Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a.

Sahabat yang lahir dalam keprihatinan dan meninggal dalam Kesunyian.

Dialah, khalifah Ali bin Abi Thalib ra.

Ali kecil adalah anak yang malang. Namun, kehadiran Muhammad SAW telah memberi seberkas pelangi baginya. Ali, tidak pernah bisa bercurah hati kepada ayahnya, Abi Thalib, selega ia bercurah hati kepada Rasulullah. Sebab, hingga akhir hayatnya pun, Abi Thalib tetap tak mampu mengucap kata syahadat tanda penyerahan hatinya kepada Allah. Ayahnya tak pernah bisa merasa betapa nikmatnya saat bersujud menyerahkan diri,kepada Allah Rabb semesta sekalian alam.

Kematian ayahnya tanpa membawa sejumput iman begitu memukul Ali. Kelak dari sinilah, ia kemudian bertekad kuat untuk tak mengulang kejadian ini buat kedua kali. Ia ingin, saat dirinya harus mati nanti, anak-anaknya tak lagi menangisi ayahnya seperti tangis dirinya untuk ayahnya, Abi Thalib. Tak cuma dirinya, disebelahnya, Rasulullah pun turut menangisi kenyataan tragis ini…saat paman yang selama ini melindunginya, tak mampu ia lindungi nanti…di hari akhir,karena ketiaadaan iman di dalam dadanya.

Betul-betul pahit, padahal Ali tahu bahwa ayahnya sangatlah mencintai dirinya dan Rasulullah. Saat ayahnya, buat pertama kali memergoki dirinya sholat berjamaah bersama Rasulullah, ia telah menyatakan dukungannya. Abi Thalib berkata, “”Janganlah kau berpisah darinya (Rasulullah), karena ia tidak mengajakmu kecuali kepada kebaikan”.

Sejak masih berumur 6 tahun, Ali telah bersama dan menjadi pengikut setia Rasulullah. Sejarah kelak mencatat bahwa Ali terbukti berkomitmen pada kesetiaannya. Ia telah hadir bersama Rasulullah sejak awal dan baru berakhir saat Rasulullah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ali ada disaat yang lain tiada. Ali adalah tameng hidup Rasulullah dalam kondisi kritis atau dalam berbagai peperangan genting, saat diri Rasulullah terancam.

Kecintaan Ali pada Rasulullah, dibalas dengan sangat manis oleh Rasulullah. Pada sebuah kesempatan ia menghadiahkan kepada Ali sebuah kalimat yang begitu melegenda, yaitu : “Ali, engkaulah saudaraku…di dunia dan di akhirat…”

Ali, adalah pribadi yang istimewa. Ia adalah remaja pertama di belahan bumi ini yang meyakini kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah. Konsekuensinya adalah, ia kemudian seperti tercerabut dari kegermerlapan dunia remaja. Disaat remaja lain berhura-hura. Ali telah berkenalan dengan nilai-nilai spiritual yang ditunjukkan oleh Rasulullah, baik melalui lisan maupun melalui tindak-tanduk beliau. “Aku selalu mengikutinya (Rasulullah SAWW) sebagaimana anak kecil selalu membuntuti ibunya. Setiap hari ia menunjukkan kepadaku akhlak yang mulai dan memerintahkanku untuk mengikuti jejaknya”, begitu kata Ali mengenang masa-masa indah bersama Rasulullah tidak lama setelah Rasulullah wafat.

Amirul mukminin Ali, tumbuh menjadi pemuda yang berdedikasi. Dalam berbagai forum serius yang dihadiri para tetua, Ali selalu ada mewakili kemudaan. Namun, muda tak berarti tak bijaksana. Banyak argumen dan kata-kata Ali yang kemudian menjadi rujukan. Khalifah Umar bahkan pernah berkata,”Tanpa Ali, Umar sudah lama binasa”

Pengorbanannya menjadi buah bibir sejarah Islam. Ali-lah yang bersedia tidur di ranjang Rasulullah, menggantikan dirinya, saat rumahnya telah terkepung oleh puluhan pemuda terbaik utusan kaum kafir Quraisy yang hendak membunuhnya di pagi buta. Ali bertaruh nyawa. Dan hanya desain Allah saja semata, jika kemudian ia masih tetap selamat, begitu juga dengan Rasulullah yang saat itu ‘terpaksa’ hijrah ditemani Abu Bakar seorang.

Keperkasaan Ali tiada banding. Dalam perang Badar, perang pertama yang paling berkesan bagi Rasulullah (sehingga setelahnya, beliau memanggil para sahabat yang ikut berjuang dalam Badar dengan sebutan ” Yaa…ahlul Badar…”), Ali menunjukkan siapa dirinya sesungguhnya. Dalam perang itu ia berhasil menewaskan separo dari 70an pihak musuh yang terbunuh. Hari itu, bersama sepasukan malaikat yang turun dari langit, Ali mengamuk laksana badai gurun.

Perang Badar adalah perang spiritual. Di sinilah, para sahabat terdekat dan pertama-tama Rasulullah menunjukkan dedikasinya terhadap apa yang disebut dengan iman. Mulanya, jumlah lawan yang sepuluh kali lipat jumlahnya menggundahkan hati para sahabat. Namun, doa pamungkas Rasulullah menjadi penyelamat dari jiwa-jiwa yang gundah. Sebuah doa, semirip ultimatum, yang setelah itu tak pernah lagi diucapkan Rasulullah…”Ya Allah, disinilah sisa umat terbaikmu berkumpul…jika Engkau tak menurunkan bantuanmu, Islam takkan lagi tegak di muka bumi ini…”

Dalam berbagai siroh, disebutkan bahwa musuh kemudian melihat jumlah pasukan muslim seakan tiada batasnya, padahal jumlah sejatinya tidaklah lebih dari 30 gelintir. Pasukan berjubah putih berkuda putih seperti turun dari langit dan bergabung bersama pasukan Rasulullah. Itulah, kemenangan pasukan iman. Dan Ali, menjadi bintang lapangannya hari itu.

Tak hanya Badar, banyak peperangan setelahnya menjadikan Ali sebagai sosok yang disegani. Di Uhud, perang paling berdarah bagi kaum muslim, Ali menjadi penyelamat karena dialah yang tetap teguh mengibarkan panji Islam setelah satu demi satu para sahabat bertumbangan. Dan yang terpenting, Ali melindungi Rasulullah yang kala itu terjepit hingga gigi RAsulullah bahkan rompal dan darah mengalir di mana-mana. Teriakan takbir dari Ali menguatkan kembali semangat bertarung para sahabat, terutama setelah melihat Rasululah dalam kondisi kritis.

Perang Uhud meski pahit namun sejatinya berbuah manis. Di Uhud, Rasulullah banyak kehilangan sahabat terbaiknya, para ahlul Badar. Termasuk pamannya, Hamzah –sang singa padang pasir. Kedukaan yang tak terperi, sebab Hamzah-lah yang selama ini loyal melindungi Rasulullah setelah Abi Thalib wafat. Buah manisnya adalah, doa penting Rasulullah juga terkabul, yaitu masuknya Khalid bin Walid, panglima musuh di Perang Uhud, ke pangkuan Islam. Khalid kemudian, hingga akhir hayatnya, mempersembahkan kontribusi besar terhadap kemenangan dan perkembangan Islam.

Bagi Ali sendiri, perang Uhud makin menguatkan imagi tersendiri pada sosok Fatimah binti Muhammad SAW. Sebab di perang Uhud, Fatimah turut serta. Dialah yang membasuh luka ayahnya, juga Ali, berikut pedang dan baju perisainya yang bersimbah darah.

Juga di perang Khandak. Perang yang juga terhitung genting. Perang pertama yang sifatnya psyco-war. Ali kembali menjadi pahlawan, setelah cuma ia satu-satunya sahabat yang ‘berani’ maju meladeni tantangan seorang musuh yang dikenal jawara paling tangguh, ‘Amr bin Abdi Wud. Dalam gumpalan debu pasir dan dentingan suara pedang. Ali bertarung satu lawan satu. Rasulullah SAW bahkan bersabda: “Manifestasi seluruh iman sedang berhadapan dengan manifestasi seluruh kekufuran”.

Dan teriakan takbir menjadi pertanda, bahwa Ali menyudahinya dengan kemenangan. Kerja keras Ali berbuah. Kemenangan di raih pasukan Islam tanpa ada benturan kedua pasukan. Tidak ada pertumpahan darah. kegemilangan ini, membuat Rasulullah SAW pada sebuah kesempatan : “Peperangan Ali dengan ‘Amr lebih utama dari amalan umatku hingga hari kiamat kelak”.

Seluruh peperangan Rasulullah diikuti oleh Ali, kecuali satu di Perang Tabuk. Rasulullah memintanya menetap di Mekkah untuk menjaga stabilitas wilayah. Sebab Rasulullah mengetahui, ada upaya busuk dari kaum munafiq untuk melemahkan Mekkah dari dalam saat Rasulullah keluar memimpin perang TAbuk. Kehadiran Ali di Mekkah, meski seorang diri, telah berhasil memporakporandakan rencana buruk itu. Nyali mereka ciut, mengetahui ada Ali di tengah-tengah mereka.

Perubahan drastis ditunjukkan Ali setelah Rasulullah wafat. Ia lebih suka menyepi, bergelut dengan ilmu, mengajarkan Islam kepada murid-muridnya. Di fase inilah, Ali menjadi sosok dirinya yang lain, yaitu seorang pemikir. Keperkasaannya yang melegenda telah diubahnya menjadi sosok yang identik dengan ilmu. Ali benar-benar terinspirasi oleh kata-kata Rasulullah, “jika aku ini adalah kota ilmu, maka Ali adalah pintu gerbangnya”. Dari ahli pedang menjadi ahli kalam (pena). Ali begitu tenggelam didalamnya, hingga kemudian ia ‘terbangun’ kembali ke gelanggang untuk menyelesaikan ‘benang ruwet’, sebuah nokta merah dalam sejarah Islam. Sebuah fase di mana sahabat harus bertempur melawan sahabat.

Kenangan Bersama Fatimah Az-Zahra
Sejatinya, sosok Fatimah telah lama ada di hati Ali. Ali-lah yang mengantarkan Fatimah kecil meninggalkan Mekkah menyusul ayahnya yang telah dulu hijrah. Ali pula yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri, betapa Fatimah menangis tersedu-sedu setiap kali Rasulullah dizhalimi. Ali bisa merasakan betapa pedihnya hati fatimah saat ia membersihkan kotoran kambing dari punggung ayahnya yang sedang sholat, yang dilemparkan dengan penuh kebencian oleh orang-orang kafir quraisy.

Bagi Fatimah, sosok rasulullah, ayahnya, adalah sosok yang paling dirindukannya. Meski hati sedih bukan kepalang, duka tak berujung suka, begitu melihat wajah ayahnya, semua sedih dan duka akan sirna seketika. Bagi Fatimah, Rasulullah adalah inspirator terbesar dalam hidupnya. Fatimah hidup dalam kesederhanaan karena Rasulullah menampakkan padanya hakikat kesederhanaan dan kebersahajaan. Fatimah belajar sabar, karena Rasulullah telah menanamkan makna kesabaran melalui deraan dan fitnah yang diterimanya di sepanjang hidupnya. Dan Ali merasakan itu semua. Karena ia tumbuh dan besar di tengah-tengah mereka berdua.

Maka, saat Rasulullah mempercayakan Fatimah pada dirinya, sebagai belahan jiwanya, sebagai teman mengarungi kehidupan, maka saat itulah hari paling bersejarah bagi dirinya. Sebab, sesunguhnya, Fatimah bagi Ali adalah seperti bunda Khodijah bagi Rasulullah. Teramatlah istimewa.

Suka duka, yang lebih banyak dukanya mereka lewati bersama. Dua hari setelah kelahiran Hasan, putra pertama mereka, Ali harus berangkat pergi ke medan perang bersama Rasulullah. Ali tidak pernah benar-benar bisa mencurahkan seluruh cintanya buat Fatimah juga anaknya. Ada mulut-mulut umat yang menganga yang juga menanti cinta sang khalifah.

Mereka berdua hidup dalam kesederhanaan. Kesederhanaan yang sampai mengguncang langit. Penduduk langit bahkan sampai ikut menangis karenanya. Berhari-hari tak ada makanan di meja makan. Puasa tiga hari berturut-turut karena ketiadaan makanan pernah hinggap dalam kehidupan mereka. Tengoklah Ali, dia sedang menimba air di pojokkan sana, Setiap timba yang bisa angkat, dihargai dengan sebutir kurma. Hasan dan Husein bukan main riangnya mendapatkan sekerat kurma dari sang ayah.

Pun, demikian tak pernah ada keluk kesah dari mulut mereka. Bahkan, mereka masih bisa bersedekah. Rasulullah…tak mampu menahan tangisnya… saat mengetahui Fatimah memberikan satu-satunya benda berharga miliknya, seuntai kalung peninggalan sang bunda Khodijah, ketika kedatangan pengemis yang meminta belas kasihan padanya. Rasulullah, yang perkasa itu, tak mampu menyembunyikan betapa air matanya menetes satu persatu…terutama mengingat bahwa kalung itu begitu khusus maknanya bagi dirinya… dan fatimah rela melepasnya, demi menyelamatkan perut seorang pengemis yang lapar, yang bahkan tidak pula dikenalnya.

Dan lihatlah…langit tak diam. Mereka telah menyusun rencana. HIngga, melalui tangan para sahabat, kalung itu akhirnya kembali ke Fatimah. Sang pengemis, budak belaian itu bisa pulang dalam keadaan kenyang, dan punya bekal pulang, menjadi hamba yang merdeka pula. Dan yang terpenting adalah kalung itu telah kembali ke lehernya yang paling berhak…Fatimah.

Namun, waktu terus berjalan. Cinta di dunia tidaklah pernah abadi. Sebab jasad terbatasi oleh usia. Mati. Sepeninggal Rasulullah, Fatimah lebih sering berada dalam kesendirian. Ia bahkan sering sakit-sakitan. Sebuah kondisi yang sebelumnya tidak pernah terjadi saat rasulullah masih hidup. Fatimah seperti tak bisa menerima, mengapa kondisi umat begitu cepat berubah sepeninggal ayahnya. Fatimah merasa telah kehilangan sesuatu yang bernama cinta pada diri umat terhadap pemimpinnya. Dan ia semakin menderita karenanya setiap kali ia terkenang pada sosok yang dirindukannya, Rasulullah SAW.

Pada masa ketika kekalutan tengah berada di puncaknya, Fatimah teringat pada sepenggal kalimat rahasia ayahnya. Pada detik-detik kematian Rasulullah…di tengah isak tangis Fatimah…Rasulullah membisikkan sesuatu pada Fatimah, yang dengan itu telah berhasil membuat Fatimah tersenyum. Senyum yang tak bisa terbaca. Pesan Rasulullah itu sangatlah rahasia, dia hanya bisa terkatakan nanti setelah Rasulullah wafat atau saat Fatimah seperti sekarang ini…terbujur di pembaringan. Ya, Rasulullah berkata, “Sepeninggalku, …diantara bait-ku (keluargaku), engkaulah yang pertama-tama akan menyusulku…”

Kini, Fatimah telah menunggu masa itu. Ia telah sedemikian rindu dengan ayahanda pujaan hatinya. Setelah menatap mata suaminya, dan menggenggam erat tangannya…seakan ingin berkata, “kutunggu dirimu nanti di surga…bersama ayah…”, Fatimah Az-Zahro menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya… dalam deraian air mata… Ali menguburkan jasad istrinya tercinta itu…yang masih belia itu…sendiri…di tengah malam buta…Ali tidak ingin membagi perasaannya itu dengan orang lain. Mereka berdua larut dalam keheningan yang hanya mereka berdua yang tahu. Lama Ali terpekur di gundukan tanah merah yang baru saja dibuatnya. Setiap katanya adalah setiap tetes air matanya. Mengalir begitu deras. Hingga kemudian, dengan dua tangan terkepal. Ali bangkit berdiri…dan berteriak sekeras-seKerasnya sambil menghadap langit….” A L L A H U … A K B A R”.

Pertempuran Antar Sahabat
Amirul Mukminin Ali ra., kemudian berkonsentrasi membenahi kondisi umat. Terutama pada sisi administrasi pemerintahan, ekonomi dan stabilitas pertahanan. Beberapa reformasi fundamental, seperti penggantian pejabat dan pengambilan kembali harta yang pernah diberikan oleh khalifah sebelumnya (Ustman bin Affan) menyulut kontroversi. Terutama, dalam kacamata awam, Ali tak pula kunjung menyeret pelaku pembunuhan Khalifah Ustman ke pengadilan.

Yang harus dihadapi Ali tak tanggung-tanggung, sahabatnya sendiri. Sahabat yang dulu pernah berjuang bersama Rasulullah menegakkan Islam, kini berada dalam barisan yang hendak melawannya. Bahkan ada pula sahabat yang dulu membaiatnya menjadi khalifah. kini turut pula menghadangnya. Kondisi yang betul-betul pahit.

Ali tidak pandang bulu. Baginya hukum menyentuh siapa saja. Tidak ada istilah ‘orang kuat’ di mata Ali. BAgi beliau, “orang lemah terlihat kuat dimataku, saat aku harus berjuang keras mengembalikan hak miliknya yang terampas. Orang kuat terlihat lemah di mataku, saat aku terpaksa mengambil sesuatu darinya yang bukan menjadi haknya”.

Di masa Khalifah Ali, pusat pemerintahan di pindahkan ke Kuffah. Dari sini kemudian ia mengendalikan wilayah Islam, yang saat itu telah meluas termasuk Syam. Kondisi saat itu benar-benar membutuhkan ketegasan. Sebagai khalifah terakhir dalam bingkai Khulafa Ar-rasyidin, Ali dihadapkan pada masa pelik. Dimana akar dari permasalahannya adalah makin bertambahnya Islam dari segi jumlah namun makin berkurang pula dari segi kualitas. Interest pribadi (nafs), kesukuan (nasionalisme sempit) yang dibalut atas nama agama, menjadi awal mulanya masa kemunduran Islam.

Ketidaksempurnaan informasi yang diterima bunda Aisyah di Mekkah terhadap beberapa kebijakan Khalifah Ali telah membuatnya menyerbu Kuffah. Perang Jamal (Unta), demikian sejarah mencatatnya. Sebab bunda Aiysah ra memimpin perang melawan Ali dengan menunggangi Unta. Bersama Aisyah, turut pula sahabat Zubair bin Awam dan Thalhah. Di akhir peperangan, Khalifah Ali menjelaskan semuanya, dan Asiyah dipulangkan dengan hormat ke Mekkah. Ali mengutus beberapa pasukan khusus untuk mengawal kepulangan bunda Aisyah ke Mekkah.

Berikutnya adalah Perang Shiffin. Bermula dari GUbernur Syam, Muawiyyah bin Abu Sofyan yang menyatakan penolakannya atas keputusan Ali mengganti dirinya sebagai gubernur. Kondisi serba tak taat ini membuat Ali masygul. Mereka bertemu dalam Perang Siffin. Dan di saat-saat memasuki kekalahannya, pasukan Syam kemudian mengangkat Al-Quran tinggi-tinggi dengan tombaknya, yang membuat pasukan Kufah menghentikan serangan. Dengan cara itu, kemudian dibukalah pintu dialog.

Perundingan inilah yang kemudian membawa babak baru dalam kehidupan Ali, bahkan dunia Islam hingga saat ini. Sebuah tahkim (arbitrase) yang menurut sebagian pihak membuat Ali di bagian pihak yang kalah, namun menunjukkan kemuliaan hati Ali di sisi lain. Syam mengutus Amru Bin ‘Ash yang terkenal dengan negosiasinya dan Ali mengutus Abu Musa Asyari, yang terkenal dengan kejujurannya. Ali nampak betul-betul berharap terhadap perundingan ini dan menghasilkan traktat yang membawa kedamaian diantara keduanya. Namun, kelihaian mengolah kata-kata dari pihak Syam membuat arbitrase itu seperti mengukuhkan kemunduran Ali sebagai khalifah dan menggantikannya dengan Muawiyah.

Dan ini menimbulkan ketidakpuasan dari beberapa elemen di pasukan Ali. Dari sini, lahirlah para Khawarij yang kelak kemudian, bertanggung jawab terhadap kematian Khalifah Ali.

Khawarij itu, Tiga untuk Tiga… Mereka membentuk tim berisi tiga orang yang tugasnya membunuh tiga orang yang dianggap paling bertanggung jawab terhadap perundingan tersebut. Abdurahman bin Muljam ditugasi untuk membunuh Ali bin Thalib, Amr bin Abi Bakar ditugasi untuk membunuh Muawiyah, dan Amir bin Bakar ditugasi untuk membunuh Amr bin Ash. Mereka kemudian gagal membunuh tokoh-tokoh ini, kecuali Abdurahman bin Muljam.

Menjelang wafatnya Khalifah Ali ra, Ali sempat bermuram durja. Sebab, penduduk Kuffah termakan propaganda dan kehilangan ketaatan kepada dirinya. Saat Ali meminta warga Kuffah untuk mempersiapkan diri menyerbu Syam, namun warga Kuffah tak terlalu menanggapi seruan itu. Ini berdampak psikologis amat berat bagi Ali. Tidak hanya sekali dua kali. tapi acapkali seruan Khalifah Ali di anggap angin lalu oleh warga Kufah.

Karena itu, Ali sempat berkata,” “Aku terjebak di tengah orang-orang tidak menaati perintah dan tidak memenuhi panggilanku. Wahai kalian yang tidak mengerti kesetiaan! Untuk apa kalian menunggu? Mengapa kalian tidak melakukan tindakan apapun untuk membela agama Allah? Mana agama yang kalian yakini dan mana kecemburuan yang bisa membangkitkan amarah kalian?”

Pada kesempatan yang lain beliau juga berkata, “Wahai umat yang jika aku perintah tidak menggubris perintahku, dan jika aku panggil tidak menjawab panggilanku! Kalian adalah orang-orang yang kebingungan kala mendapat kesempatan dan lemah ketika diserang. Jika sekelompok orang datang dengan pemimpinnya, kalian cerca mereka, dan jika terpaksa melakukan pekerjaan berat, kalian menyerah. Aku tidak lagi merasa nyaman berada di tengah-tengah kalian. Jika bersama kalian, aku merasa sebatang kara.”

“Jika bersama kalian, aku merasa sebatang kara”. Pernyataan pedih mewakili hati yang pedih. Dalam kehidupan kekinian, mungkin bertebaran di tengah-tengah kita pemimpin-pemimpin baru atau anak-anak muda berjiwa pembaharu yang dalam hatinya sama dengan dalamnya hati Ali ra saat mengucapkan kalimat itu. Mereka menawarkan jalan cerah tapi, kita umatnya memilih kegelapan yang nampak menyilaukan. Kita abai terhadap ajakan mereka, dan malah mungkin memusuhinya…mengisolasinya. Ahhh…semoga kita terhindar dari kelakuan keji itu…

Usaha Khalifah Ali ra untuk menyusun kembali peta kekuatan Islam sebenarnya telah diambang keberhasilan. Satu demi satu yang dulunya tercerai berai telah kembali berikrar setia pada beliau. Namun , Allah berkehendak lain, setelah berjuang keras sekitar 5 tahun menjaga amanah kepemimpinan umat, dan setelah melewati berbagai fitnah dan deraan, Khalifah Ali menyusul kekasih hatinya, Rasulullah SAW dan FAtimah Az-Zahra menghadap Sang Pencipta, Allah SWT.

Hari itu, tanggal 19 ramadhan tahun 40 H, saat beliau mengangkat kepala dari sujudnya, sebilah pedang beracun terayun dan mendarat tepat di atas dahinya. Darah mengucur deras membahasi mihrab masjid. “Fuztu wa rabbil ka’bah. Demi pemilik Ka’bah, aku telah meraih kemenangan.”, sabda Ali di tengah cucuran darah yang mengalir. Dua hari setelahnya, Khalifah Ali wafat. Ia menemui kesyahidan seperti cita-citanya. Seperti istrinya, Ali juga dimakamkan diam-diam di gelap malam oleh keluarganya di luar kota Kuffah.

Di detik-detik kematiannya, bibir beliau berulang-ulang mengucapkan “Lailahaillallah” dan membaca ayat, “Faman ya’mal mitsqala dzarratin khairan yarah. Waman ya’mal mitsqala dzarratin syarran yarah.” yang artinya, “Siapapun yang melakukan kebaikan sebiji atompun, dia akan mendapatkan balasannyanya, dan siapa saja melakukan keburukan meski sekecil biji atom, kelak dia akan mendapatkan balasannya.”

Beliau sempat pula mewasiatkan nasehat kepada keluarganya dan juga umat muslim. Di antaranya : menjalin hubungan sanak keluaga atau silaturrahim, memperhatikan anak yatim dan tetangga, mengamalkan ajaran Al-Qur’an, menegakkan shalat yang merupakan tiang agama, melaksanakan ibadah haji, puasa, jihad, zakat, memperhatikan keluarga Nabi dan hamba-hamba Allah, serta menjalankan amr maruf dan nahi munkar.

Islam telah ditinggalkan oleh satu lagi putra terbaiknya. Pengalaman heroik hidupnya telah melahirkan begitu banyak kata-kata mulia yang mungkin akan pula menjadi abadi. Ia menjadi inspirasi bagi setiap pemimpin yang ingin membawa bumi ini pada ketundukan kepada Allah SWT.

Saat ia dicerca dari banyak arah, lahirlah perkataan beliau : “Cercaan para pencerca tidak akan melemahkan semangat selama aku berada di jalan Allah”.

Saat beliau mesti menerima kenyataan pahit berperang dengan sahabatnya sendiri, dan juga mendapatkan persahabatan dari oarng yang dulunya menjadi musuh,lahirlah : “Cintailah sahabatmu biasa saja, karena mungkin ia akan menjadi penentangmu pada suatu hari, dan bencilah musuhmu biasa saja, karena mungkin ia akan menjadi sahabatmu pada suatu hari”.

Beliau juga sangat menghormati ilmu. Tidak terkira banyaknya, kalmat bijak yang keluar dari mulutnya tentang keutamaan mencari ilmu. Ia juga menyarankan orang untuk sejenak merenungi ilmu dan hikmah-hikmah kehidupan. Kata beliau, “Renungkanlah berita yang kau dengar secara baik-baik (dan jangan hanya menjadi penukil berita), penukil ilmu sangatlah banyak dan perenungnya sangat sedikit”.

Khalifah Ali ra adalah sebuah legenda. He is a legend. Dan legenda tidak akan pernah mati. Bisa jadi, saat lilin-lilin di sekitar kita mulai padam satu persatu, dan kita kehilangan panduan karenanya, maka pejamkanlah saja sekalian matamu. Hadirkan para legenda-legenda Islam itu, termasuk beliau ini, dalam benakmu dan niscaya ia akan menjadi penerang bagimu…seterang-terangnya cahaya yang pernah ada di muka bumi.

Sumber dipetik dari http://doniriadi.blogspot.com/2008/04/cinta-di-atas-cinta-1-khalifah-ali-bin.html

Advertisements

Kepemimpinan Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a.

Tetapi yang terpenting bagaimana mereka memimpin daerah ini dengan HATI NURANI dalam gaya kepemimpinan yang sederhana dan ampuh dan tentunya tidak salah juga jika berkaca pada kisah kepemimpinan yang menarik dan patut diteladani oleh setiap pemimpin ialah kepemimpinan Khalifah Umar Bin Chattab yang kisahnya seperti berikut:

Suatu malam beliau berjalan-jalan melihat keadaan rakyatnya. Sampailah perjalanan malamnya di suatu desa, dari jauh didengarnya tangisan bocah kecil yang sangat menyayat hati. Suara itu didekatinya dan setelah sampai disuatu gubuk betapa terkejutnya Khalifah Umar disela-sela dinding, dilihatnya seorang perempuan duduk didepan tungku.

Ketika Khalifah Umar masuk kedalam gubuk itu, ditanyalah ibu tersebut”mengapa anak-anak menangis dan gerangan apa yang ditanak itu? Ibu itu memberi tahu bahwa yang ditanak (dimasak) adalah kerikil. Anaknya menangis karena kelaparan karena tidak ada gandum atau beras untuk dimasak.

Dengan pura-pura menanak itu harapannya supaya tangis anaknya berkurang dan kalau capek menangis mereka akan tidur. Ibu itu mengatakan kritiknya terhadap kepemimpinan Khalifah Umar yang tidak mengetahui rakyatnya hidup menderita seperti dia. Ibu itu tak mengetahui bahwa yang dihadapinya adalah Khalifah Umar, pemimpin negara dan bangsanya.

Setelah mendengar keadan ibu tersebut, Khalifah Umar permisi menuju gudang persediaan makanan diambilnya satu karung gandum dan dipikulnya sendiri untuk diberikan kepada ibu tersebut. Saat itu akan ditolong oleh sahabatnya yang menyertai dalam perjalanannya membawa gandum tersebut tetapi ditolak oleh Khalifah Umar dengan ucapan: “APAKAH KAU SANGGUP MEMIKUL DOSA-KU KELAK DIHADAPAN TUHAN?”

Dari kisah kepemimpinan Khalifah Umar dapat ditarik kesimpulan “janganlah menjadi pemimpin dengan manajemen Asal Bapak Senang (ABS), karena itulah Khalifah Umar dikritik oleh rakyatnya tetapi beliau tidak tersinggung karena beliau tahu beliau bersalah dan tidak menyalahkan orang lain karena memang adalah tanggung jawabnya karena itu dipikul sendiri kesalahannya.

Beliau (Khalifah Umar) tahu bahwa kewenangan diperoleh dari rakyat dan dapat dilimpahkan kepada orang lain dan juga beliau tahu bahwa tanggung jawab tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain.

http://www.timorexpress.com/index.php?act=news&nid=24823

Kepemimpinan Khalifah Abu Bakar r.a.

Kalau kita bicara figur kepemimpinan mana yang terbaik dan layak menjadi teladan? Tentu secara imani, sebagai seorang muslim kita langsung mengatakan Rasulullah Saw. Beliaulah Saw yang merupakan pemimpin riil kaum muslimin, di samping pemimpin para Nabi. Para sahabat beliau Saw adalah orang-orang yang bergaul dan berjuang bersama-sama beliau Saw. Merekalah orang-orang yang mampu memahami dan merasakan ajaran Islam dan mampu meneladani Rasulullah Saw secara utuh. Di antara mereka, sepeninggal Rasul, ada yang menjadi khalifah, pengganti Rasulullah Saw dalam kepemimpinan umat, dalam rangka menjalankan pemerintahan dengan al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw. Dari merekalah kita bisa mendapat banyak pelajaran bagaimana meneladani Rasululah Saw dalam masalah kepemimpinan dan pemerintahan. Tulisan ini menguraikan sosok kepemimpinan salah seorang sahabat rasulullah Saw yang paling utama, pengganti beliau Saw mengimami sholat, dan pengganti beliau Saw dalam kepemimpinan negara dan umat Islam sepeninggal beliau Saw, yakni Khalifah Abu Bakar As Shiddiq r.a.

Cerdas, Supel, Jujur Dan Berani
Menurut Ibnu Hisyam dalam kitabnya Sirah Nabawiyah, Juz I/249-250, Abu Bakar r.a. adalah putra Abu Quhafah. Nama aslinya Abdullah, panggilannya Atiq (sang Tampan) lantaran wajahnya yang tampan dan cakap orangnya. Tatkala masuk Islam, Abu Bakar r.a. menampilkan keislamannya, dan mengajak orang kepada Allah dan Rasul-Nya. Dakwah Abu Bakar ini cukup efektif mengingat dia adalah seorang Quraisy yang yang supel dalam pergaulan, disukai dan diterima, seorang pebisnis, berbudi pekerti yang baik. Orang-orang biasa datang kepadanya dan bergaul dengannya untuk banyak urusan lantaran ilmu yang dimilikinya, bisnisnya, dan baik pergaulannya. Sejumlah sahabat yang masuk Islam di tangan Abu Bakar antara lain adalah Utsman bin Affan r.a., Zubair bin Awwam r.a., Abdurrahman bin Auf r.a., Saad bin Abi Waqash r.a., dan Thalhah bin Ubaidillah r.a.

Abu Bakar r.a. adalah orang yang cerdas, mudah mengerti dakwah yang disampaikan Rasulullah Saw sehingga dia pun cepat membenarkan dan meyakini apa yang dikatakan beliau Saw dan masuk Islam. Ibnu Hisyam (idem, hal 252) mengatakan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda:

Tidaklah aku mengajak seseorang kepada Islam melainkan dia tidak langsung menjawab, masih pikir-pikir, dan masih ragu-ragu, kecuali Abu Bakar bin Abi Quhafah. Tatkala aku berbicara dengannya, dia tidak menunda-nunda (pembenarannya) dan dia tidak ragu-ragu.”.

Tatkala Nabi Saw diperjalankan oleh Allah SWT dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, tidak sedikit orang yang langsung menolak kabar dari beliau mentah-mentah, bahkan ada sebagian kaum muslimin yang murtad, atau masih ragu-ragu, Abu Bakar secara cerdas membenarkannya dan mengatakan: “Jangankan kabar dari Muhammad Saw bahwa di berjalan di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqshaa, sedangkan kabar yang diperolehnya dari langit dalam sekejap saja saya terima.

Dengan keyakinan itu pula Abu Bakar siap dibina dengan Islam dan siap berjuang untuk Islam. Abu Bakar berani dan siap mengambil resiko berhadapan dengan Quraisy dalam mendakwahkan Islam. Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Al Bidayah wan Nihayah menuturkan: Tatkala Rasulullah Saw melaksanakan perintah Allah SWT untuk memperkenalkan kelompok dakwahnya secara terang-terangan (lihat QS. Al Hijr … ), dengan cara membentuk dua barisan yang dikepalai Hamzah r.a. dan Umar r.a. menuju Ka’bah, maka di situlah, di depan perwakilan para kabilah di Makkah, Abu Bakar r.a. berpidato. Dan orang-orang Quraisy pun memukulinya sampai mukanya babak belur dan pingsan. Namun setelah siuman, yang ditanyakan pertama kali adalah: Bagaimana keadaan Rasulullah? Pantaslah dia mendapatkan gelar As Shiddiiq, artinya yang lurus, yang benar, yang membuktikan kebenaran ucapannya dengan perbuatan.

Pidato Pertama Sebagai Khalifah Pertama
Setelah pembaiatan Abu Bakar r.a. sebagai Khalifah, beliau r.a. berpidato: “Hai saudara-saudara! Kalian telah membaiat saya sebagai khalifah (kepala negara). Sesungguhnya saya tidaklah lebih baik dari kalian. Oleh karenanya, apabila saya berbuat baik, maka tolonglah dan bantulah saya dalam kebaikan itu; tetapi apabila saya berbuat kesalahan, maka tegurlah saya. Taatlah kalian kepada saya selama saya taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian mentaati saya, apabila saya berbuat maksiat terhadap Allah dan Rasul-Nya.” (lihat Abdul Aziz Al Badri, Al Islam bainal Ulama wal Hukkam).

Pidato khalifah Abu Bakar r.a. di atas menunjukkan bahwa beliau sebagai khalifah tidak pernah menganggap dirinya sebagai orang yang suci yang harus diagung-agungkan. Tak ada dalam kamus beliau: The chaliphate can do no wrong! Beliau justru mengedepankan supremasi hukum syariah, dan menjadikan loyalitas dan ketaatan warga negara kepadanya merupakan satu paket dalam ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya. Beliau menjadikan syariah Allah sebagai standar untuk menentukan benar dan salah yang harus diikuti tidak hanya oleh rakyat, tapi juga oleh penguasa. Apa yang beliau nyatakan di atas jelas merupakan pengejawantahan dari pemahaman beliau terhadap firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Qs. an-Nisaa’ [4]: 59).

Juga merupakan refleksi dari pemahaman beliau kepada hadits Rasulullah Saw:

Tidak ada ketaatan kepada seseorang dalam bermaksiat kepada Allah, dan tidak ada ketaatan kepada orang yang maksiat kepada siapa saja yang berbuat maksiat.” [HR. Ahmad, Hakiem, dan Abu Dawud].

Lembut Tapi Tegas
Sejak sebelum Islam Abu Bakar r.a. terkenal sebagai orang yang baik, lembut hatinya, gemar menolong dan suka memberi maaf. Dan setelah Islam dan berkuasa sebagai khalifah pengganti Rasul dalam kepemimpinan negara dan umat, tentunya tidak diragukan lagi bahwa Abu Bakar r.a. adalah orang yang betul-betul memahami sabda Rasulullah Saw:

Ya Allah, siapa saja yang diberi tanggung jawab memimpin urusan pemerintahan umatku dan menimbulkan kesulitan bagi mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa saja yang memerintah umatku dengan sikap lembut (bersahabat) kepada mereka, maka lembutlah kepadanya.” [HR. Muslim].

Namun sebagai Khalifah, beliau wajib memerintah dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul, dan wajib menjaga agar supremasi hukum syariah tetap terjaga. Oleh karena itu, dalam rangka mempertahankan kedaulatan hukum syariah, tidak segan-segan beliau mengambil tindakan tegas bagi siapa saja yang hendak merobohkannya. Ini seperti yang beliau lakukan kepada sebagian kaum muslimin yang murtad dan tidak mau membayar zakat begitu mendengar berita wafatnya Rasulullah Saw. Sekalipun para sahabat yang diminta pendapatnya masih mentolerir tindakan orang-orang yang tak mau membayar zakat itu selama mereka masih sholat, namun Khalifah Abu Bakar tetap dalam pendiriannya. Di hadapan kaum muslimin beliau berpidato: “Wahai kaum muslimin, ketahuilah ketika Allah mengutus Muhammad, kebenaran itu (Al Islam) selalu diremehkan orang dan Islam dimusuhi sehingga banyak orang yang enggan masuk Islam karena takut disiksa. Namun Allah kemudian menolongnya sehingga seluruh bangsa Arab dapat disatukan di bawah naungannya. Demi Allah, aku akan tegakkan agama ini dan aku akan berjuang fi sabilillah sampai Allah memberikan kemenangan atau Allah akan memberikan surga bagi orang yang terbunuh di jalan Allah dan akan memberi kejayaan bagi orang yang mendapatkan kemenangan sehingga dia akan dapat menjadi hamba yang berbakti dengan aman sentausa. Demi Allah, jika mereka tidak mau membayar zakat, walaupun hanya seutas tali, pasti akan aku perangi walaupun jumlah mereka banyak sampai aku terbunuh, karena Allah tidak memisahkan kewajiban zakat dari kewajiban sholat.” (lihat Al Kandahlawy, Hayatus Shahabat, juga Kanzul Ummal).

Khatimah
Demikian sekelumit sosok kepemimpinan Abu Bakar yang lembut tapi tegas dalam penegakan supremasi hukum syariah. Kapankah segera datang masanya pemimpin seperti Abu Bakar sahabat Rasulullah ini? Walllahua’lam! [Hizbut Tahrir Online]

http://www.hayatulislam.net/hayatulislam-net83.php

Leadership vs Moralitas

Di aula pertemuan di salah satu Perguruan ternama di IRAN terjadi dialog antara mahasiswa dengan latar belakang yang beraneka ragam, dengan nara sumbernya seorang yang selama ini menjadi sorotan media dunia terkait keberaniannya dalam menentang agresi militer USA ke IRAK dan negara-negera teluk lainnya,seorang yang menjadi primadona masyarakatnya karena kesederhaannya. Dia adalah seorang dengan penampilan sederhana tapi punya kewibawaan yang sampai menggetarkan “gedung putih”.

Dalam acara itu terjadi dialog menarik terkait pertanyaan salah satu peserta yang menanyakan ke “Mahmoud Ahmadinejad” terkait mengapa dia bisa menjadi seorang presiden karena jika dilihat dari luar dia tidak punya “tampang seorang pemimpin”. Bagaimana mau memimpin Negara jika tampang saja tidak menyakinkan untuk menjadi Presiden, mungkin ini keraguan yang ada di hati mahasisiwa yang menanyakan tadi,tersentak dan kaget dengan pertanyaan tadi,dengan karakter aslinya “tenang dan tegas’ dia mengatakan benar bahwa dia tidak punya tampang seperti seorang pemimpin tapi dia punya tampang sebagai seorang pelaya. Singkat dan berkarakter apa yang di katakan seorang mantan walikota itu,ada kandungan makna yang luas terkait konsep pemahaman pemimpin. Mahmaud Ahmadinejad menyampaikan bahwa pemimpin dipilih untuk melayani masyarakatnya bukan untuk di layani sebagaimana yang kita lihat sekarang.

Kisah ini dapat kita telaah untuk pembelajaran dalam membentuk jiwa kepemimpinan terlepas dengan perdebatan terkait paham di Negara Iran “syiah” (paham yang di banyak Negara dilarang keberadaannya). Dengan melihat gaya kepemimpin seorang “Mahmoud ahmadinejad” kita akan membandingkan dengan kondisi kebangsaan kita,terkait dengan beberapa perkembangan isu beberapa pekan ini.Bentrok Antara Front Pembela Islam (FPI) dengan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB).

Peristiwa ini menarik di kaji karena kedua gerakan ini mayoritas berbasis gerakan keagamaan, bisa dikatakan bahwa mereka adalah gerakan yang berbasis moral. Fakta di lapangan (peristiwa bentrok di Monas Jakarta, Minggu 1/6) menunjukan mereka tidak bermoral di tengah negara yang punya aturan negara hukum) terkait benar salahnya alasan mereka melakukan kegiatan itu,bagaimanapun kekerasan tidak bisa dibenarkan untuk dipakai menyelesaikan perkara tersebut, apalagi kedua gerakan itu berdasarkan agama “moral”, karena masih ada berbagai sarana penyelesaiannya diluar kekerasan misalnya bisa melalui dialog secara objektif. Ini kemudian menjadikan moral dan kepemimpinan saling bertentangan karena di dalam bentrokan itu dapat di lihat beberapa pemimpinya yang ikut atau kedua belah pihak berlatar belakang gerakan keagamaan yang mengklaim saling membenarkan gerakannya.

Dua contoh peristiwa di atas akan membuka pikiran kita terkait kepemimpinan dan moralitas. Apakah keduanya dapat disatukan dalam sebuah karakter individu atau gerakan atau malah bertentangan yang tidak dapat disatukan lagi. Penulis mencoba mengurai topik ini menjadi sebuah usulan ilmiah untuk perubahan masyarakat yang lebih berkarakter khususnya Indonesia.

Dalam beberapa teori kepemimpinan dijelaskan bagaimana seorang individu (pemimipin) harus mengelola gerakan atau organisasi agar mampu produktif atau bersaing dengan gerakan yang lain. Pemilihan tipe kepemimpinan itu kemudian akan berpengaruh pada pembawaan dalam mengarahkan gerakannya. Dalam kenyataan di lapangan individu (pemimpin) kemudian terbentur dengan permasalahan yang beraneka ragam. Akibatnya gerakan ini mulai mempunyai arah kepentingan yang berbeda dan mulai dimasuki kepentingan-kepentingan pribadi, apabila kita bandingkan dengan beberapa perjalanan pemimpin besar bangsa ini yang pada titik akhir kekuasaan ia menjadi permasalahan bagi masyarakatnya karena keinginan untuk berkuasa terus atau nafsu berkuasannya terus meningkat seiring meningkatnya umur, seharusnya terbalik. Hal ini dapat dilihat dari beberapa Presiden yang meminpin bangsa diantaranya presiden pertama RI Bapak Ir. Soekarno dan Bapak Soeharto,kedua bentuk kepemimpinan yang pada masa awalnya menjadi sebuah harapan baru bagi bangsa Indonesia sampai kemudian di berikan gelar sebagai “bapak proklamasi dan bapak pembangunan”.Sebuah gelar yang diberikan sebagai bentuk penghormatan bangsa ini kepada para pemimpin yang telah memberikan hal terbaik untuk Negara Indonesia. Kepercayan tinggi yang diberikan masyarakat ternyata menjadi sebuah keinginan besar mereka untuk terus mengeloa Negara (Presiden) akibatnya terjadi penurunan tingkat kepercayan masyarakat dan akibatnya masyarakat sendiri yang menurunkan mereka dengan berbagai misteri yang sampai saat ini belum terselesaikan.

Mayoritas para pemimpin di awal kepemimpinannya mendapatkan dukungan yang sangat tinggi dari orang-orang di sekitarnya,prestasi-prestasi besar mulai muncul dari seorang pemimpin seperti.Tapi hal ini kemudian berdampak pada jiwa pemimpin yang mulai “sombong/gila jabatan” dengan dukungan dan penghargaan di sekitarnya. Akhir dari babak ini adalah pemimpin akan mengalami kejatuhan (terpuruk) dengan hasil akhir yang buruk. Ketika kita melihat pemimpin yang salah satu sisi ketika kepemimpin itu berdiri di atas nafsu (keinginan-keinginan) tanpa adanya sebuah batasan tata susila atau aturan moral di dalamnya.Berkaca dari kepemimpinan para raja-raja zaman dahulu,sebagaimana mereka mayoritas menginginkan untuk melebarkan sayap penguasaan wilayah teritorialnya atau mengekspansi daerah lain untuk di taklukan.bisa di simpulkan sementara bahwa pemisahan leadership dengan moralitas( tata laku pergaulan) akan berakibat pada timbulnya dampak negatife kepemimpinan pada masa itu.

Memimpin adalah sebuah seni dan kepemimpinan adalah sebuah karakter yang harus ada bagi orang-orang yang akan menjadi pemimpin. Menggabungkan antara leadership dengan moralitas akan bermanfaatan bagi masyarakat (orang yang di bawahnya). Moralitas adalah akhlaq,apabila dilihat dari sudut pandang dari agama,akhlaq adalah kebiasaan. kita ambil garis merahnya bahwa moralitas adalah batasan berbuat baik dan benar (ketentuan). Sebagaimana contoh seorang pemimpin IRAN,sebuah penggabungan antara dua aspek tersebut. Ada sebuah kekuatan dari dalam dirinya untuk memberikan aturan-aturan,contohnya adalah ketika seorang pemimpin akan melakukan korupsi terhadap dana di perusahaannya maka dalam hatinya akan timbul sebuah dorongan untuk menolaknya karena dia sadar itu bukan haknya dan akan berefek pada orang lain akan kena dampak karena perbuatannya. Dorongan ini bisa timbul secara otomatis atau harus dipaksa dahulu, tergantunng dari kondisi moral orang tersebut. Kita masih ingat bagaimana seorang auditor BPK “khoiriansyah” menolak mendapatkan dana suap dari kerjanya dan ia melaporkan terkait praktek suap menyuap dan korupsi di BPK. Ada sebuah dorongan untuk berbuat baik dan bersiap menerima resiko dari dampak perbuatannya. Pemimpin seperti inilah yang akan menjadi pengubah bagi kondisi bangsa ini pemimpin yang mempunyai moralitas.

Hal yang perlu diperhatikan dalam menggabungkan antara moralitas dan leadership agar dapat memberikan perubahan bagi organisasi atau gerakan. Pemimpin harus memberikan contoh terlebih dahulu (bagaima tipe pemimpin yang mampu menyatukan moraliats dan leadership) hal ini akan membantu orang-orang sekitar untuk mencontoh. Tapi juga perlu diingat bahwa selain mempunyai moral tidak kalah penting bahwa harus ada kompetensi dalam memimpin. Karena permasalahan di sekitar tidak selesai hanya dengan sebuah moral saja tetapai harus ada kemampuan dalam mengelola sebuah amanah (kepemimpinan). Banyak kondisi yang menghalangi beberapa pemimpin untuk berubah karena terbenturkan dengan kondisi di lapangan dimana tidak ada dukungan yang maksimal dari dibenci karena sering memberi pandangan berbeda dengan kebiasaan yang selama ini dilakukan organisasi tersebut atau orang-orang lama (senior) merasa didahului dengan sikap yang merasa benar (anggapan mereka). Maka bagi para pemimpin harus sudah siap-siap sejak awal untuk meningkatkan karakter penanggulangan masalah yang akan timbul.

oleh: Dani Setiawan; Ketua PUSKOMNAS FSLDK 2007-2009
http://www.fsldkn.org/ke-ummat-an/leadership-vs-moralitas.html

Kepemimpinan Khalifah Ustman Bin Affan r.a.

Amanah Jabatan under : Leadership

Ketika Khalifah Utsman bin Affan mengutus kurir ke negeri tetangga untuk menjalin hubungan persahabatan, Umi Kaltsum, istrinya, menitipkan bingkisan minyak wangi untuk istri raja negeri itu. Pulangnya, si kurir ganti membawa titipan bingkisan balasan dari istri raja berupa mutiara. Melihat kiriman tersebut, Utsman yang terkenal karena kedermawanan dan katakwaannya itu langsung menyitanya dan menyimpannya sebagai kas baitul mal.

”Kalau kau bukan istri khalifah, engkau tidak mungkin akan mendapatkan bingkisan ini,” kata khalifah kepada istri yang dicintainya itu. Umi Kaltsum bersikeras, bingkisan itu adalah hadiah balasan pribadi dari istri raja. Utsman membenarkan, tapi pengirimnya menggunakan fasilitas khilafah. Langkah itu, menurut Utsman, adalah ilegal, bisa menimbulkan preseden buruk, serta merupakan contoh yang tidak bagus bagi pejabat lain.

Utsman yang menjabat sebagai khalifah lebih memilih menjaga ketakwaan diri dan istrinya daripada menukarnya dengan bingkisan duniawi yang tidak seberapa. Karena bagi dia, pada dasarnya jabatan yang diembannya adalah amanat dari Allah, yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.Tentang menjaga takwa ini, Rasulullah SAW mengingatkan, ”Seseorang tidak akan sampai pada tingkatan takwa sebelum rela meninggalkan hal-hal yang sepertinya tidak apa-apa, tetapi dapat menimbulkan apa-apa.”

Agar tidak teperdaya oleh fasilitas jabatan dan tidak tertipu oleh syetan lewat cobaan duniawi, Allah SWT menuntun hamba-Nya agar hidup qana’ah (merasa cukup) dengan harta benda yang dimilikinya. Dengan qana’ah akan tumbuh rasa syukur, dan dari rasa syukur inilah timbul sifat kedermawanan yaitu rela memberikan sebagian harta yang dimilikinya untuk disedekahkan kepada orang lain. Sebaliknya, jika tidak ada sifat itu, maka yang akan muncul adalah sifat bakhil, egois, dan kufur nikmat.

Kehati-hatian terhadap fitnah jabatan, diiringi sifat qana’ah dan syukur, dapat mengarahkan setiap keluarga mukmin terhindar dari perbuatan korupsi, menumpuk harta yang tidak jelas kedudukannya, berbuat curang, dan terjaga dari keinginan menggunakan fasilitas pemerintah untuk kepentingan pribadi. Rasulullah SAW memberi peringatan, ”Jagalah dirimu dari berbuat zalim, karena berbuat zalim akan merupakan kegelapan di hari kiamat. Dan jagalah dirimu dari sifat bakhil, karena kebakhilan itu mendorong manusia menumpahkan darah dan menghalalkan segala cara yang diharamkan Allah.” (HR Muslim). [Ahmad Zaki Arba ].

http://andimujahidin.com/leadership/amanah-jabatan#more-259

Menemukan Sosok Kepemimpinan Kenabian (Prophetic Leadership) Di Indonesia

Oleh : M. Ikhsan Subekti Direktur Study Ilmiah Mahasiswa UNS

Pahlawan Zamannya

Setiap zaman akan melahirkan pahlawannya masing-masing. Sudah menjadi sebuah suratan takdir bahwa dunia tidak akan kekurangan pahlawan, karena menjadi sebuah keniscayaan ketika dunia ini memang didesain oleh Allah SWT berpasang-pasangan. Ada kebaikan namun juga ada yang senantiasa menyebarkan keburukan, ada yang bermurah hati, ada juga yang congkaknya luar-biasa. Ada yang tua dan kemudian meninggal dan ada juga yang muda penuh dengan semangat.

Dr. Aidul Fitri menyatakan bahwa, sosok kepemimpinan seperti Bung Karno-lah yang beliau rindukan, Bung Karno yang tidak pernah mengeluh dalam menjalankan perjuangannya, jiwanya kuat dan tujuannya mulia, hasil dari tempaan kehidupan zaman revolusi yang keras. Niat yang ikhlas, membuat Bung Karno dan para pendiri bangsa ini senantiasa menghadapi berbagai persoalan dengan lapang dada. Segala keterbatasan justru dijadikan penyemangat yang membakar gelora jiwa. Karakter seperti itulah yang dirindukan untuk dimiliki para pemimpin bangsa, dimasa sekarang ini.

Kerinduan Terdalam

Anak bangsa ini merindukan sekolah yang tidak lagi beratapkan langit dan berdinding pepohonan. Anak bangsa ini merindukan lagu-lagu menyenangkan yang penuh unsur imajinasi dan edukasi, daripada lagu-lagu dewasa yang isinya bait-bait perzinahan dan pemikiran cinta yang sempit. Anak bangsa ini merindukan keluarga yang utuh. Banyak anak kehilangan bapaknya, karena bapaknya ditangkap oleh polisi akibat kejahatan perampokan, sang bapak berkata “Aku merampok untuk membeli nasi buat keluarga ku.” Bahkan ada yang kehilangan ibunya, karena sang ibu dijatuhi hukuman gantung di negeri orang. Bangsa ini seperti anak yatim piatu, tidak ada lagi orang tua yang menjaga dari bahaya yang mengancam, tidak ada lagi ayah-ibu yang bisa mendamaikan perselisihan.

Mimpi yang Membusuk

Pemimpin masa sekarang ini, sepertinya takut sekali untuk bermimpi. Jarang sekali, bahkan tidak ada lagi yang dengan gamblangnya mengajak masyarakat Indonesia untuk pergi menembus 50 tahun atau 100 tahun masa depan Indonesia. Rakyat sudah tidak punya harapan, dibiarkan mati dengan kepedihan. Pemimpin menjadi sangat rasionalis dan pragmatis, mereka berpikir pencalonan mereka adalah mandat 20 persen pemilihan legislatif. Mereka berpikir mandat 20 persen itulah tiket perjuangan mereka. Jauh dilubuk hati, rakyat ini rindu dibawa pergi melihat keadaan mereka 50 sampai 100 tahun yang akan datang, sebuah kerinduan yang belum dapat terjawab karena para pemimpin sedang khusyuk menanti tiket 20 persen itu.

Membiaskan Opini

Opini publik di zaman ini tidak ubahnya seperti rombongan bebek yang berbaris, mengukuti arahan pecut sang peternak bebek. Kenyataan yang menyedihkan ini semakin dijadikan dagangan oleh oknum-oknum yang gemar membuat survey politik. Mendukung sebuah tesis dari  Michel Foucault (1980) bahwa studi ilmiah merupakan kekuasaan pemaksaan pandangannya kepada publik tanpa memberi kesan berasal dari pihak tertentu. Opini publik diarahkan oleh visi-visi semu yang tidak jelas platformnya, disampaikan dengan bungkus yang menarik, didalam iklan-iklan berbudget milyaran rupiah dan spanduk-spanduk narsis para calon pemimpin.

Menelusuri Jalan Kebijaksanaan

Negeri ini butuh pemimpin yang dapat menentramkan hati, meneduhkan panasnya problema kehidupan dan kuat bertahan seperti batukarang. Menjadi terdepan dalam berbuat kebaikan. Pemimpin dengan karakter yang mampu menggabungkan berbagai karakter kepemimpinan dunia. Kita mengenal tipe kepemimpinan partisipatif, pemimpin yang mampu mengkonsolidasikan kekuatannya ke berbagai wilayah kekuasaan yang dipimpinnya, pemimpin tipe ini sangat menjunjung nilai demokrasi dan dalam memutuskan sebuah kebijakan tertentu, dia tekun mengakomodir kepentingan masyarakatnya, sehingga keputusannya jarang mendapat tekanan, namun apakah karakter ini cukup untuk memimpin Indonesia? Tentunya belum cukup. Kita saksikan sendiri, pemimpin yang hanya pandai mengkonsolidasikan kekuatannya dapat berakhir tanpa kemajuan yang berarti, karena dia tidak mempunyai visi yang jelas, kepemimpinannya seperti orang linglung yang jauh dari sikap tegas, kadang menuju tempat A, kadang pula menuju tempat B. Model kepemimpinan berikutnya, adalah kepemimpinan kharismatik. Dia diberikan oleh Allah, sebuah aura kebijaksanaan yang terpancar menyilaukan siapa pun orang yang melihatnya, kata-katanya seolah-olah menjadi penyambung pesan kesengsaraan rakyat. Rakyat patuh oleh kata-katanya. Kepemimpinannya digerakkan oleh visi yang digerakkan oleh basirah yang luar biasa, terkadang menembus jauh melebihi pandangan-pandangan orang awam. Pertanyaan nya, apakah model kepemimpinan ini cukup untuk membawa Indonesia keluar dari nestapa? Tentu kita mengetahui, model kepemimpinan ini belum cukup. Kita mengetahui dari sejarah bahwa pemimpin dengan kharisma yang luar biasa, seringkali akhirnya terjebak dengan kesombongan yang dihembuskan setan, dia menjadi diktator dan mulai memimpin sesuai dengan kehendak hatinya, basirah nya telah tertutup oleh kotoran yang dilemparkan setan kedalam hatinya yang dahulu bersih dan bersinar. Bagaimana dengan ciri kepemimpinan yang sekarang menjadi ikon peradaban modern? Yaitu kepemimpinan transformasional. Pemimpin dengan karakter ini mampu menjadi anasir-anasir perubahan dan sumber inspirasi bagi para pengikutnya. Kepeduliannya sangat tinggi, sehingga sekat-sekat pemimpin dan bawahan dapat hilang tergerus oleh pekertinya yang luhur. Apakah model ini yang mampu membawa Indonesia bankit? Kita yakin, belum cukup mampu.

Jejak-jejak Pemimpin Besar

Suatu saat Michael H Hart berkeinginan untuk menulis sebuah buku tentang tokoh-tokoh yang paling berpengaruh didalam sejarah peradaban dunia ini. Ketika dia memulai melakukan listing, mengurutkan siapakan tokoh yang pantas menempati peringkat yang pertama didalam bukunya, hatinya nya menjadi penuh gundah dan keraguan. Hasil penelitiannya ternyata mengarahkannya pada sosok yang akan membuat dunia barat geram dan bertanya luar biasa. Sosok itu jatuh kepada seseorang yang bahkan membaca dan menulis saja tidak bisa. Micharl H Hart memberikan peringkat pertama, orang-orang berpengaruh di dunia ini kepada Nabi Muhammad SAW. Ketidakmampuannya membaca dan menulis adalah hikmah yang menguatkan pesan yang dibawanya untuk manusia dan keseluruhan alam. Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin yang lengkap. Dia mampu melakukan transformasi luar biasa, masyarakat arab yang semulanya jahiliyah menjadi sangat modern dan menjadi sumber pengembangan ilmu pengetahuan. Dia juga mampu mengkonsolidasikan kekuatannya dengan sangat efektif dan efisien, pengikutnya merasa sangat terakomodir kepentingannya, tanpa menghilangkan ketegasan Beliau. Kharisma Beliau bukan saja membuat terpana para manusia, namun malaikat, jin dan bahkan iblis sangat menghormati Beliau. Kita mengerti bahwa kepemimpinan Beliau tidak mungkin lagi terulang, namun kemanusiaan beliau yang jauh dari kerumitan, membuktikan bahwa tipe kepemimpinan seperti Beliau, dapat dipelajari oleh para pemimpin di zaman sekarang ini.

Prophetic Leadership

Indonesia membutuhkan pemimpin yang bertipe kepemimpinan kenabian. Pemimpin yang dicintai oleh Allah SWT, pasti akan di bukakan segala pintu jalan keluar. Maka penting bagi kita sebagai anak bangsa untuk membuka kembali lembaran sejarah Nabi Muhammad SAW, untuk belajar dari Beliau, cara memimpin yang baik. Harapan akan datangnya pemimpin yang hebat, berada ditangan anak-anak muda yang mempelajari sirah Nabi dan dekat dengan

http://sim.ormawa.uns.ac.id/2009/03/07/menemukan-sosok-kepemimpinan-kenabian-prophetic-leadership-di-indonesia/

Good Leadership vs BLeadership

Beberapa rekan saya mendapat julukan “Pemimpin yang baik” namun beberapa lagi mendapat julukan “Pemimpin yang buruk” apakah ini berarti pemimpin yang baik adalah pemimpin yang sukses membawa perusahaannya menjadi besar? Kenyataannya tidak selalu begitu, bahkan orang-orang yang “keras” gaya kepemimpinannya sehingga sering mendapat julukan “pemimpin yang buruk” justru sering membawa perusahaan menjadi sukses

Apakah Pemimpin yang baik selalu harus “democratic” dan apakah kepemimpinan yang “Authocratic” selalu dicap sebagai Pemimpin yang buruk? Apa hubungan antara “Gaya kepemimpinan” dengan baik atau buruknya suatu kepemimpinan?

BAGAIMANA SEBAIKNYA ANDA MENERAPKAN GAYA KEPEMIMPINAN PADA ANAH BUAH SEHARI-HARI?  APAKAH “JULUKAN” ANDA ?

CHECK OUT BEBERAPA HAL DIBAWAH INI:

1.      APA TUGAS-TUGAS YANG HARUS DIKERJAKAN TIM ANDA ?
Setiap tugas atau pekerjaan harus diidentifikasi atau dijelaskan dengan baik, apa saja yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya dengan benar juga harus diantisipasi kesulitan apa yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan tugas serta apa yang harus dilakukan bilamana kesulitan atau hambatan benar-benar terjadi. Demikian juga keterampilan, pengetahuan, wawasan dan alat-alat yang dibutuhkan untuk seseorang melaksanakan tugas dengan baik.

2.  BAGAIMANA KEMAMPUAN DAN KESIAPAN ANAH BUAH UNTUK   MENJALANKAN TUGAS YANG DIBERIKAN?
Kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas adalah “kompetensi” nya dalam pelaksanaan tugas tersebut. Setiap tugas atau pekerjaan menuntut adanya pengetahuan dan keterampilan tertentu. Apabila pengetahuan dapat dipelajari melalui pendidikan tertentu maka skill dibutuhkan pengalaman dilapangan untuk benar-benar mengerjakan atau praktek sehingga pada akhirnya terakumulasi menjadi suatu keterampilan yang dibutuhkan.

Misalnya seorang kepala gudang yang tanggungjawabnya membawahi anakbuahnya untuk penyimpanan, pemasukan, pengeluaran dan pengiriman barang-barang perusahaan maka dia harus menguasai sistim logistic yang baik, mengenal daerah-daerah kemana barang-barang akan dikirim dan menguasai sistim transportasi/expedisi dengan baik. Disamping hal-hal tehnis maka dia juga harus memiliki kepemimpinan, mampu berkomunikasi secara pursuasif dan keterampilan manajemen lainnya.

Pengalaman seseorang yang benar-benar pernah melakukan suatu jenis pekerjaan akan sangat membantu pada pekerjaan-pekerjaan yang serupa berikutnya, dia menjadi lebih siap untuk melakukan pekerjaan tersebut dan siap pula menghadapi kemungkinan apapun yang bisa terjadi serta tahu bagaimana mengatasinya.

3.  SESUAIKAN SETIAP TUGAS DENGAN TINGKAT KESIAPAN ANAK  BUAH ANDA
Menyesuaikan antara tugas yang harus dikerjakan dengan tingkat kesiapan orang yang akan melakukannya adalah hal yang terpenting sekaligus tersulit karena dalam kenyataannya keadaan yang ideal dimana anda memiliki “orang yang tepat untuk suatu pekerjaan (“the right man on the right job”) sulit dipenuhi dan selalu ada kekurangan. Meskipun demikian anda dapat memilih dari opsi-opsi yang anda miliki antara beberapa anak buah dan tugas-tugas yang harus diselesaikan

Misalnya anda punya beberapa calon untuk kepala gudang, masing-masing dengan kekurangan dan kelebihannya

“A” baik pada hal-hal tehnis karena menguasai sistim logistic, tahu cara penyimpanan barang yang baik, mengenal tujuan-tujuan pengiriman dan sistim angkutan atau transportasi dan expedisi tetapi kurang memiliki “kepemimpinan dan komunikasinya”  dengan orang lain kurang

“B” sebalikya kurang menguasai hal-hal tehnis namun sangat baik dalam “kepemimpinan dan komunikasi” nya

4.  SESUAIKAN GAYA KEPEMIMPINAN ANDA DENGAN TINGKAT KESIAPAN  ORANG YANG ANDA PILIH UNTUK MELAKSANAKAN SUATU TUGAS
Setelah anda menyesuaikan pilihan orang dengan tugas maka selanjutnya anda juga harus menyesuaikan “Gaya Kepemimpinan” anda dengan orang –orang pilihan anda tersebut. Anak buah yang siap lebih cocok dengan kepemimpinan yang demokratis dan delegatif yang memberikan kebebasan mengembangkan ide dan metode pelaksanaan tugas, sementara anak buah yang kurang siap lebih membutuhkan bimbingan dan pengarahan sehingga anda harus lebih partisipatif dan directive dalam hal ini.

Bila anda memilih A dalam contoh diatas maka anda bisa lebih delegatif dalam pelaksanaan tugas secara tehnis namun partisipatif dalam setiap group meeting untuk meningkatkan kepemimpinan dan memastikan komunikasi yang merata diantara seluruh anggota tim

Bila anda memilih B dalam contoh diatas maka anda harus lebih partisipatif dalam pelaksanaan tugas-tugas secara tehnis untuk memastikan tugas-tugas dapat diselesaikan dengan baik,  namun lebih delegatif dalam setiap group meeting karena B sudah dapat mengendalikan tim dengan baik.

KESIMPULANNYA BAHKAN PADA SETIAP SITUASI TUGAS DAN ANAK BUAH ANDA BISA MENGGABUNGKAN DUA ATAU LEBIH GAYA KEPEMIMPINAN JADI JANGAN TERPAKU PADA SALAH SATU GAYA KEPEMIMPINAN SAJA !!

MESKIPUN DEMIKIAN TETAP WASPADA KARENA KARAKTER PRIBADI ANDA AKAN MEMPENGARUHI GAYA KEPEMIMPINAN ANDA !!

Good Leadership atau Bad Leadership tergantung bagaimana menggunakan Gaya Kepemimpinan anda pada situasi Tugas dan Kesiapan anak buah anda yang tepat.

http://www.indosiar.com/miracle/leadership-miracle/

Menuju Kepemimpinan Efektif

Management is to get things done through and with other people.

Kepemimpinan efektif adalah keterampilan manajerial dalam pelaksanaan pekerjaan bersama atau melalui orang lain.

Seorang pemimpin diharapkan memiliki kecakapan teknis maupun manajerial yang profesional. Kecakapan teknis sesuai dengan bidangnya sedang kecakapan manajerial menuntut perannya dalam memimpin orang lain. Keterampilan tersebut terpancar dalam tindakannya seperti menyeleksi, mendidik, memotivasi, mengembangkan sampai memutuskan hubungan kerja.

GAYA KEPEMIMPINAN SEGALA SITUASI

Peranan seorang pemimpin dalam hubungan antar manusia dalam bekerja sangat terkait dengan gaya kepemimpinan yang ditampilkannya.

Seorang pemimpin diharapkan dapat menampilkan gaya kepemimpinan segala situasi tergantung kondisi dan situasi serta kepada bawahan yang mana. Seorang pemimpin yang hanya menampilkan satu macam gaya saja akan kurang efektif. Selain itu diharapkan seorang pemimpin tampil sebagai pemberi ilham dalam masa-masa sulit, sehingga terpancar rasa keyakinan akan atasannya dalam diri para bawahannya.

Kepemimpinan dan penyesuaian terhadap perubahan merupakan tantangan terbesar masa kini bagi para eksekutif. Menjadi seorang pemimpin yang sukses dan yang dapat memotivasi bawahannya merupakan sasaran kursus ini. Kuliah dikombinasikan dengan film, kuesioner, studi kasus, dan latihan-latihan.

Dengan mengikuti semua kegiatan ini Anda dapat mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan diri Anda, serta bagaimana menyusun penyempurnaan penampilan Anda sendiri.

TUJUAN
*Memperjelas sasaran kerja seorang manajer
*Mengenali lingkup wewenang dan kekuatan serta kelemahan diri sebagai pemimpin untuk pengembangan lebih lanjut
*Melatih peserta dengan keterampilan kepemimpinan untuk memperoleh anak buah yang tepat atau menjadikan anak buah tepat pada jabatannya, serta memberikan motivasi kepada anak buah
*Melatih peserta dalam melaksanakan pembinaan bawahan sesuai perkembangan yang bersangkutan dan kebutuhan organisasi
*Melatih peserta dalam memelihara bawahan agar tetap bertahan pada perusahaan untuk jangka waktu yang panjang
*Memberi dorongan dalam menerapkan prinsip-prinsip dan konsep-konsep modern dari Kepemimpinan Segala Situasi serta mengetahui kemampuan diri sehubungan dengan konsep tersebut

PESERTA
*Para manajer madya
*Mereka yang harus atau akan melakukan fungsi pimpinan
*Mereka yang memiliki jumlah anak buah melebihi 30 orang

CAKUPAN PENDIDIKAN
* Kaitan manajemen dengan kepemimpinan
* Penggunaan wewenang dan pengaruh yang harus dimiliki
* Teknik komunikasi efektif ke atas, ke bawah dan ke samping
* Teknik seleksi, wawancara, memberi latihan dan menempatkan dalam bidang yang sesuai
* Bagaimana mengarahkan, memotivasi, mengontrol, mengoreksi dan membantu serta mengembangkan bawahan
* Bagaimana memelihara bawahan agar berdedikasi tinggi dengan menampilkan diri sebagai pimpinan terutama dalam pengambilan keputusan dan pemberi ilham di masa sulit
* Bagaimana bersikap terhadap pengunduran diri anak buah yang berprestasi
* Bagaimana mempertimbangkan serta melakukan pemutusan hubungan kerja

http://www.pmbs.ac.id/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=120&mode=thread&order=0&thold=0

‘BMT Sebaiknya Tetap Berbadan Hukum Koperasi’

JAKARTA — Baitulmal wattamwil (BMT) dinilai lebih baik tetap berbadan hukum koperasi. Sehingga, lembaga keuangan mikro syariah (LKMS) hanya diperbolehkan menghimpun dana pihak ketiga (DPK) dari anggota saja. Hal tersebut berbeda dengan kondisi BMT saat ini di mana mereka menghimpun juga dana dari nonanggota. ”Lebih baik tetap seperti koperasi saja. Saya kira belum tepat BMT menjalankan fungsi perbankan,” kata anggota komisi XI DPR, Dradjad H Wibowo kepada Republika, Selasa, (1/8). Ia berpendapat BMT tidak dapat menjalankan fungsi perbankan karena akan menyulitkan pengawasan. Saat ini sekitar 3.200 BMT di Indonesia. Dengan jumlah sebanyak itu, fugnsi pengawasan akan lebih kompleks. Hal serupa terjadi di Bank Perkreditan Rakyat baik konvensional maupun syariah. Padahal, tambahnya, BPR memiliki struktur permodalan dan manajemen lebih mapan daripada BMT atau koperasi. ”Potensi penyelewenangan dan moral hazard-nya lumayan besar. Disamping melanggar UU Perbankan,” katanya. Bila terjadi penyelewengan, kata Dradjad, maka hal tersebut akan dapat berdampak pada citra perbankan syariah. Pasalnya, tidak ada perbedaan yang jelas antara perbankan syariah dan BMT. ”Sangat mungkin terjadi ketika BMT menghimpun DPK lalu dianggap bank syariah dan menyelewengkannya. Yang rusak kan bank syariah,” katanya. Meskipun demikian, Dradjad mengapresiasi BMT dalam membantu kelompok masyarakat yang unbankable. Namun, kata dia, bila menjalankan kedua fungsi koperasi dan perbankan, aplikasinya di lapangan amat sulit. ”Sebagai akademisi, saya setuju dengan konsep BMT. Tapi, ketika maju ke pelaksanaan, BMT sangat sulit diterapkan. Nantinya yang dirugikan juga masyarakat,” katanya. Terkait RUU LKM, Dradjad menyebutkan, hingga kini, RUU tersebut belum masuk dalam rencana pembahasan komisi XI. Menurut dia, RUU dibuat berdasarkan usulan DPD tersebut kemungkinan masih di Badan Legislatif (Baleg) atau Bamus DPR. ”Hingga kini, belum ada pembahasan mengenai RUU tersebut,” katanya. Dradjad menambahkan, bila BMT tetap ingin menghimpun dana pihak ketiga, ia menyarankan BMT naik status menjadi BPRS. Caranya dengan menggabungkan sejumlah BMT. Dengan demikian, BPRS tersebut masuk dalam kerangka pengawasan Bank Indonesia (BI) sehingga prinsip kehati-hatian tetap terjaga. Menanggapi hal ini, Sekjen Asosiasi BMT Se-Indonesia (Absindo), Andi Estetiono mengaku memahami kendala pengawasan terhadap BMT. Namun, adanya kendala tidak berarti harus meniadakan BMT mengingat fungsinya yang vital. Sebagian besar penduduk Indonesia bekerja di sektor mikro. ”Kita semua harus mengupayakan karena 90 persen masyarakat kita ada di situ,” kata pria yang juga ketua pengurus BMT Berkah Madani Depok ini. Andi menyebutkan, kehadiran BMT di desa efektif membantu perkembangan ekonomi mikro dan kecil. BMT bisa mengurangi fungsi rentenir yang menjerat masyarakat. Oleh sebab itu, Andi berharap keberpihakan Komisi XI. Salah satunya dengan merumuskan merumuskan mekanisme pengawasan bagi BMT dan LKM dalam RUU LKM. Ia meminta komisi XI untuk memasukkan pasal mengenai pembentukan lembaga pengawas independen bagi BMT dan LKM. Sehingga, kata dia, kemunginan adanya penyalahgunaan LKM dapat dicegah melalui pengawasan tersebut. Terkait badan hukum, Andi menyatakan Absindo sejak semula menyetujui keharusan bagi BMT untuk berbadan hukum koperasi. Itu, lanjutnya, bisa tetap dilakukan sembari menanti lahirnya RUU LKM. ”Saya kira kita harus tetap punya badan hukum karena kita negara hukum,” katanya. Andi juga mengaku sepakat agar penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) oleh BMT hanya dilakukan dari anggota. Meskipun, ia mengakui adanya sejumlah BMT yang menerima simpanan nonanggota. Fakta Angka 3.200 Jumlah BMT aktif di Indonesia sehingga menyulitkan pengawasan. (aru)

http://www.smecda.com/deputi7/BERITA%20KUKM%202006/REPUBLIKA_02082006.pdf

Software BMT Free Download…!

Wagub Sumut Lakukan Panen Perdana dan Resmikan BMT Syariah di Lokasi Prima Tani Siparepare,Batu Bara

Ditulis oleh BPTP Sumatera Utara Monday, 23 February 2009

Prima Tani Desa Sipare-pare, kabupaten Batu Bara sudah dimulai sejak tahun 2005 dengan komoditas unggulan padi sawah, kakao dan ternak. Dalam perkembangannya telah banyak inovasi teknologi pertanian diperkenalkan dan dikembangkan oleh masyarakat. Pada hari Sabtu tanggal 21 Februari Wakil Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho, ST yang didampingi oleh Bupati kabupaten Batu Bara O.K. Arya SH, MM, Kadis Pertanian Sumatera Utara Ir. Ardhi Kusno dan Kadis Pertanian kabupaten Batu Bara Ir. Budi Sanjaya serta Kepala BPTP Sumatera Utara Dr. Prama Yufdy, telah melakukan panen perdana padi sawah varietas Mekongga. Hasil ubinan yang dipanen Wakil Gubernur dan rombongan adalah 9.2 ton/ha GKP.

Pada kesempatan yang sama Wakil Gubernur Sumatera Utara juga berkesempatan meresmikan beroperasinya 5 buah BMT yang merupakan pengembangan dari BMT Mandiri Sipare-pare yang telah berdiri sejak 2007. Kelima BMT tersebut adalah (1) BMT Mandiri Barokah, Indrapura, Kecamatan Air Putih, (2) BMT Mandiri Amanah, Pasar Lapan, Kecamatan Air Putih, (3) BMT Mandiri Umah, Kebun Kopi, Kecamatan Sei Suka, (4) BMT Mandiri Amanah Iwil, Tanjung Gading, Kecamatan Sei Suka, (5) BMT Mandiri Batuah Desa Medang, Kecamatan Medang Deras. Pengembangan kelima BMT ini dilakukan bekerjasama dengan Bank Muamalat dan PINBUK Sumatera Utara.

BMT Mandiri Sipare-pare pada awalnya berbentuk Tabungan Masyarakat Mandiri (TMM) yang kemudian berkembang menjadi Baitul Mal Watamwil (BMT). Lembaga ini menghimpun dana dari masyarakat, untuk masyarakat dan oleh masyarakat. Dana dipungut dari anggota BMT setiap hari sebesar Rp.1.000. Pengumpulan uang Rp.1.000 perhari dari anggota dilakukan oleh 5 orang petugas. Pada awalnya (Juni 2007) I dana yang terhimpun berjumlah Rp 33,9 juta. Dan sudah didistribusikan ke 87 orang petani/masyarakat dengan anggota mencapai 320 orang. Jumlah pinjaman berkisar antara Rp.200.000 – Rp.350.000 per orang. Saat ini jumlah anggota telah mencapai 360 orang dengan tabungan sebesar Rp.230.000.000 dan pada awal Februari 2009 yang lalu telah dibagikan SHU sebesar Rp 37.000.000 kepada anggota.

Software BMT Free Download…!