, serta memperhitungkan risiko. Ketua Pengurus BMT Berkah Madani, Wawan Windhu Setiawan, mengatakan cukup banyak hal yang perlu dipertimbangkan untuk membentuk konsorsium dengan BMT lainnya.

”Jika dengan BMT lain pertimbangannya cukup banyak mengenai prospek dan bagaimana risikonya, jadi harus benar-benar yakin dan percaya dengan proyeknya,” kata Wawan kepada  Republika , Jumat (24/4). Meski demikian tak menutup kemungkinan di masa depan pihaknya akan melakukan konsorsium dengan BMT lainnya.

Wawan menuturkan dua tahun lalu BMT Berkah Madani melakukan pembiayaan bersama dengan jaringan BMT Berkah Madani di Jakarta. Jumlah pembiayaan yang mencapai di atas Rp 100 juta membuat BMT melakukan  sharing dengan jaringannya. ”Kalau dengan jaringan sendiri tingkat  confidence kita tinggi untuk melakukan kerja sama,” ujar Wawan. Per Maret lalu BMT Berkah Madani mencatat pembiayaan sekitar Rp 2,8 miliar dengan aset Rp 3,4 miliar. Di tahun ini ditargetkan pembiayaan mencapai Rp 15 miliar dengan aset Rp 4,5 miliar.

Sementara itu, Sekjen BMT Mentari, Sarbani mengatakan, pihaknya belum pernah melakukan konsorsium pembiayaan dengan BMT lain yang menyasar sentra bisnis tertentu. ”Konsorsium seperti itu memang belum, tapi bisa saja nanti ada konsorsium BMT yang bisnisnya saling menguntungkan antar-BMT,” kata Sarbani.

Kerja sama antar BMT di Lampung, lanjutnya, dilakukan dengan penukaran informasi nasabah atau dengan membantu BMT anggota yang membutuhkan dana. Namun, belum melakukan pembiayaan bersama-sama. Untuk menyalurkan pembiayaan BMT Mentari menjalin  linkage program dengan sejumlah bank, seperti Bank Muamalat, Bank Syariah Mandiri, dan BPRS Metro Madani.

Per Maret 2009 pembiayaan BMT Mentari sebesar Rp 500 juta, aset Rp 4 miliar, dan simpanan anggota Rp 1,5 miliar. Tahun ini ditargetkan pembiayaan mencapai Rp 4 miliar, aset Rp 5 miliar dan simpanan Rp 2 miliar. Di awal 2009 BMT Mentari pun memperluas jaringannya ke pasar Bantar Mataram Mandala, Lampung Tengah.  gie

http://www.republika.co.id/koran/0/46535/Pinbuk_Dorong_Konsorsium_BMT

Software BMT Free Download…!

Pinbuk Dorong Perkembangakan LKM Syariah, Canangkan 100 BMT Unggulan (15 April 2009)

Makassar (Upeks). Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (Pibuk) Sulsel mengaku akan mendorong Lembaga Keuangan Mikro (LKM) mikro dalam rangka menumbuhkan perekonomian daerah.

Dalam rangka mewujudkan tersebut, Pinbuk rencana mencanangkan 100 BMT unggulan. Selain itu, Pinbuk rencana menggelar seminar tentang peran serta LKM Syariah dalam rangka pemberdayaan ekonomi syariah. Kegiatan tersebut rencana digelar Kamis, 16 April di LAN. Kegiatan tersebut dihadiri ketua LPDB pusat.
Demikian diungkapkan, Ketua Pinbuk Sulsel, Idris Parakkasi kepada Upeks, di ruang kerjanya, Selasa (15/4) kemarin.
Dia mengatakan, pihaknya akan membangkitkan BMT unggulan di sejumlah daerah. Potensi untuk mengembangkan BMT sangat baik. Untuk itu diharapkan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) kiranya memberi dukungan terhadap pengembangan BMT.
Dia menambahkan, pesatnya pertumbuhan lembaga keuangan syariah harus sebanding dengan ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kualitas di bidang keuangan syariah. Hingga saat ini SDM lembaga keuangan syariah masih banyak yang tidak menguasai prinsip dasar dari keuangan syariah.
Dia mengatakan perlu dibuat peraturan secara internal dari masing-masing lembaga keuangan syariah untuk memberikan pendidikan dan pelatihan tentang prinsip-prinsip syariah. Agar tidak terjadi distorsi pemahaman di dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai staf/karyawan keuangan syariah.
Lebih jauh dia mengatakan, pihak lembaga keuangan syariah harus membuat peraturan yang menjadi syarat wajib bagi setiap karyawan atau calon karyawan harus sudah mengikuti pendidikan dan pelatihan tentang prinsip-prinsip syariah. Sehingga dengan demikian kesalahan di dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai karyawan keuangan syariah dapat diminimalisir.
”Saat ini, banyak para SDM syariah perlu ditingkatkan pengetahuannya tentang syariah,” ungkapnya.
Pasalnya, tidak sedikit masih ditemukan karyawan lembaga keuangan syariah menjelaskan tentang prinsip syariah dikaitkan dengan bunga. Hal ini, menurut Hasanudin, tidak boleh terjadi ketika menjelaskan kepada nasabah. Dari sejak awal bersinggungan dengan nasabah harus di edukasi dengan sistem keuangan syariah. “Setiap karyawan punya kewajiban untuk mensosialisasikan sistem syariah kepada masyarakat. Disesuaikan dengan kapasitasnya,” tegasnya.
Menurutnya, selain pengetahuan syariah, setiap karyawan lembaga keuangan syariah perlu dibekali pengetahuan tentang cara berkomunikasi. Sehingga dalam penyampaiannya untuk menjelaskan kepada masyarakat tidak terjadi kekeliruan.
”Bagaimana menyampaikan kepada masyarakat diperlukan komunikasi yang berbeda. Masyarakat yang berpendidikan tinggi dan yang tidak berpendidikan pastinya butuh penyampaian yang berbeda. Begitu juga dengan perbedaan budaya, tentunya butuh cara berkomunikasi yang berbeda,” jelasnya. (Rusli Siri)

Sumber: http://www.ujungpandangekspres.com/view.php?id=35670&jenis=Keuangan

Software BMT Free Download…!

Pajak BMT, Adakah Itu?

Saat ini banyak sekali lembaga sosial atau lembaga dakwah yang menampung penerimaan uang dari masyarakat atau dari donatur tetap atau dari penerimaan-penerimaan halal lainnya. Semuanya itu untuk menampung uang dari masyarakat yang nantinya untuk disalurkan kembali kepada yang berhak menerima. Di sisi lain, lembaga sosial itu juga mempunyai usaha lain seperti simpan pinjam atau bagi basil sebagai salah situ bentuk kerja sama.

Pada prinsipnya pajak dikenakan atas income atau penghasilan yang diterima untuk pajak penghasilan dan atas dasar value added atau nilai tambah untuk Pajak Pertambahan Nilai yang dikenal dengan PPN. Namun tidak semua penghasilan dikenakan pajak penghasilan, dan tidak semua penjualan dikenakan PPN. Di sini ada aturan main atau tata cara dan dasar pengenaan pajaknya.
BMT merupakan salah satu model lembaga keuangan syariah yang paling sederhana yang saat ini sering muncul di tengah-tengah masyarakat, tetapi kemunculan BMT kadang-kadang tidak didukung dengan SDM atau kecakapan pengelolanya sehingga tidak jarang BMT yang tenggelam karena ditinggal pengelola, atau manajemennya amburadul, serta pengelolaannva tidak amanah dan professional. Di sisi lain BMT yang berkembang juga mempunyai tanggungan atau kewajiban-kewajiban salah satunya adalah faktor pajaknya atau bagaimana pelaporan pajaknya.
BMT kependekan dari Baitul maal wa tamwil. Baitul maal berarti rumah dana, sedangkan Baitul tanwil berarti rumah usaha. Nama tersebut tentu mengandung makna dan risiko pelaporan keuangan dan akuntansi serta sistern perpajakannya. MOW Mail dalam hal ini dihukumi sebagai lembaga yang non profit oriented atau tidak mencari keuntungan, karena sifatnya hanya mengumpul dana atau collecting money serta penyaluran dana yang tidak ada keuntungan duniawi atau material di dalamnya. Sedangkan Baitul Tanwil disini adalah mempunyai usaha yang tujuan pokoknya adalah menghasilkan atau profit.
Dengan kacamata ekonomi dapat ditarik suatu pengertian bahwa BMT adalah lembaga yang mempunyai usaha atau bisnis bertujuan menghasilkan keuntungan atau bagi hasil, yang berperan juga sebagai lembaga sosial yang tidak menghasilkan keuntungan atau non profit oriented.
BMT dalam kegiatan bisnisnva biasanya menfokuskan kegiatan keungannya melalui usaha simpan-pinjam dengan sistem syariah, namun BMT tidak bisa disamakan dengan bank konfensional ataupun bank syariah meskipun salah sate penggalian dananya melalui simpan pinjam. Secara detail dapat dibedakan BMT dengan Bank antara lain:
BMT Bank
– Dana terbatas pada anggota atau calon anggota – Dana bebas dari masyarakat
– Badan hukum disejajarkan dengan koperasi – Tunduk pada aturan Bank

Meskipun demikian suatu BMT harus memenuhi kriteria atau ketentuan-ketentuan layaknya bank syari’ah yang mengelola nasabahnya, karena dana yang dikelola BMT adalah dana masyarakat yang harus dipertanggungjawabkan kepada masayarakat tersebut yang menitipkan dananya. Sehingga suatu BMT harus juga kredibel, dapat dipercaya masyarakat, transparan dan masyarakat juga dijamin keamanannnya dapat setiap saat mengambil uangya kembali, dalam istilah perbankan BMT harus memiliki “CAMEL”
yaitu (Capital adequacy, asset quality, Management of risk, Earning ability, dan Liquidity Aufficiency).

Laporan Keuangan BMT
Untuk memudahkan pelaporan keuangan dan laporan pajaknya BMT dalam pencatatannya harus dipisahkan mana dana yang diambil dari masyarakat dari basil zakat, infaq dan shadagahserta wakaf (sebaiknya mempunyai rekening hank tersendiri), dan dana mana yang diambil dari hasil usaha atau hasil simpan pinjam yang ini nantinya merupakan obyek pajak penghasilan (sebaiknya juga mempunyai rekening bank tersendiri).
Namun juga perlu diketahui untuk penghasilan karyawan BMT yaitu atas gaji, THR, atau honorarium dan lain-lain penghasilan tetap merupakan objek pajak penghasilan yang dikenakan PPh apabila telah memenuhi Batas PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) atau memenuhi ketentuanya lainnnya.
Karena BMT suatu badan usaha bisnis dan lembaga sosial minimum mempunyai laporan keuangan sebagai berikut:
1) Laporan Neraca (Balance Sheet),
2) Laporan Laba-Rugi (Income Statement),
3) Laporan Perubahan Ekuitas/Modal (Capital Statement),
4) Laporan Arus Kas (Cash Flow). (*)

Oleh: Zein Musta’in SE
*) Penulis adalah Ketua Lembaga Amal Mujahidin YMM Surabaya
EDISI 2 TAHUN KE-1 SYAWWAL-DZULQADAH 1428 H NOVEMBER 2007

http://lembaga-amal-mujahidin.blogspot.com/2008/06/pajak-bmt-adakah-itu.html

Software BMT Free Download…!

Profil Koperasi : Koppontren Sidogiri : KEMANDIRIAN EKONOMI POLA SYARIAH

Pondok Pesantren agaknya bukan hanya sebagai lembaga pendidikan keagamaan untuk mencetak generasi berprilaku islami, tetapi sekaligus mampu membuktikan diri sebagai lembaga perekonomian guna menyejahterakan santri serta masyarakat luas.

Langkah tersebut telah dibuktikan Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan. Ponpes yang didirikan oleh Sayyid Sulaiman pada 263 tahun silam di Desa Sidogiri, Kec. Kraton, Kab. Pasuruan, itu bahkan berhasil mengembangkan konsep ekonomi syariah.

Satu pengurus Ponpes Sidogiri, Mahmud Ali Zain, menjelaskan kiprah ponpes tersebut di bidang ekonomi diawali keinginan untuk mandiri/tanpa mengharapkan bantuan pihak lain, dengan mendirikan koperasi pada 1981. Usaha awal berupa kedai dan warung kelontong di dalam lingkungan pesantren memenuhi kebutuhan para santri.

Koperasi Ponpes Sidogiri (Koppontren Sidogiri) terus berkembang, dengan menerapkan prinsip dari santri, oleh santri dan untuk santri. Artinya, modal koppontren dihimpun dari santri, dikelola oleh santri dan keuntungannya juga kembali ke santri.

Dalam perkembangannya, pengurus Koppontren Sidogiri dan beberapa guru Madrasah Miftahul Ulum Ponpes Sidogiri pada pertengahan 1997 menyelenggarakan kegiatan usaha dengan fokus simpan pinjam pola syariah bernama Baitul Mal wa Tamwil Maslahah Mursalal lil Ummah (BMT-MMU).

“Usaha tersebut guna merespon keresahan masyarakat sekitar pesantren yang mulai terjerat praktik ekonomi ribawi dalam bentuk rentenir,” ujar Mahmud.

BMT-MMU mengalami kemajuan secara signifikan dari aspek permodalan, aset maupun omzetnya. Saat ini omzet bisnis syariah mencapai Rp42 miliar per tahun. Adapun jumlah nasabahnya mencapai 12.000 orang lebih. Uni layanannya pun berkembang menjadi 12 unit yang tersebat di berbagai kecamatan di Pasuruan.

Usaha Gabungan
Dengan memanfaatkan jaringan alumni dan guru Ponpes Sidogiri, maka para personil pondok pesantren tersebut lantas membentuk usaha gabungan terpadu (UGT) di Surabaya pada 2002.

Menurut manajer BMT-UGT Sidogiri, Abdul Majid Umar, pendirian BMT-UGT dimaksudkan memperluas jaringan BMT Sidogiri ke luar wilayah Pasuruan.

“Berdasarkan ijin yang diberikan Dinas Koperasi Kab. Pasuruan, wilayah kerja BMT-MMU hanya sebatas Pasuruan. Agar lebih leluasa, kami mengajukan ijin mendirikan sejumlah BMT-UGT ke Dinas Koperasi & PKM Jatim supaya dapat beroperasi di semua wilayah di Jatim,” paparnya.

Sambutan masyarakat terhadap kehadiran BMT-UGT di Surabaya disebutkan cukup positif, dan kini berhasil menjaring 1.300 orang penabung dengan perputaran dana Rp4 miliar per bulan. Sebagian besar nasabahnya adalah pedagang besi rongsokan.

“Kami menekankan layanan yang adil, mudah dan maslahah atau memberikan manfaat. Semisal pada produk pembiayaan jenis mudharabah atau bagi hasil, manajemen menerapkan pola bagi hasil 60% untuk peminjam modal dan sisanya untuk BMT-UGT,” lanjut Abdul Majid.

BMT-UGT Sidogiri memiliki produk pembiayaan simpan pinjam pola syariah dengan menerapkan lima akad meliputi: mudharabah/bagi hasil, musyarakah/penyertaan modal, murabahah/jual beli, bai’bitsamanil’ajil/jual beli dan qord al hasan/hutang.

Produk lainnya adalah tabungan yakni mudharabah umum, pendidikan, Idul Fitri, qurban, walimah, ziarah dan mudharabah berjangka atau deposito.

Produk lain yang diandalkan BMT-UGT Sidogiri adalah jasa layanan transfer yakni layanan pengiriman uang bagi masyarakat penabung maupun bukan penabung melalui cabang kantor Koperasi BMT-UGT setempat kepada santri yang tengah menempuh pendidikan. Menurut Abdul Majid, kini Koperasi BMT-UGT telah memiliki 39 unit layanan di seluruh kabupaten/kota di Jatim, dan pada 2010 ditargetkan bertambah menjadi 100 cabang.

Omzetnya pun mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, dimana pada 2005 senilai Rp43 miliar naik menjadi Rp89 miliar pada 2006 dan tahun lalu tercapai Rp180 miliar lebih. Peningkatan omzet diikuti peningkatan aset yang tercatat Rp13 miliar pada 2005 lantas naik menjadi Rp30 miliar pada 2006 dan tahun lalu mencapai Rp51 miliar. Dengan didukung jaringan alumni Ponpes Sidogiri sebanyak 30.000 orang lebih, hingga akhir 2007 koperasi tersebut memiliki anggota 216 orang anggota biasa dan luar biasa ditambah 28.987 orang berstatus calon anggota.

Manajemen Rasul
Mahmud mengaku perkembangan BMT-UGT dan BMT-UMM hingga memperoleh kepercayaan masyarakat disebabkan menerapkan manajemen rasul yakni siddiq/jujur, amanah/dapat dipercaya dan fathonah/profesional.

“Kami percaya, alumni Ponpes Sidogiri masih memegang tiga prinsip itu, sehingga kami berpeluang terus berkembang,” paparnya. (Faisal).

http://jurnal.diskopjatim.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=58:profil-koperasi-koppontren-sidogiri-kemandirian-ekonomi-pola-syariah&catid=37:edisi-april-2008

Software BMT Free Download…!